Kesaksian Burung Hantu

Mei 23, 2007 at 11:10 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Republika, Minggu 18 Mei 1997

HUTAN itu sepi. Tak seperti malam-malam biasanya, di tepi hutan biasanya berlalu lalang orang-orang bersepeda motor, mobil ataupun bus malam. Hanya burung Hantu yana ada. Matanya bulat menelanjangi malam. Satu helai daun jatuh terkulai di tanah basah, karena gerimis senja tadi.

Dari kegelapan berjalan perempuan hamil. Ia bertelanjang kaki. Tangan kanan sesekali memegang perutnya. Wajahnya pucat. Dahinya berlipat-lipat. Perempuan itu juga sering mengkerutkan keningnya. Ia terus melangkah, tanpa tahu arah tujuan. Ia tak sadar seekor burung Hantu tengah memperhatikan dirinya, mengikutinya.

“Ke mana langkah perempuan itu,” gumam burung Hantu.

Perempuan itu terus berjalan. Dan burung Hantu itu terus mengikutinya.

Perempuan itu mulai lunglai. Makin lama jalannya makin lambat. Akhirnya berhenti karena lelah. Burung Hantupun ikut berhenti. Perempuan itu terkulai di tanah. Burung Hantu panik. Ingin ia menolongnya. Tapi tak bisa. Perempuan itu tampak menahan sakit. Tak satupun orang lewat di jalan itu. Hingga tak ada yang bisa menolongnya.

Dari tubuh perempuan itu keluar manusia kecil.

“Sebuah kelahiran,” gumam burung Hantu.

Angin berhembus.

“Mengapa ia melahirkan di jalan? Bukan di rumah atau tempat lain yang layak?,” burung Hantu itu bertanya-tanya. Manusia kecil yang lahir dari tubuh perempuan itu tak satu, tapi dua. Ia melahirkan anak kembar. Tanpa bantuan dukun atau bidan.

“Selesai sudah tugasku melahirkan.”

Perempuaan itu tampak terenga-engah. Malam sepi. Langit sepi.

“Hati-hati hidup di dunia, Nak.” Suaranaya gemetar, melemah dan lenyap.

Burung Hantu gelisah melihat perempuan itu tergeletak di samping kedua manusia kecil.

“Siapa yang akan merawat kedua manusia kecil itu. Selamatkah mereka kelak?”’

Sejumlah pertanyaan mengusik burung Hantu.

Burung Hantu itu tak mau beranjak, tetap hinggap di ranting pohon Randu sambil mengawasi kedua manusia kecil yang menangis makin keras di sisi jasad ibunya. Ia berharap ada manusia lewat, dan akan menolong anak-anak manusia yang malang itu.

Entah untuk keberapa kalinya, burung Hantu itu menatap perempuan yang tergeletak di tanah, di tepi hutan yang sunyi, di bawah pohon randu yang ia hinggapi. Tangis kedua bayi itupun makin keras, memecah kesunyian.

Tiba-tiba mata burung Hantu bersinar, ketika dilihatnya dari kejauhan sesosok manusia berjalan ke arahnya. Tapi kegembiraannya berubah menjadi kekecewaan, ketika manusia itu berbelok ke arah lain. Ini terjadi sampai beberapa kali, sampai ia nyaris putus asa.

“Jalan ini tak biasa dilewati orang,” keluhnya.

Burung Hantu itu tak berani berharap, ketika untuk kelima kalinya ia melihat sosok manusia di kejauhan berjalan ke arahnya. Ia sudah menyangka kalau manusia itu akan berbelok ke arah lain.

“Tak mungkin manusia itu ke sini, apalagi memungut kedua bayi ini.”

Gumpalan bening meleleh dari mata burung Hantu itu.

“Malang benar nasibmu,” keluhnya.

Tapi, manusia – seorang lelaki – yang ia ragukan itu justru terus berjalan lurus ke arahnya. Kegembiraan hampir meledakkan tubuhnya ketika melihat lelaki itu berhenti demi mendengar tangis kedua bayi itu. Lalu menghampiri perempuan dan kedua bayi itu.

“Laksma!” laki-laki itu berteriak, seperti terkejut.

“Ia mati,” kata burung Hantu.

Lelaki itu tak mendengarnya, kalaupun mendengar lelaki itu tidak tahu maksud burung Hantu.

Lelaki itu meraba nadi perempuan yang ia panggil Laksma. Lalu menyapukan pandangannya berkeliling, seperti hendak meminta pertolongan. Tetapi, begitu tak dilihatnya seorangpun di sana, ia cepat-cepat melepas kain sarungnya dan dibentangkan di atas tanah. Diangkatnya satu demu satu bayi kecil yang terbaring di sisi Laksma, dan meletakkannya di atas sarung.

Dengan kedua tangannya laki-laki itu lantas mengangkat jasad Laksma dan membawanya ke kuburan, tak jauh dari tempat Laksma melahirkan. Sendiri lelaki itu menggali tanah dan mengubur Laksma.

Usai mengubur jenasah Laksma, diangkatnya kedua bayi itu. Burung Hantu kini lega. Kedua matanya benar-benar bersinar. Lelaki itu mencium kedua bayi dan membawanya.

“Semoga ia menyayangi kedua bayi itu,” gumam burung Hantu dari pohon Randu.

* * *

Kedua bayi itu tumbuh dan besar di lingkungan kumuh. Setiap hari mereka bergaul dengan barang-barang bekas, botol minuman keras, orang-orang mabuk. Akhirnya kedua bayi yang kini telah remaja, terseret dalam kebiasaan mabuk.

“Hik, ayo minum Gas.”

Bagas memandang saudaranya tanpa ekspresi.

“Kenapa hik.”

“Aku bosan, Wok.”

“Kau hik, bosan mabuk.”

Bagas mengangguk. Sugriwo menenggak bir yang tinggal sedikit. Habis. Botol kosongnya ia lempar ke udara.

“Sugriwo.”

“Kamu ingin jadi malaikat, Gas.”

“Aku bosan begini terus, Wok.’

“Hik.”

Sugriwo mabuk berat.

“Aku ingin keluar dari sini.”

“Keluar hik.”

Bagaskara mengangguk. Terdengar lengking tawa Sugriwo.

Di bawah terik matahari, Bagaskara dan Sugriwo menyusuri jalan raya. Di pinggir hutan.

“Kita ke mana Bagas.”

“Pokoknya keluar dari kampung itu.”

“Kampung itu memberi banyak peristiwa, Gas.”

“Menyebalkan.”

Sugriwo menatap tajam mata saudaranya.

“Barang bekas, botol minuman, perempuan.”

“Kamu menikmati perempuan-perempuan itu. Bukankah mereka rela tidak kamu bayar.”

“Asal kamu tahu aku tak pernah melakukannya.”

Melintas sebuah truk. Dengan cekatan Bagas meloncat naik. Sugriwo masih di bawah.

“Ayo naik, Wok.”

Sugriwo terus berlari mengikuti truk yang terus melaju.

“Ayo Wok, cepat naik.”

“Aku tak bisa. Turunlah kau cepat.”

“Aku takut.”

“Turunlah.”

Truk terus melaju meninggalkan Sugriwo. Bagaskara tak bisa turun.

“Kita terpisah Wok,” teriak Bagaskara dari atas truk.

Di atas truk Bagaskara lemas. Tulang-tulangnya terasa lepas dari tubuhnya.

Sugriwo dan Bagaskara menempuh jalan hidup sendiri-sendiri. Sugriwo tak lagi tinggal di tempat kumuh. Ia tinggal di hutan. Bersama masyarakat pohon, kicau burung, sinar mentari di pagi hari. Pelan-pelan ia lupa minuman keras. Tapi dendam kepada Bagaskara mengalir dalam darahnya.

“Ia tega meninggalkan aku. Kubunuh kau bila bertemu.”

Entah sadar atau tidak ia berucap demikian.

Berbeda dengan Sugriwo, Bagaskara justru bergelut dengan kekerasan. Truk yang ia tumpangi membawanya ke kota yang serba keras, sibuk dan panas. Ia harus mempertahankan hidup dengan kericuhan. Sehari-harinya tak jauh dari baku hantam.

“Wok, kamu di mana Wok. Sampai hati kau biarkan aku hidup dengan rasa was-was.”

Ia ingat perkampungan kumuh, tempat dulu ia tinggal.

“Aku harus menemukan Sugriwo.”

Ia bertekad mencari Sugriwo.

Tinggal di rimba raya, lama-lama membuat Sugriwo merasa sepi. Ia ingat masa-masa bersama Bagaskara, saudara kembarnya. Ia tidak tahu siapa diantara mereka yang menjadi kakak. Sebab kelahirannya sendiri tak ia ketahui.

“Aku harus menemukan Bagaskara.”

* * *

Burung Hantu masih bertengger di tempat yang sama, tempat dulu ia menyaksikan dua bayi dilahirkan.

“Bagaimana nasib kedua bayi itu.”

Menyelinap dalam benak burung Hantu keinginan untuk berjumpa dengan kedua bayi itu.

“Malam ini aku ingin melihat mereka.”

Tiba-tiba muncul Sugriwo. Wajahnya merah menahan amarah. Sebotol minuman keras di tangannya.

“Kubunuh kau Bagas.”

Dari arah lain muncul Bagaskara. Wajahnya juga merah. Di tangannya juga terdapat sebotol minuman keras.

“Awas kau Wok.”

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang perak, disaksikan burung Hantu, manusia yang lahir dari rahim yang sama itu membuat perhitungan. Dalam keadaan mabuk mereka baku hantam.

“Kucincang kau.”

“Kuhajar kau.”

Mereka berkelahi sambil sesekali tertawa, saling bentak, saling menyalahkan, saling umpat. Sepanjang malam mereka bertarung sengit, sampai babak belur, sampai lunglai dan tewas bersama. Burung Hantu pergi. Cahaya bulan yang perak meredup. Langit sepi.

Keesokan harinya, mayat Sugriwo dan Bagaskara ditemukan oleh lelaki yang membawanya dulu.

“Kalian lahir di sini, matipun di sini,” gumam lelaki itu dengan hati sembilu. ***

Tangerang, 1997

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Lelaki Tua Kematian yang Indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: