Jejak

Mei 23, 2007 at 10:28 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

PUKUL Sebelas malam. Sungguh hari jelek. Laki-laki berwajah tirus dengan tulang pipi yang semakin mencekung itu menghela nafas. Sejak ia membuka tambal ban dari pagi hingga malam mulai larut, tak satupun sepeda motor singgah ke bengkelnya.

Laki-laki berusia empat puluh tujuh tahun itu melayangkan pandang ke jalan raya. Ia berharap ada salah satu sepeda motor diantara ratusan sepeda motor yang berseliweran di depannya itu, bocor ban.

Berkali-kali laki-laki yang tampak jauh lebih tua dari usianya itu melenguh. Mengingat hari.

“Selasa,” gumamnya sendiri.

“Pantas saja. Rejeki hari ini seret.”

Orang-orang di kampungnya Batang, mengatakan sebagai hari sial. Hari itu semua lubang rejeki seperti tertutup. Para pedagang di pasar mengeluh, dagangan sepi. Para nelayan di laut mengeluh, hasil tangkapan ikan sedikit.

Mitos itu terbawa hingga Marto, nama laki-laki itu mengadu nasib ke Jakarta. Marto selalu mengalami nasib sial di hari Selasa. Mengingat mitos itu, Marto kecut. Lapar yang ia rasakan sejak siang tadi semakin menggigit.

Di bawah langit Jakarta, berulangkali hatinya berdoa semoga datang seseorang yang mau menggunakan jasanya. Menambal ban bocor. Agar ia dapat membeli sebungkus nasi. Sebab aroma yang tercium dari warung makan di depan dia mangkal, dari tadi menggoda air liurnya.

Tetapi deru ratusan kendaraan yang melaju di depannya seperti tengah mengejeknya. Mengejek Marto sebagai laki-laki yang tak tahu diri. Tak bisa mengukur kemampuan sendiri. Suara klakson kendaraan itu juga seolah-olah memaki-makinya, sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

Marto menunduk. Wajahnya berdebu.

* * *

Duapuluh tujuh tahun lalu ia meninggalkan anak dan istrinya ke Jakarta. Sesungguhnya istrinya, Tini tak mengizinkan. Alasan Tini, biarpun sedikit di kampung sudah ada penghasilan dari sepetak sawah. Tini sendiri membuka warung kopi di depan rumah.

Marto menolak alasan Tini. Marto malu bila harus hidup dari sepetak sawah pemberian mertua.

“Aku ingin memberimu makan betul-betul dari keringatku sendiri.”

“Jakarta terlalu keras, Kang.”

“Aku laki-laki Tin, bisa jaga diri.”

Perdebatan tak terelakkan. Tini ingin Marto tetang tinggal di kampung. Sedang keinginan Marto ke Jakarta sangat kuat. Marto ingin mempunyai banyak uang seperti Kirman, tetangganya. Kirmanpun sudah berjanji padanya untuk memberi pekerjaan, jika Marto ingin bekerja di Jakarta.

“Kamu bisa kirim uang ke istrimu setiap bulan. Untuk tinggal, sementara bisa di tempatku,” ujar Kirman.

Marto semakin bersemangat ke Jakarta. Marto ingin membahagiakan Tini dan bayi perempuannya, Sutina.

Tiba di Jakarta, alangkah kecutnya Marto. Ternyata pekerjaan yang ditawarkan Kirman hanyalah sebagai penarik becak.

“Kalau narik becak, dikampung juga ada Man.”

“Kamu tak malu narik becak di kampung?,” ujar Kirman enteng.

Marto hanya menunduk ketika itu.

“Aku dulu juga narik becak. Lama-lama jadi juragan becak. Aku tinggal di rumah, nunggu setoran. Kalau kamu mau, kamu bisa seperti aku sekarang. Kamu bisa memboyong istri dan anakmu ke sini,” ujar Kirman kemudian.

Mau tak mau Marto menerima pekerjaan narik becak. Toh, di Jakarta tak ada yang tahu kalau ia menarik becak. Berbeda dengan di kampung. Di kampung pasti semua orang tahu kalau Marto yang menantu orang kaya itu, pekerjaannya narik becak. Pasti di kampungnya, ia jadi bahan ejekan dan tertawaan orang.

Tetapi, jauh dari anak istri ternyata menyakitkan. Biaya hidup di Jakarta teramat menggigit. Makan, harus mengusahakan sendiri tanpa dilayani istri. Tidurpun di kamar kontrakkaan yang sempit, tanpa istri dan tangis anaknya. Sering di keheningan malam, Marto ingat Sutina. Anak perempuannya itu masih berusia tujuh bulan.

Ketika di kampung, Marto sering menganti popok Tina bila basah. Marto sering menina bobokan Sutina dengan mendorong dan menarik ayunan Sutina yang terbuat dari rotan. Sekarang Marto tak bisa melakukannya lagi. Sering Marto merasa sepi, meski di luar sana, deru kendaraan motor tak pernah berhenti terdengar. Satu hal yang bisa menghibur hatinya, ia bisa mengirim uang ke istrinya setiap bulan. Tetapi, setiap kali datang surat dari istrinya selalu mendesaknya untuk pulang.

“Aku tidak akan pulang. Aku akan mengumpulkan uang banyak. Aku ingin kaya, biar bisa membuatkan kamu rumah di sini. Tiba saatnya nanti aku akan memboyong kalian ke Jakarta,” tulis laki-laki itu dalam surat balasan ke Tini.

Surat itu adalah surat terakhir Marto kepada Tini. Di hari Selasa, bebrapa hari setelah ia menulis surat sebuah mobil pribadi menabrak becaknya hingga remuk. Marto terkapar di aspal jalan raya. Luka-lukanya sangat serius. Mobil yang menabraknya melarikan diri.

Marto dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari ia rawat inap.

“Tak usah kau pikir becakku yang remuk itu. Juga ongkos rumah sakit. Yang penting kamu sembuh,” ujar Kirman ketika menjenguknya.

Ia bersyukur memiliki teman seperti Kirman. Selama di rumah sakit itulah Kirman dan istri yang mengurusnya. Ia jadi ingat anak dan istrinya. Ia berjanji akan memenuhi keinginan Tini untuk pulang.

Keluar dari rumah sakit, Marto berbenah. Mengemasi pakaian untuk pulang kampung. Sebelumnya Marto mendatangi rumah Kirman untuk mengucapkan terimakasih sekaligus pamitan. Tapi, di luar dugaannya Kirman marah berat.

“Pulang!.”

“Iya Man. Aku tak bisa mengikuti jejakmu jadi juragan. Lebih baik aku pulang kampung. Jadi petani biasa. Bisa berkumpul dengan keluargaku.”

“Silahkan kamu pulang tapi lunasi dulu hutangmu Marto.”

Marto tersentak.

“Becakku yang remuk dan biaya selama kamu di rumah sakit itu. Kau pikir tak sedikit.!”

“Bukankah kamu …”

Marto tak meneruskan kalimatnya. Ketika itu memang ia dipihak yang terpojok.

“Ingat ini hutang, harus kamu ganti.”

Jadilah Marto mengayuh becak siang malam. Uang yang ia dapat untuk membayar setoran sekaligus mengangsur hutangnya pada Bakir. Sejak itu Marto tak bisa mengirim uang ataupun surat ke kampung.

Untuk membayar sewa kamar yang sempit saja Marto tak mampu lagi. Setiap malam Marto terpaksa tidur di bawah langit dengan meringkukkan tubuhnya di dalam becak.

Tiga tahun kemudian hutang Marto lunas.

“Marto, aku minta maaf. Karena tiga tahun ini kamu tak bisa mengirim uang ke istrimu karena harus membayar becak dan …”

“Sudahlah aku malas mendengarnya yang penting hutangku sudah lunas,” potong laki-laki itu.

“Ini ada surat dari Tini.”’

Marto lemas. Tiga tahun lebih ia tak menafkahi anak istrinya di kampung.

Marto sengaja tidak membuka surat Tini. Ia sudah tahu isinya. Ia hanya melipatnya. Menyimpannya ke saku celana. Marto bertekad akan lebih giat mengayuh becak, tetapi bukan becak milik Kirman. Ia menyewa becak orang lain.

Siang malam Marto mengayuh becak dengan harapan bisa mengirim uang ke kampung. Sayang belum sempat uang terkumpul, becak Marto digerebek. Diminta paksa oleh trantib karena masuk ke kawasan bebas becak.

Sekuat tenaga Marto mempertahan becaknya, menjelaskan becak itu bukan miliknya, petugas trantib tetap menarik becaknya dan melemparkannya ke truk dengan sangat kasar. Marto hanya bisa menatap dengan getir. Buyar harapannya mengirim uang ke anak istri.

Marto kembali terlilit hutang. Pemilik becak itu menuntutnya agar mengganti harga becak yang digerebek petugas trantib.

Lemas Marto mengambil sepucuk surat dari Tini. Ingin ia memenuhi keinginan istrinya untuk pulang kampung, tetapi hutang harus dilunasi. Marto banting stir. Ia tak mau lagi mengayuh becak.

Waktu berlari sangat cepat. Hingga duapuluh tujuh tahun lewat, Marto tak pernah pulang. Hubungannya dengan anak istri terputus. Marto tak punya tempat layak untuk tinggal. Untuk tidur, Marto cukup mengandalkan kardus. Ia bentang di emperan toko, di depan ia membuka tempat sebagai tambal ban. Siang hari Marto menjadi kuli angkut di pasar. Itu hanya cukup untuk makan dan bayar mandi di WC umum.

Duapuluh tujuh ia berpeluk susah di Jakarta.

* * *

“Pak!”

Marto terhanyut pada masa lalunya.

“Pak!

Marto terperanjat. Di depannya perempuan muda memanggilnya dengan keras.

“Maaf, ban kami bocor. Apa Bapak masih bersedia menambal ban?”

Marto terpana. Ia seperti melihat sosok Tini ketika masih perawan. Wajah yang sederhana dan ayu. Tanpa polesan make up di wajah.

“Pak!”

Marto kembali terperangah.

“Bisa, bisa.”

Di bawah langit Jakarta yang kian kelam, Marto menambal ban dengan pikiran berkecamuk. Ia ingin bertanya siapa nama perempuan itu, tetapi itu tak ia lakukan. Ia takut teman laki-laki perempuan itu kurang bisa menerima maksud pertanyaannya. Tapi, mengapa ia sangat mirip dengan Tini sewaktu masih perawan?

Pertanyaan itu akhirnya hanya ia simpan dalam hatinya. Sampai ia selesaikan menambal ban tak satupun kata terucap dari mulut Marto. Lidahnya terasa sangat kelu untuk mengajak keduanya bercakap-cakap, meski hanya untuk basa-basi.

Marto tertegun menerima uang lima ribu rupiah.

“Maaf Nak Bapak tidak ada kembalian.”

“Kembaliannya buat beli permen cucu.”

“Cucu?,”

Hati Marto teriris mendengarnya. Mungkin benar, anaknya sudah kawin dan punya anak. Entahlah, Marto sama sekali tidak tahu tentang keluarganya.

* * *

Sosok perempuan muda itu terus mengusik benak Marto. Bahkan Marto sering menutup bengkel bannya hingga menjelang dini hari. Harapannya ia dapat bertemu dengan perempuan muda itu dan bertanya sesuatu yang baginya sangat besar .

* * *

Tiga bulan kemudian, perempuan muda itu kembali. Kali ini sendirian. Perempuan muda itu sambil menunggu, duduk di bangku yang berada di sebelah kiri Marto.

“Saya menunggu lama kesempatan seperti ini.”

Perempuan muda itu menautkan kening.

“Melihatmu seperti melihat anak perempuanku.”

Perempuan muda itu menautkan kening lagi. Hati-hati perempuan muda itu berkata.

“Anak Bapak meninggal?”

“Tidak.”

Kali ini perempuan muda itu memilih diam. Ia ingin penambal ban itu berkata lagi.

“ Bapak meninggalkannya sewaktu dia masih berusia tiga bulan di Batang.”

“Batang?.”

Keduanya saling bertatapan.

“Pekalongan?”

Marto mengangguk.

“Saya dari Batang, Kabundelan.”

Darah Marto berdesir. Sementara perempuan muda itu menunduk. Wajahnya luruh. Berkata dengan lirih.

“Bapak saya meninggal ketika saya masih bayi.”

“Maafkan saya.”

“Tidak apa-apa, saya masih beruntung karena masih memiliki Ibu.”

“Kalau boleh tahu, siapa nama ibumu Nak.”

“Sutini.”

Laki-laki itu mulai tersentak.

“Namamu?”

“Nina.”

“Nina,” ujar laki-laki itu setengah mengeja. Lalu menatap perempuan muda di depannya dengan dada bergemuruh.

“Kata Ibu, nama bapak saya itu Marto,” perempuan itu menyambung.

Jantung laki-laki itu terasa berpindah dari tempatnya. Ingin ia memeluk perempuan muda itu, tetapi kedua kakinya seperti tertanam erat di bumi. Lidahnya pun kelu. ***

Depok, Juli 2003

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Novel Lelaki Bingkai Kelam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,396 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: