Di bawah Langit Jakarta

Mei 23, 2007 at 10:53 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Warta Kota, Juli 2003

AKU hentikan langkahku dengan sangat tiba-tiba. Aku kucek-kucek mataku. Tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Ibu tengah bergandengan dengan laki-laki seusiaku. Aku sampingkan niatku semula untuk mampir melihat-lihat buku bekas di Senin. Aku menguntit ibuku. Sia-sia. Ibu dan laki-laki seusiaku itu sudah menyelinap di antara kerumunan orang-orang. Aku kehilangan jejak.

Aku memutar arah. Berpikir keras. Mungkinkah ia ibuku?. Kalau benar ia ibuku, siapa laki-laki seusiaku itu. Aku yakin, laki-laki itu bukan salah satu saudaraku. Pikiranku jadi bercabang. Antara tumpukan buku-buku yang hendak aku beli dan ibuku yang menggandeng laki-laki seusiaku itu.

Aku ternganga. Ibu tampak baru saja sampai di rumah ketika aku pulang. Baju Ibu, sama dengan yang dikenakan saat aku melihatnya tadi. Aku menyimpulkan, memang perempuan tadi adalah Ibuku. Aku jadi diliputi perasaan curiga. Adakah Ibu pacaran dengan laki-laki yang usianya jauh lebih muda? Mengerikan kalau itu benar-benar terjadi.

Selama ini aku mengidolakan Ibu. Ia sosok perempuan ideal. Jabatannya sebagai direktur utama di sebuah bank swasta terkemuka, tidak mengurangi tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Karenanya biarpun aku anak tunggal, aku tak pernah merasakan kesepian.

Sedang Ayah adalah direktur sebuah perusahaan. Sesibuk apapun mereka, selalu menyempatkan waktu bersama di akhir pekan. Entah itu dengan hanya menghabiskan waktu di kolam renang, atau berkaraoke bersama. Pendek kata hubungan kami harmonis.

“Dinda.”

Aku terhenyak. Tak sadar telah larut oleh pikiranku sendiri.

“Ada masalah dengan kuliahmu.”

Aku menjawab dengan menggeleng.

Aku memilih tinggal di rumah. Aku mengabaikan ajakan kedua orangtuaku untuk mengisi tiga hari libur kerja ke puncak. Satu ritual yang menghangatkan sesungguhnya. Tetapi buat apa aku bersama dengan Ibu. Ibu telah mengkhianati Ayah.

“Jadi sentimentil,” ujar Ardan teman dekatku di kampus.

“Dia jauh lebih muda dengan ibuku.”

“Apa salah seorang perempuan bergaul dengan anak muda hanya karena jenis kelamin yang berbeda.”

“Tidak salah, tapi ini lain. Laki-laki itu menggandeng ibuku dengan sangat mesra.”

“Apa sih definisi mesra, Lin.”

Aku melempar gumpalan kertas kecil yang sedari tadi aku main-mainkan ke wajah Ardan.

“Percuma aku ngomong sama kamu.”

Ardan mencekal lenganku ketika aku hendak beranjak.

“Jangan salahkan ibumu kalau ia menggandeng laki-laki lain seusiamu.”

Aku menautkan kening. Belum tahu maksud kalimatnya.

“Lihat juga perilaku ayahmu.”

Aku kian menautkan kening.

Aku tak bisa tidur. Kalimat Ardan siang tadi mengusikku. Mungkinkah Ayah melakukan hal yang sama, menggandeng perempuan lain untuk bersenang-senang? Ah, tidak mungkin Ayah melakukannya. Aku tahu betul Ayah menyayangi Ibu. Buktinya libur tiga hari ini digunakan Ayah untuk bersenang-senang dengan Ibu di Vila.

Malam telah sempurna. Sedikitpun aku tidak mengantuk. Aku ingin tidur tetapi mata ini sepertinya mengajakku untuk terus terjaga. Apapun aku lakukan untuk bisa tertidur.

Membaca koran tadi pagi, memaksa diri untuk menguap berkali-kali, sampai olahraga di tengah malam aku lakukan. Sia-sia. Aku belum juga mengantuk. Aku hidupkan televisi. Semua stasiun menyajikan film yang tak ada satupun menarik minatku. Akhirnya aku lihat saja salah satu stasiun televisi yang menyajikan acara talkshow dengan tajuk aneh, “ranjang”.

Talkshow itu mengupas tentang kehidupan malam di kota besar. Semula aku mencibir acara itu, seperti tidak ada program lain yang menarik saja. Tetapi memasuki sekmen ke dua, yakni menghadirkan tiga tamu pelaku kehidupan malam, aku tertarik mengikutinya.

Menarik. Karena kali ini bukan perempuan yang menjajakan tubuhnya melainkan laki-laki. Pengguna jasanya adalah laki-laki setengah baya dan ibu muda.

Ketiga tamu itu pada wajahnya ditutup topeng, hingga tidak dapat dikenali. Nama disamarkan, alamat hanya menyebutkan nama kota. Si penawar jasa adalah mahasiswa di salah satu PTS terkemuka di Jakarta. Aku miris mendengar penuturannya. Apakah tidak ada jalan lain yang mulia untuk membiayai kuliah, hingga ia rela tenggelam di kehidupan malam?

Alasan yang ia kemukakan dalam wawancaranya adalah karena kepepet. Dadaku sesak. Aku merutuk-rutuk sendiri di depan televisi. Aku menyalahkan si penawar jasa dengan mengatakan ia pemalas, dasar buaya dan kata-kata lain yang mestinya tak aku ucapkan.

Sedang kedua pengguna jasa memiliki latar belakang yang berlainan. Perngguna jasa laki-laki memilih “jajan” dengan sesama jenis bukan karena ia gay. Melainkan karena ia tak sampai hati terhadap istrinya bila harus “Jajan” dengan meniduri perempuan.

Menurut pengakuan si pengguna jasa laki-laki, semua berawal dari istrinya yang sakit keras. Karena penyakit yang diderita sang istri, tidak memungkinkan buat si pengguna jasa laki-laki untuk menggauli istrinya. Akhirnya untuk menyalurkan hasratnya yang selalu muncul setiap akhir pekan, ia memilih jajan.

Sedang pengguna jasa yang lainnya yakni ibu muda, menuturkan kalau ia menggunakan jasa gigolo karena keinginan suami.

“Gila,” rutukku.

Aku masih memaklumi bila ada suami memaksa istri untuk melayani laki-laki lain, tetapi ini lain lagi. Sang suami merasa puas di tempat tidur, bila suami sudah melihat istrinya baru saja bersetubuh dengan laki-laki lain.

“Gila!,” rutukku lagi.

Di akhir acara, si pengguna jasa yang laki-laki berharap agar istrinya bisa sembuh agar ia tidak usah lagi jajan diluar. Sedang si ibu muda mengakui sangat tertekan dengan perilaku sang suami.

“Saya merasa diri saya kotor di depan suami, tetapi bagaimana lagi. Suami saya selalu mengharapkan saya untuk berhubungan dengan laki-laki lain terlebih dulu, sebelum saya melayani dia. Saya ingin menjalani hidup normal sebagaimana layaknya hubungan suami istri yang wajar.”

Aku menghela nafas. Dalam kasus apapun perempuan selalu berada di pihak yang kalah. Aku matikan televisi ketika pembawa acara menanyakan kepada si penawar jasa. Untuk apa mendengarkan alasan dari mulut laki-laki yang bermental banci.

Malam telah memasuki Dini. Kantuk yang aku harapkan belum juga datang. Entah pukul berapa aku tertidur. Ketika bangun, di teras sudah tergeletak koran pagi. Seperti biasa sebelum membaca, aku membuka-buka lembar demi lembar terlebih dulu.

Di rubrik metropolitan mataku tertuju pada gambar gadis yang masih belia meninggal di kamar hotel bersama laki-laki yang sudah beruban. Di bawahnya tertera sekelumit berita yang menjelaskan gambar di atas.

* * *

Aku menemui Ardan di tempat biasa.

“Kau ketinggalan, makanya gaul. Jangan belajar melulu,” ujar Ardan ketika aku ceritakan acara talkshow beberapa hari lalu. Ardan mengeluarkan sebuah buku “Jakarta Undercover, Sex’n the city” tulisan Moammar Emka.

Aku menautkan kening.

“Baca.”

Aku makin menautkan kening.

“Biar kamu nggak lugu,” ujarnya lagi.

Terdengar ponselnya. Tampaknya ponsel baru. Entah siapa yang menghubunginya.

“Aku cabut dulu, Din.”

“Bukunya.”

“Kau baca dulu sampai habis, baru kau kembalikan. Aku sudah ditungguh nich.”

Ardan berlalu setelah mengucapkan kata “sory.”

Aku tutup buku setebal 486 halaman dengan sebuah lenguhan. Suguhan berita yang sebelumnya tak pernah aku duga. Ini ada dan nyata. Kehidupan malam yang lebih gila di kotaku tempat aku tinggal.

* * *

Ardan tampak sedang asik dengan sebuah buku. Ia memang salah satu jenis makhluk hidup yang menyukai buku.

“Sudah selesai?,” tanyanya ketika aku hendak mengembalikan bukunya.

Aku mengangguk.

“Bagaimana?.”

“Mencengangkan.”

Ardan tersenyum. Menatapku. Aku suka dengan bola matanya yang coklat itu. Aku suka bila ia menatapku lebih lama, meski terkadang aku salah tingkah karenanya.

Tak lama kemudian bola mata itu luruh.

“Ya seperti itulah kehidupan, Din.”

Aku terkesima dengan kalimatnya kali ini. Aku ingin Ardan masih akan melanjutkan kalimatnya lagi.

“Kamu beruntung memiliki orangtua kaya, hingga tak terjebak ke dunia gelap itu,”

“Aku juga beruntung memiliki kamu, Dan. Kamu ulet, pergaulanmu luas dan mandiri. Kamu tidak malu meski harus bekerja sebagai pedagang buku di trotoar Senin.”

Ardan hanya tersenyum tipis.

* * *

Aku lihat mobil Ayah berhenti di depan hotel terkemuka, ketika aku dengan kebetulan melintas di depan hotel itu. Ayah turun bersama laki-laki yang sangat aku kenal, Ardan. Aku baru tahu, kalau antara mereka saling kenal.

Aku paling tidak suka dengan orang yang ingin tahu urusan orang lain. Tetapi kali ini aku ingin tahu ada urusan apa antara Ardan dan Ayah di hotel itu, di waktu jam makan siang seperti sekarang.

Aku ikuti Ayah dan Ardan dari belakang dengan sebisa mungkin tanpa mereka ketahui. Jadilah aku persis detektif penasaran bagi ayahku sendiri. Astaga. Ayah dan Ardan masuk ke salah satu kamar hotel. Aku berjingkat-jingkat mendekati kamar hotel.

Jantungku berdegup kencang. Aku dengar kalimat-kalimat yang mengisyaratkan kangen yang berat antara Ayah dan Ardan, lalu deru nafas dan entah apa lagi.

Aku lemas. Dunia seperti terbalik dalam tubuhku. Aku ingat ibu yang menggandeng laki-laki seusiaku beberapa waktu lalu. Sekarang aku lihat Ayah dan Ardan sama-sama dalam satu kamar.

Aku ingin menghapus pikiran burukku terhadap Ibu, Ayah dan Ardan. Orang-orang yang aku cintai. Tetapi pikiran buruk itu seperti memburuku dan ingin membunuhku.

Depok, Juni 2003

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Death Surat dari Kawla

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy