Di Ujung Senja

Mei 23, 2007 at 11:14 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Tabloid NOVA, Februari 2001

LANGIT basah, ketika aku terpaku di sini. Di senja yang mengapung pada waktu. Tarian daun yang menua seolah mengisyaratkan usia yang tak lagi muda. Sesungguhnya tak ada yang aku risaukan. Segala kisah telah aku selesaikan.

Aku bahagia dengan kehidupanku. Aku punya suami yang baik, rumah yang teduh serta anak-anak yang sehat. Mereka adalah karunia terindah. Tetapi disaat anak-anak telah memiliki kehidupan sendiri, sepi mulai menyergapku.

Kini aku tinggal bersama suami yang sama-sama renta. Barangkali kami tinggal menunggu waktu, entah kapan waktu itu tiba. Tapi sebelum waktu itu tiba, aku ingin tahu keberadaan Akbar, kakakku.

* * *

Keindahan hidup musnah, ketika kasih sayang orantua terampas. Peristiwa puluhan tahun silam itu membayang kembali. Membuat nafasku memburu kencang. Aku seolah kembali berada di masa itu.

Aku tinggal di sebuah kampung yang tenang. Setiap pagi dapat aku nikmati kokok ayam jantan. Pertanda kehidupan di mulai. Emak akan sibuk di dapur menyiapkan bekal Bapak untuk bekerja di sawah. Ya. Keluargaku memiliki sepetak sawah yang merupakan sumber kehidupan kami.

Seusai sekolah aku menengok Bapak di sawah bersama Mas Akbar, kakakku. Bila sekolah libur, kami ke sawah pagi-pagi bersama Bapak. Aku senang, dengan hamparan padi yang hijau.

Ketika padi mulai menguning, kawanan burung sawah rajin bertandang. Bapak sengaja membentangkan tali di tengah sawah. Ujung tali yang satu diikat pada pohon Mengkudu yang kebetulan tumbuh di tepi sawah. Ujung tali yang lain Bapak ikatkan pada dangau. Aku dengan senang hati menghalau mereka dengan menarik tali yang ujungnya terdapat beberapa kaleng. Kaleng-kaleng itu diisi batu. Setiap kali aku menarik tali, akan terdengar bunyi bergemerincing. Bunyi itu membuat burung-burung sawah menjauh dari sawah kami.

Bila petang tiba kami berkumpul di bale-bale, di beranda rumah. Ada segelas kopi yang Emak buat untuk Bapak. Lalu sepiring singkong rebus yang kami nikmati bersama-sama. Dalam kesempatan itu selalu ada yang Bapak sampaikan kepadaku dan Mas Akbar. Nasehat-nasehat ataupun menanyakan tentang sekolah kami. Tak jarang Bapak mendongeng. Dongeng Bapak selalu menyenangkan meskipun hanya cahaya bulan yang menerangi beranda rumah kami. Begitu sederhana.

Lama aku menikmati kebahagiaan itu dengan damai. Hingga datang peristiwa memilukan. Tiga hari berturut-turut hujan mengguyur kampungku. Air yang tergenang di jalan kampungku wajar-wajar saja. Tetapi entah dari mana datangnya air bah yang bercampur tanah pekat itu. Begitu mendadak dan meluluh lantakkan kampungku.

Ada yang menimpa tubuhku sangat kuat. Sekujur tubuhku linu. Aku ingin lepas dari benda keras itu, tetapi aku tak mampu. Dadaku sesak. Aku tidak tahu benda apa sebenarnya yang menghimpit sekujur tubuhku. Di luar aku dengar langkah-langkah kaki dan isak tangis. Aku berteriak agar orang-orang di luar itu menolongku. Tetapi sedikitpun aku tak mampu melakukannya.

Aku putus asa. Wajah Emak, Bapak dan Mas Akbar membayang. Hanya mukjizat bila aku selamat dan bisa menikmati hidup lebih lama lagi. Aku hanya menunggu waktu. Kerinduanku pada mereka menjelma di tengah himpitan benda keras itu. Aku ingin sekali mengetahui keberadaan mereka. Ingin sekali mereka menemukan aku dan berkumpul kembali.

Dalam keadaan tertimbun, aku merasakan dunia terasa begitu luas. Hingga keberadaanku tak ada yang tahu. Aku tidak tahu lagi makna pagi, siang ataupun malam. Yang ada hanya gelap. Waktu terasa sangat panjang. Aku lelah.

Dalam kelelahan itu aku bertemu Emak dan Bapak. Mereka memakai baju sangat bagus. Mengajakku ke taman luas. Penuh aneka warna bunga dan ribuan kupu-kupu. Langit biru bersih. Aku belum pernah menemukan taman seindah itu sebelumnya. Aku ingin berlama-lama di taman itu. Tetapi Bapak dan Emak menyuruhku pulang. Aku katakan pada mereka aku ingin ikut bersama mereka. Tetapi mereka menolakku dan pergi meninggalkan aku tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aku tidak tahu mengapa mereka membiarkan aku sendiri.

Langit di taman itu pelan-pelan menghitam. Kelam. Aku kembali merasakan himpitan di tubuhku. Aku panggil Bapak dan Emak di hatiku berulangkali. Terdengar langkah-langkah kaki tak beraturan. Panggilan orang-orang yang mencari saudaranya. Juga isak tangis. Aku pasrah.

Tiba-tiba ada secercah cahaya menerpa wajahku. Aku merasa ini mimpi. Tetapi cahaya itu kian lama kian membesar dan akhirnya ada yang mengabur di depanku. Pelan-pelan pandanganku jelas. Ada beberapa orang tengah berusaha mengambil reruntuhan bangunan yang menimpa tubuhku. Ada Mas Akbar di depanku. Ia mengangkat tubuhku.

Aku lihat sekelilingku. Tidak aku temukan Bapak dan Emak. Ingin sekali aku bertanya kemana gerangan mereka. Tetapi untuk bersuara aku tak mampu. Aku raih tangan Mas Akbar. Aku tatap matanya, lalu aku tanyakan Emak dan Bapak dengan kalimat tanpa suara. Mas Akbar hanya menunduk. Wajahnya murung. Tak ada jawaban darinya. Membuat aku tak sabar.

Dengan lemah aku pandangi sekelilingku. Rumah-rumah yang runtuh karena longsoran tanah. Pohon-pohon tumbang. Wajah-wajah pilu, serta isak tangis. Aku mulai menyadari apa yang terjadi. Dan pertemuanku dengan Emak dan Bapak seperti menyiratkan sesuatu. Aku takut untuk menyimpulkannya. Aku berharap masih bisa bersama-sama lagi.

Mas Akbar mendekatiku dan memberiku beberapa roti. Bantuan dari para penderma dari kota. Pelan-pelan tubuhku pulih.

“Mana Mak?.”

Lama Mas Akbar diam.

“Mak dan Bapak pergi,” lirih sekali.

“Pergi!?”
Mas Akbar mengangguk sangat pelan. Menundukkan kepala. Aku semakin gelisah.

“Orang-orang menemukan Bapak dan Emak dalam keadaan.”

Mas Akbar tidak melanjutkan kalimatnya. Aku menangis, merajuk padanya untuk mengatakan di mana Mak dan Bapak.

“Mak dan Bapak meninggal.”

Langit runtuh seketika dalam tubuhku. Dunia tak bergerak. Kami Akbar yatim piatu. Begitu cepat.

Itulah masa-masa tersulit dalam hidupku. Segala keinginan telah kandas oleh bencana tanah longsor. Rumah yang dibangun oleh keringat Bapak roboh. Tanpa meninggalkan satupun yang bisa kami ambil untuk bertahan hidup. Jadilah aku dan Mas Akbar meski berjuang melawan indahnya masa anak-anak. Aku ingat waktu itu aku masih duduk di kelas tiga, sedang Mas Akbar kelas enam. Kami meski melupakan buku-buku pelajaran dan gelak tawa teman-teman saat istirahat jam sekolah. Terasa menyakitkan.

Kami tinggalkan kampung tanpa tahu kemana arah tujuan. Tak ada bekal yang kami bawa selain baju yang terpakai. Jauh kami berjalan hingga suasana baru kami lihat. Aku bingung waktu pertama tiba. Mimpikah aku di tengah gedung-gedung megah dengan hiruk-pikuk kendaraan serta orang-orang yang berlalu lalang tanpa saling bertegur sapa.

Ketika pertokoan tutup ternyata masih ada kehidupan lain. Anak-anak seusiaku berkumpul dan menggelar kardus-kardus atau koran. Mereka tidur di atasnya. Aku tertegun meskipun akhirnya aku dan Mas Akbar bergaul dengan mereka dan tidur di emperan toko. Kami selalu bangun pagi-pagi agar bila terjaga tidak diusir pemilik toko.

Untuk bertahan hidup kami harus bisa menghasilkan uang. Biarpun hidup dan bergaul dengan gelandangan aku tak mau meminta-minta seperti mereka. Aku dan Mas Akbar mengamen di setiap bus kota yang lewat. Sungguh berat ketika memulainya. Kami harus berlari-lari untuk mendapatkan bus kota. Beberapa lagu kami nyanyikan dengan lapar yang menggigit. Selalu terbayang sebungkus nasi dalam setiap lagu kami. Selalu terpecik harapan setiap penumpang mau menyisihkan sebagian harta untuk kami. Uang yang kami dapatkan sebisa mungkin cukup untuk makan sehari berdua.

Terkadang aku merasa betapa hidup ini tak berpihak kepadaku. Untuk hanya mendapatkan sebungkus nasi dan air putih saja aku harus memperjuangkannya di bawah terik matahari. Sementara di luar sana banyak anak-anak seusiaku begitu mudah mendapatkan yang mereka inginkan.

Kerinduanku pada Emak dan Bapak senantiasa teriris-iris bila tampak satu keluarga tengah pergi bersama-sama memasuki rumah makan dengan wajah berbinar. Terbayang Emak tengah mempersiapkan makan untuk kami. Lalu di beranda rumah Bapak, Emak, Mas Akbar dan aku bercengkerama sambil menikmati singkong rebus. Ah, singkong rebus. Lama sudah aku tak menikmatinya.

Jauh dalam hatiku aku sering mengeluh dan benci akan kehidupan seperti ini. Tetapi bila melihat Mas Akbar yang penuh peluh keringat, hatiku luluh. Betapapun hidup ini indah. Beban ini akan ringan bila diatasi bersama-sama. Bukan hanya aku yang kehilangan keindahan masa kanak-kanak atau remaja. Mas Akbar juga sama. Pelan-pelan akupun bisa menerima kenyataan.

Di tengah kesadaran itu, sesuatu terjadi. Malam. Aku tengah menunggu Mas Akbar membeli nasi di sebuah emperan toko, bersama teman-teman lain. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba mobil dengan beberapa laki-laki berseragam berhenti di depan kami. Mereka turun dan memaksa kami naik ke mobil dengan bak terbuka. Aku bingung. Permintaanku untuk menunggu Mas Akbar tak mereka hiraukan. Aku diseret dengan keras oleh laki-laki yang sama sekali tak aku kenal.

Di mobil itu aku berteriak memanggil-manggil Mas Akbar. Hingga mobil membawaku, Mas Akbar tak kunjung datang.

Ternyata kami dibawa ke sebuah rumah yang amat besar. Di situ kami dididik untuk memiliki ketrampilan. Jadilah aku seorang perempuan yang bisa menjahit dan membuat makanan kecil. Aku lebih tertarik dengan mengembangkan usaha makanan kecil. Aku cukup berhasil. Hingga akhirnya nasib telah mempertemukan aku dengan seorang laki-laki yang baik. Dan membawaku pada kehidupan yang dulu jauh dari angan-anganku.

* * *

Senja masih mengapung di ujung waktu. Aku memang telah menemukan kehidupan yang layak. Tetapi jauh di sana, bagaimana dengan Mas Akbar. Sering aku menangis merindukan kehadirannya. Ingin tahu bagaimana keadaannya. Aku tidak rela bila ia terus hidup di jalanan. Berpindah dari satu emperan toko ke emperan toko lain. Sering aku berdo’a agar ia menemukan kehidupan yang layak. Tapi sampai detik ini aku tidak tahu apakah do’aku terkabul atau tidak.

Terkadang aku ingin menyusuri kembali kehidupan yang malang dan tersisih itu. Ingin aku temukan Mas Akbar dalam keadaan apapun. Lalu kembali bersama seperti dulu. Hingga tubuhku berkeriput aku tidak tahu sedikitpun tentang Mas Akbar.

Dan sekarang kerinduanku kian mengental. Keinginankupun hanya satu. Sebelum tiba waktuku, ingin aku bertemu dengan Mas Akbar. Agar kami sama-sama lega. Karena ia pun pasti memikirkan tentang aku.

Depok, Desember 2000

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Hamil Boneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: