Kematian yang Indah

Mei 23, 2007 at 11:12 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: The Jakarta Post, 25 September 2000

MENERIMA kabar buruk sudah menjadi menu makanan tersendiri bagi Farid. Ia terlampau kenyang dengan kabar-kabar pilu dalam hidupnya. Toh, selalu ia hadapi dengan tegar. Farid termasuk laki-laki yang mampu menyimpan sembilu dalam benaknya. Ia sangat pandai merahasiakan gejolak batinnya di depan orang banyak.

Tetapi kabar kematian Kemala sangat menusuk nadinya. Tak ada firasat apapun dalam diri Farid. Tak ada tanda apapun bahwa ia akan kehilangan orang yang pernah singgah beberapa saat dalam hidupnya. Kemala, bekas istrinya, meninggal semalam. Perempuan yang memiliki pesona itu mati diujung mata pisau. Kemala terkapar di tempat tidur dengan pisau menancap di dadanya. Entah apa yang terjadi.

Kematian adalah rahasia hidup yang memiliki keindahan. Kematian adalah dambaan setiap insan yang senantiasa menghargai hakekat hidup. Sanak keluarga, orang-orang tercinta akan mengelilingi kita saat kita menghadapi kematian. Entah itu di sebuah kamar rumah sakit yang pucat, di sudut rumah yang megah, di jalan raya yang sibuk atau di kehidupan malam yang liar. Di manapun malaikat menjemput, kematian selalu melahirkan keindahan. Seperti pulang ke kampung halaman.

Farid menghela nafas. Kenangan bersama Kemala menari-nari di kepalanya. Kemala adalah perempuan yang sempurna. Karena terlampau sempurnanya, Farid tak pernah bisa membimbingnya. Kedamaian yang biasanya lahir dari seorang istri, tak ia temukan pada Kemala. Kehadiran Kemala tak ubahnya duri dalam setiap nafasnya.

Diam-diam ada yang mengalir di parit-parit batinnya. Penyesalan. Seharusnya dulu ia sabar menghadapi Kemala. Membimbingnya sampai benar-benar menjadi istri yang patuh. Bukan malah menceraikannya.

Setelah ia ceraikan Kemala, Kemala kian akrab dengan kehidupan malam. Farid tak bisa membayangkan bagaimana Kemala sendirian menyusuri jalan gelap dan mendaki, hingga kematian menjemputnya.

* * *.

Sejak menikahi Kemala Farid berharap segalanya berjalan harmonis. Kenyataan menjungkirbalikkan harapannya. Kemala asik dengan kegemaran-kegemarannya sendiri: tennis, shoping, arisan. Ia tidak pernah sempat mengurus suami.

Kemala tak pernah menunjukkan sikap berubah, sampai anak pertamanya lahir. Malah, Kemala makin sering menyakiti hatinya. Karena begitu sering tersakiti, dan begitu sering gagal mengubah sikap Kemala, membuat kesabaran Farid sampai pada satu titik batas. Padahal Farid sangat terhibur dengan hadirnya seorang anak. Ia berharap kehadiran anak akan mengubah sikap-sikap Kemala. Kenyataan seperti api jauh dari panggang. Hingga datang perceraian itu.

Suatu ketika, Kemala hadir kembali dalam kesehariannya. Ia menjadi sering menelpon Bintang, anaknya — meski sekedar menanyakan kabar. Dan Bintang begitu sering menyebut kata “mama”. Tetapi Kemala tetap Kemala. Ia perempuan keras kepala. Hidupnya tak pernah berubah. Ia menjadi pengembara yang tetap singgah di setiap hidup laki-laki. Farid sendiri heran mengapa ia jatuh cinta pada perempuan itu.

Ya, siapapun Kemala telah melahirkan kekaguman dalam diri Farid. Dan cinta adalah rahasia hati. Farid tak pernah belajar untuk jatuh cinta pada Kemala. Sesunguhnya dulu, kedua orangtua Farid tidak setuju ia menikahi Kemala. Orang tuanya memang sedikit ortodok. Mereka tidak bisa memahami pekerjaan Kemala sebagai penyanyi pada sebuah klub malam. Pandangan kedua orangtuanya sangat memojokkan Kemala waktu iti. Tetapi kekukuhan cinta Farid melempangkan jalan menuju perkawinan.

Farid melenguh. Bagaimanapun hidup itu indah. Keindahannya akan berkurang bila ada sesal. Siang ini adalah pemakaman Kemala. Farid beranjak. Ia ingin kesempatan yang benar-benar terakhir ini sarat makna. Ia akan mengantar Kemala ke dunia yang sesungguhnya.

* * *

Pemakaman telah usai. Farid terpaku. Ia merasa asing dan fana. Kematian Kemala menyisakan kehilangan yang dalam. Di saat inilah Farid merasakan betapa berartinya sosok Kemala baginya. Kematian kadang melahirkan rindu yang sempurna.

Farid masih tercenung, memandangi dinding-dinding kamar yang pernah memberinya kenangan. Ia menghela nafas. Pelan-pelan mengalir kegundahan dalam benak Farid. Pikirannya terusik. Farid mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Mengapa setiap perempuan yang pernah akrab dengannya selalu berakhir hidupnya dengan kematian. Dan selalu saja ia melihat perempuan-perempuan itu menemui ajalnya secara mengenaskan.

Ia ingat Normala. Pacarnya ketika di SMU. Ia baik, anggun dan cerdas. Percintaan itu hanya berlangsung delapan bulan. Pantai Parang Tritis di Yogya telah merenggutnya. Ketika itu, masa liburan sekolah. Bersama teman-teman sekolah, mereka ke Parang Tritis. Berlari-larian dengan segenap kegembiraan.

Entah bagaimana awalnya, tanpa diduga ombak datang menyeret tubuh Normala ke tengah laut. Masih lekat betul dalam kepalanya suara Normala memanggil-manggil namanya untuk minta tolong, lalu sebentar kemudian hilang ditelan air, tanpa sempat ditolong. Ketika ditemukan, tubuh Normala dalam keadaan dingin dan membeku. Farid menggigil. Peristiwa empat belas tahun lalu begitu menyentaknya. Ia hadir seperti mimpi yang panjang.

Ia ingat pula Ais. Teman sekampus, yang punya hobi sama dengan dirinya yakni mendaki gunung. Suatu ketika, kawan-kawan di kampusnya mengadakan pendakian gunung Pangrango. Ais ikut dalam pendakian itu. Rupanya, itulah terakhir kali Ais mendaki gunung. Hujan yang mengguyur semalam suntuk membuat kaki Ais terpeleset dan jatuh ke jurang. Ketika ditemukan tubuh perempuan yang sangat dicintainya itu telah hancur.

Kemudian ia mengenal Candra, yang bekerja sebagai wartawati. Bulan kelima ia berkasih-kasihan dengan Candra, polisi menemukan Candra terbunuh. Entah siapa yang membunuhnya. Tetapi orang-orang menduga, itu ada hubungannya dengan berita yang ditulis Candra. Namun hingga kini pembunuhnya tidak pernah tertangkap.

Hidup memang begitu kejam. Terdengar helaan nafas Farid yang memanjang. Betapa berat beban yang ia tanggung. Tiba-tiba ia menyesali seluruh peristiwa tragis yang menimpa orang-orang yang dicintainya.

“Semua kematiannya karena aku,” teriaknya. Tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan keras. Dipandangi wajahnya di cermin. Ia menemukan sosok dirinya yang penuh ketakutan. Tiba-tiba ia merasa menjadi lelaki paling penakut, paling tolol, dan paling berdosa.

Farid gelisah. Ia tak ingin lagi berkawan dengan perempuan. Ia tak mau lagi mendengar kabar buruk tentang kematian. Ia memutuskan untuk belajar bahagia dalam sendiri.

Suatu ketika ibunya datang dan menanyakan tentang dirinya yang masih menduda. Ibu mendesak agar Farid segera mencari pendamping. Tidak baik bila terlalu lama hidup sendiri.

“Kamu butuh pendamping. Anakmu butuh ibu yang menjaganya.”

Farid terpana dengan nasehat itu. Ia makin terpana ketika Ibu mengatakan telah menemukan sosok yang tepat buatnya. Halimah. Ya, Halimah. Ia terkejut alang kepalang mendengar ibunya menyebut nama itu. Halimah adalah perempuan yang baik. Kini ia janda. Dulu, Farid begitu mengagumi Halimah. Tetapi selalu saja ia bertepuk sebelah tangan. Halimah anak orang kaya. Ia telah dijodohkan. Namun nasib jelek menimpa Halimah. Suaminya kawin lagi dan meninggalkan perempuan itu terpuruk sendirian.

“Farid bahagia dengan keadaan sekarang, Bu.”

“Bagaimana dengan anakmu?”

“Saya bekerja keras untuk masa depannya.”

“Ia butuh sosok Ibu.”

Farid terdiam mendengar kalimat ibunya. Ia mengamini pendapat ibunya. Hari-harinya kembali gelisah. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak dekat dengan perempuan, apalagi menikahinya. Ya, ia tidak akan mencintai lagi seorang perempuan pun, apalagi memilikinya. Cinta telah melahirkan sejumlah peristiwa yang sangat pedih dalam hidupnya.

“Bagaimana?”

Farid terkejut. Ibunya mendesak kembali.

“Menikahi Halimah sama dengan juga menolongnya.”

“Menolong?” Farid jadi tidak mengerti. Ia tertekan dan serba salah. Ia membenarkan semua kalimat ibunya. Halimah baik, menikahinya sama artinya dengan menolongnya. Bintang, anaknya, sudah akrab dengan Halimah, dan butuh sosok seorang Ibu. Tapi ia tak ingin Halimah mati karena dekat dengannya. Ia takut sekali.

* * *

Farid memutuskan untuk berlayar dengan perahu motor kecil yang disewanya. Ia tidak membawa sediki pun bekal. Ia ingin menenangkan diri, menikmati lautan bebas. Menikmati keindahan bulan yang telanjang bulat di malam hari. Mencumbui angin laut dan bintang-gemintang. Menikmati matahari, terbit dan tenggelamnya.

Ia ingin menempuh pelayaran itu dengan keceriaan dan kegembiraan yang hebat, sampai tubuhnya lunglai. Sampai perahu yang ia tumpangi kehabisan bahan bakar, terhempas ombak dan menenggelamkannya ke laut. Ia ingin pergi dengan sebuah senyum yang damai, tanpa harus melukai tubuhnya sendiri. Ia rela bila kelak tak seorangpun tahu tentang kematiannya. Ia sangat bahagia. ***

Jakarta, Juni 2000

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Kesaksian Burung Hantu Hamil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,197 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: