Boneka

Mei 23, 2007 at 11:15 am 2 komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

SUDAH lama Ananta merengek-rengek pada Rizal, ayahnya, minta dibelikan boneka. Boneka perempuan. Yang cantik. Rambut keemasan yang bagian sampingnya dikepang dua dan bagian depan dipotong poni.

Ia minta dibelikan boneka yang besar seukuran bayi baru lahir. “Seperti adik kecil. Biar Ananta mudah gendongnya,” katanya.

Entah dari mana ia melihat boneka seperti itu. Mungkin di televisi. Atau dari kawannya. Tetapi kawan-kawanya di sekitar rumah tidak punya boneka seperti digambarkan Ananta. Tetapi sudahlah, itu tidak penting.

Yang jelas, aku menentang keras keinginan itu. Boneka tidak cocok untuk Ananta, anak laki-laki kami yang berumur empat tahun itu.

Mainan yang cocok buat laki-laki adalah mobil-mobilan, bola, dan mainan-mainan lain yang memang dikhususkan buat bocah laki-laki. Dan itu semua sudah dipunyai Ananta.

Tetapi suamiku justru mencibir. “Jangan terlalu memilah-milah. Laki-laki atau perempuan sama saja,” katanya.

“Aku sepaham soal itu, tapi ini menyangkut perkembangan psikis dia. Mana ada anak laki-laki menenteng boneka.”

Rizal tetap bersikukuh dengan pendapatnya: tidak ada pengkotak-kotakkan antara laki-laki dan perempuan. “Sebaiknya kita didik Ananta dengan cara demokrat. Bila perlu tak usah ia dibebani memanggil kita Ayah dan Ibu,” ujarnya.

Gila! Model pendidikan macam apa ini.

Akhirnya Rizal benar-benar membelikan boneka perempuan untuk Ananta. Boneka itu cantik. Rambutnya berwarna keemasan yang bagian samping dikepang dua dan depan potong poni. Kulitnya putih. Persis seukuran bayi baru lahir. Persis seperti keinginan Ananta.

Baju boneka itu bisa diganti-ganti. Karena itu, Rizal pun membeli beberapa stel pakaian boneka itu.

Ananta sangat gembira. Boneka itu tidak pernah lepas dari pelukannya. Tidur pun ia memeluk boneka itu. Ia melupakan mainan-mainnya yang lain, yang banyaknya memenuhi dua loker lemari.

Pelan-pelan boneka itu membuat Ananta lupa dengan sekelilingnya. Ananta seperti menemukan sebuah dunia baru. Ia mulai tak peduli dengan sekitarnya. Ia tak lagi bermain dengan teman-temannya di gang di depan rumah.

Ia tak lagi memintaku untuk bercerita sebelum tidur. Bahkan ia menolak kalau aku menemani dan mendongenginya. “Aku pingin sendiri bunda,” katanya.

Ananta juga tidak lagi suka merengek minta jalan-jalan pada ayahnya. Bahkan ia tidak lagi risau bila ayahnya pulang larut malam.

Aku merasa kehilangan dengan kebiasaan-kebiasaan lamanya. Kebiasaan yang kadang-kadang kuanggap merepotkan: teriak-teriak minta diambil minum, bermain pasir atau berhujan-hujan dengan teman-temannya di gang depan rumah, atau menyerakkan mainan di lantai sehabis bermain.

* * *

Malam masih muda. Rizal ditugaskan keluar kota untuk beberapa hari. Sementara Ananta asyik di kamar. Aku bisa memastikan apa yang sedang dilakukan Ananta, pasti ia sedang asyik dengan boneka itu.

Darahku berdesir. Tiba-tiba aku kangen dengan kebiasaan lama Ananta. Yang lebih menyakitkan, dalam seharian ini ia tidak sekali pun menyapaku. Ya Tuhan. Apakah ia telah melupakan kehadiranku? Tiba-tiba ketakutan-ketakutan naifku membayang.

Aku beranjak ke kamarnya. Pelan-pelan aku kuakkan pintu. Tetapi aku tidak sanggup melihat apa yang sedang terjadi di kamar itu: Ananta sedang memeluk boneka itu sambil mengelusnya dengan lembut dan sangat hati-hati. Seolah ia takut bonekanya terluka. Lalu mencium kening boneka itu dengan sangat lembut. Ananta tersenyum. Dan boneka itu…

Aku ingin sekali masuk ke kamar Ananta. Tapi kakiku sangat berat melangkah ke sana. Akhirnya, aku harus puas di balik pintu, mengintip tingkah Ananta.

Makin hari, aku makin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Ananta lebih suka di kamar dan memperhatikan bonekanya.

Suatu kali, hdal itu aku ungkapkan pada Rizal. Termasuk ketakutanku bila Ananta lupa dengan sekelilingnya. Aku tidak menyangka tanggapan Rizal. “Biar saja. Anak-anak senang boneka kan wajar,” katanya.

“Tapi tingkah Ananta sudah berlebihan,”

“Kamu yang terlalu berlebihan,” lanjutnya.

“Aku berlebihan? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”

“Atau kamu cemburu, kamu tidak diperhatikan oleh Ananta?”

“Cemburu? Hanya kepada sebuah boneka. Gila!”

Aku menautkan kening. Beranjak ke kamar Ananta. Boneka itu duduk manis di atas bantal. Tetapi ada sesuatu yang aneh dalam penglihatanku. Entah apa.

Pelan-pelan aku mengangkat boneka itu. Mengangkatnya sampai di depan mukaku. Menatap matanya yang sangat lain dengan boneka lainnya. Pelan-pelan tanganku bergetar. Anehnya, semakin lama aku memegang boneka itu getaran di tanganku semakin kuat. Bahkan aku tak sanggup lagi untuk memegangnya. Tanpa sengaja aku menjatuhkan boneka itu ke lantai.

“Aduh.”

Aku terpana. Terdengar suara menahan kesakitan bersamaan jatuhnya boneka itu.

“Bunda.”

Kali ini dadaku yang bergetar. Panggilan “bunda” kembali terucap dari mulut Ananta. Meskipun panggilan itu sama sekali tak bernada manja. Sebaliknya ia merasa kesal karena bonekanya jatuh.

Ananta bergegas mengambil boneka itu. Mengusap mulutnya. Mencium keningnya, dan memeluknya erat-erat. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang luar biasa.

“Kau pasti sembuh, jangan sakit.”

Lagi, Ananta mencium kening boneka itu.

Aku menghela nafas. Aku merasakan tulang-tulang dalam tubuhku telah lepas. Aku makin tidak mengerti.

* * *

Saat makan malam. Ananta membawa bonekanya duduk disampingnya.

“Mengapa harus dibawa, Ananta.”

“Ananta takut ia jatuh lagi. Sakit kemarin kan belum sembuh.”

Aku mengalah.

Disadari atau tidak kehadiran boneka itu membuat hidupku pelan-pelan terasa sepi. Pernah melintas dalam pikiranku untuk menyingkirkan boneka itu.

Tetapi kupikir lagi, itu jelas bukan sikap yang bijak. Karena dengan menyingkirkan boneka itu, berarti menghilangkan sesuatu yang sangat berarti bagi Ananta. Itu bentuk pelanggaran hak asasi anak. Tapi boneka itu benar-benar membuat aku benci.

Sekarang aku tak menyadari bila setiap kali membuka pintu kamar Ananta, bukan untuk mengetahui keberadaannya. Aku lebih tertarik untuk melihat boneka itu. Dengan posisi telentang boneka itu ada di atas tempat tidur Ananta.

Aku pandangi lekat-lekat boneka itu. Alisnya yang lebat, bulu mata yang lentik. Sebuah mata boneka yang cantik. Lalu hidung itu, ah terlampau bagus untuk dimiliki sebuah boneka. Sesungguhnya boneka milik anakku ini sebuah boneka yang cantik. Wajar bila Ananta menyukainya.

Lama aku terpana di depan boneka anakku. Aku lebih terpana ketika boneka itu mengerdipkan matanya kepadaku. Seolah menyampaikan sesuatu. Berulangkali aku mengusap-usap mataku. Kali ini boneka itu tersenyum padaku, lalu melambaikan tanganku.

“Tidak mungkin!” pekikku. Aku seperti terdorong ke belakang.

Ia tersenyum lagi. Aku beranjak dengan degup jantung yang tak bisa aku rasakan lagi.

* * *

Di tepi jendela, seperti biasanya aku menikmati senja. Sesungguhnya senja hari ini sangat indah dengan semburat-semburat warna di langit. Tetapi aku tak bisa sepenuhnya menikmati. Pikiranku tertuju pada kejadian tadi siang: ketika aku terpelanting ke belakang, dan boneka itu tersenyum. Aku mengingat matanya yang bagus. Terlebih ketika ia mengerling. Boneka itu hidup.

Sejak itu, aku ingin memastikan keberadaan boneka itu. Ia seperti hidup. Hingga suatu ketika, aku mengendap-endap di rumahku sendiri. seperti seorang maling yang menghindari bunyi langkah sendiri.

Sayup-sayup terdengar sebuah percakapan. Semakin dekat kamar Ananta percakapan itu semakin jelas. Terdengar suara lembut perempuan sedang mendongeng di kamar Ananta. Di sela-sela itu, seperti biasa, diselingi pertanyaan-pertanyaan Ananta.

Darahku berdesir. Siapa yang menyelinap ke kamar Ananta? Tak ada orang lain selain aku, suamiku dan Ananta. Ya Tuhan. Ketika mataku menempel di lubang kunci aku menyaksikan sesuatu yang tak pernah kubayangkan: Boneka itu tengah mendongeng sembari membelai rambut Ananta.

“Tidak mungkin!” pekikku.

“Ada yang mengintip kita.”

Mendengar itu jantungku seperti berpindah tempat. Aku beranjak.

Sampai di kamar, aku ambil selimut. Bersembunyi di baliknya. Suamiku serta merta menanyakan tentang tingkahku yang mungkin terlihat aneh.

“Entahlah.”

Aku rapatkan selimut dan mendekapnya dalam-dalam.

* * *

Botol minuman di tanganku jatuh, melihat boneka itu mencium Ananta. Boneka itu memeluk Ananta, seperti tak ingin lepas. Ananta dengan hati-hati mendekap boneka itu sambil berjalan ke mobil yang telah menunggu kami.

Hari itu kami hendak mengunjungi orang tua suamiku dan menginap beberapa hari di sana. Selama di perjalanan aku menemukan peristiwa-peristiwa tak lazim pada boneka itu. Hingga aku meyakini bahwa yang aku lihat selama ini adalah nyata. Boneka milik anakku itu benar-benar hidup.

“Kau bermimpi.”

“Sesungguhnya peristiwa ini sudah lama dan sering terjadi.”

“Mengapa baru sekarang kau ceritakan?”

“Kau tak akan percaya.”

Suamiku hanya tersenyum. Aku tahu makna senyumnya. Ia tidak mau mengerti.

Aku mencoba untuk berfikir sehat. Mencerna kalimat suamiku. Secantik apapun boneka Ananta, ia hanya buatan manusia. Tetapi peristiwa-peristiwa luar biasa itu tak berhenti di depanku. Boneka itu kian menampakkan padaku bahwa ia hidup.

Seperti pagi ini. Ia menyapaku, seperti halnya Ananta: Bunda! Ia sudah ada di depan kakiku, jelas mulutnya bergerak-gerak mengucap salam padaku. Di tengah keterpanaanku ia berlalu dariku menuju kamar Ananta. Aku jelas-jelas melihatnya. Boneka itu berjalan sendiri. Gila!

Suamiku tertawa sembari menggeleng-geleng kepala ketika aku mengungkapkan yang aku lihat.

“Kau terlampau berimajinasi.”

Aku menggeleng keras. Meyakinkan suamiku bahwa yang aku alami benar-benar terjadi.

“Ini nyata.”

Ia menghela nafas.

“Apakah novelmu sudah rampung?”

Aku menggeleng. Ia menyarankan agar novelku segera diselesaikan kemudian istirahat sejenak. Bahkan ia menyarankan aku untuk mendatangi seorang psikiater.

“Aku tidak gila!”

“Baik. Hari ini aku akan perhatikan boneka itu sehari penuh.”

Benar. Suamiku memanfaatkan hari liburnya untuk mengamati boneka Ananta. Dan memang tak ada satupun peristiwa aneh. Semakin membuat suamiku tak percaya. Dan membuatku semakin tak mengerti.

“Kau lihat sendiri bukan, tak ada yang aneh.”

Malam telah sempurna ketika aku dengar alunan musik yang syahdu. Aku keluar dari kamar. Alunan musik itu berasal di ruang tengah. Seperti ada yang menggelegar dalam jantungku.

Boneka itu lagi. Ia menari-nari dengan gerak yang sangat indah. Sangat lama aku melihatnya. Sesekali dalam tariannya, boneka itu tersenyum. Aku cubit lenganku. Sakit. Ini bukan mimpi.

Aku beranjak ke kamar membangunkan suamiku.

“Lihat, boneka itu menari.”

“Kau.”

“Ayolah.”

Tetapi ketika kami kembali ke ruang tengah, tak terdengar apapun. Tak ada gerakan apapun. Kosong. Suamiku menghela nafas. Menggandengku ke kamar Ananta.

“Lihatlah.”

Kali ini boneka itu tengah dalam pelukan Ananta. Aku menunduk lemas.

“Aku ngantuk.”

Aku masih di kamar Ananta. Memandangi boneka itu. Ia memang tengah diam dalam pelukan Ananta. Aku menghela nafas. Sebuah pertanyaan menggantung: apakah aku sakit?

Jakarta-Depok, Februari 2003

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Di Ujung Senja Ayam Jago

2 Komentar Add your own

  • 1. DebyPecundangSejati  |  September 8, 2009 pukul 8:52 am

    membingungkan

    Balas
    • 2. dianing  |  September 11, 2009 pukul 2:06 pm

      emang cerpen itu rada absurd, makasih ya dah mau baca.Salam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,230 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Salut untuk pak Ahok, tampak lugas, santai, realistis tak terbawa emosi. Malam yang cukup berkeringat di Metro TV :) 1 day ago
  • Bahagia itu sederhana, seperti menjawab pertanyaan teman mahasiswa via WA,yg menggunakan novel Nawang, untuk tugas kuliah terakhir/ skripsi. 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 4 Maret 2017 Spirit Kita membayar angsuran biaya ujian sebesar Rp 700.000 untuk Yara. SMK AMEC, Keperawatan. Trims 2 weeks ago
  • RT @spirit_kita: 11 Maret 2017 Spirit Kita mendapat donasi dari Sahabat @spirit_kita , Rp 25.000 langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahab… 2 weeks ago
  • Berjanji lalu tak bisa menepati. Meminta maaf lalu berulangkali melakukan salah yang sama. 3 weeks ago

%d blogger menyukai ini: