37 Tahun Lalu

Mei 23, 2007 at 11:21 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

—————–
Cerpen ini hasil revisi total dari cerpen penulis “Lima Puluh Dua Tahun Lalu” yang pernah dimuat Tabloid NOVA, 22 Juli 2001.
—————–

DUNIA tak berpihak kepadanya. Perempuan tua itu terbuang di jalanan. Begitu matahari terbit, ia keluar dari tempat naungannya, sebuah gubuk dari kardus-kardus dan beratapkan plastik di bantaran kereta api. Ia menjadi orang jalanan, di sebuah trotoar yang ramai, mengharapkan rasa kasihan orang.

Ia terpaksa menjadi pengemis, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan ketika masih muda dan cantik.

Sesungguhnya ia benci menadahkan tangan ke atas. Ia ingin meninggalkan kebiasaan itu. Ingin menikmati sebungkus nasi, murni dari tetes keringat sendiri. Tetapi ia merasakan waktu begitu kejam. Tubuh tua telah membuat pintu-pintu pekerjaan tertutup untuknya.

* * *

MATAHARI mulai menepi. Ia tatap lekat-lekat kaleng kecil di depannya. Ada kesedihan tak terkira di sana: kaleng itu hanya terisi beberapa uang logam. Seketika dalam kepalanya terbayang rasa lapar yang melilit. Bagaimana ia bisa membeli sebungkus nasi dengan beberapa butir uang logam pecahan seratus rupiah?

Ia menelan ludah. Ini bukan pertama kali ia menghadapi hari-hari sepi rezeki. Tetapi entah mengapa, kali ini ia merasakan sesuatu yang lain. Matanya sesekali mengerjap-ngerjap, dan hatinya seperti ingin menangis. Ia tidak tahu peristiwa yang bakal terjadi, sehingga hatinya begitu kalut. Kekalutan yang aneh.

Sama anehnya mengapa rezekinya begitu sepi, sementara orang sangat ramai. Bukankah kata orang, di tempat ramai banyak rezeki. Lagi pula, ini bukan hari Selasa, yang dikampungnya mengandung mitos sebagai hari “naas” alias seret rezeki. Meski ia sendiri tidak terlalu percaya dengan mitos itu.

Mata perempuan itu kembali mengerjap-ngerjap dengan sendirinya, seperti ada sebuah kekuatan yang mendorong, dan ia sendiri tidak mampu mencegahnya. Seketika pula dalam hatinya ada sebuah dorongan lain yang seperti mengharuskannya untuk menangis. Ia mencoba bertahan, karena ia tidak tahu harus menangis buat siapa dan sebab apa.

Tak kuat, ia bangkit. Ia masih ragu harus ke mana. Sejenak ia terpaku, memandang lurus, menembus waktu. Lalu hatinya berkata: pulang. “Ya, pulang. Tunggu apa lagi,” sebuah suara begitu jelas di dengar, muncul dalam hatinya. Ia pun melangkah pulang ke gubuknya yang berjarak sekitar empat ratus meter, berpacu dengan matahari yang bergerak ke balik malam.

Begitu tiba, matanya langsung tertumpu pada sebuah potret kusam tergeletak begitu saja di tempat tidur — kardus-kardus yang dibentangkan menyerupai kasur. Entah siapa yang mengeluarkan potret dirinya dengan suami dengan pakaian pengantin itu dari salah satu kardus yang menjadi tempat menyimpan barang-barang pentingnya.

Ia tidak perduli, siapa pun yang telah masuk ke gubuknya. Ia tidak takut kehilangan barang-barangnya, karena tidak ada sesuatu yang bernilai jual dan bermanfaat bagi orang lain. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, jemurannya belum diambil, sementara matahari pelan-pelan beranjak masuk ke sarangnya. Ia bergegas ke luar, meninggalkan potret itu.

Begitu masuk, matanya langsung tertumbuk pada dinding: foto pengantinnya kini tertempel di dinding, persis di samping tempat tidurnya. Siapakah yang menempelnya? Hatinya menjadi gelisah. “Apa yang sesungguhnya terjadi?” Matanya dialihkan ke tempat tidur, ia melihat sebuah buku kecil tipis dan tampak kusam tergeletak di sana. “Siapakah yang menaruh akta nikah kami di sini?”

Ia mendekat dan meraih buku itu. Akta nikah itu membawanya pada waktu 37 tahun lalu. Sambil membuka-buka buku lapuk itu, ia meraih kalender saku — yang ia temukan begitu saja di jalanan — yang ditempelkan di dekat pintu gubuknya. “Hari ini ulang tahun perkawinan kami,” bisiknya lirih.

Maka ia pun menjadi mafhum, kejadian-kejadian aneh yang baru saja di hadapinya: buku akta nikahnya dan foto pengantinnya yang tiba-tiba berada di tempat tidur. Lalu foto itu kemudian sudah tertempel di dinding. Juga perasaannya yang seharian tak karuan. Ia sudah sering menghadapi hal semacam itu, setahun sekali, ketika hari ulang tahun perkawinannya.

Begitulah Sang Waktu selalu mengingatkan hari ulang tahun pernikahannya. Mengingatkan kembali romantikan hidup ia bersama suaminya, dulu.

* * *

Jumilah nama perempuan tua itu. Rupanya cantik, kulitnya kuning langsat. Ia lahir dan dibesarkan di sebuah kampung nelayan yang kumuh. Ayahnya seorang nelayan, hidup pas-pasan, bahkan sering kekurangan. Kemiskinan membawa dampak bagi pendidikannya: ia hanya sempat menamatkan SMP.

Setelah itu, sebagaimana banyak gadis-gadis lain di kampungnya, diberi satu pilihan oleh orang tuanya, yakni menikah. Ia sempat tertawa dengan tawaran seperti itu. Apalagi ketika orang yang dibangga-banggakan orang tuanya, Warso — anak seorang juragan perahu — datang melamarnya.

Menghadapi itu, masa remaja seolah berkeping-keping di kepalanya. Ia membayangkan sebuah rutinitas rumah tangga yang membosankan: melayani suami, mengurus rumah, mengurus anak, dan segala tetek-bengek lainnya. Ia juga membayangkan percek-cokan dan pertengkaran, yang bakal sering hadir, ketimbang mewujudkan janji-janji manis sebelum perkawinan berlangsung.

Dan selalu, dalam percekcokan dan pertengkaran itu, perempuanlah yang bakal menjadi korban. Jumilah tidak sanggup menghadapi kekejaman semacam itu, di saat ia ingin menghabiskan masa-masa remajanya. Kalau pun tidak bisa sekolah – karena tak punya biaya – ia masih ingin menggunakan banyak kesempatan untuk bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Karena itu, ia memutuskan menolak lamaran Warso. Ia menolak keinginan orangtuanya untuk menikahkannya dengan Warso. “Aku belum mau menikah, Bu,” sahutnya ketika ibu menyampaikan niat Warso untuk menyuntingnya. Saat itu, Warso bersama orang tuanya masih ngobrol bersama ayahnya di depan, Jumilah sendiri mengurung diri di kamar.

“Ia anak juragan kapal, Jum,” kata Ibu.

“Jum masih ingin sendiri,” ujarnya lalu diam. “Lagi pula ia pengangguran.”

Ibunya melotot. “Ia mewarisi kapal-kapal bapaknya kelak.”

Jumilah tetap berkata tidak.

Sejak penolakan itu, Jumilah menjadi buah bibir orang-orang di kampungnya. Ia dianggap sombong sekaligus bodoh: dilamar sama anak orang kaya kok ditolak. Jumilah tak perduli. Ia juga tidak ambil hati sikap ayahnya yang berubah terhadap dirinya dan seperti membencinya. Tetapi ia tidak sendiri, masih ada ibu yang bisa memahami sikapnya. Meski setelah kejadian itu, ibu menjadi sering sakit-sakitan.

Tiga tahun kemudian, saat usianya beranjak ke delapan belas, lamaran datang lagi. Kali ini, dari seorang duda tanpa anak, berumur hampir lima puluhan. Dan kali ini, ia tidak dapat menolak lamaran juragan batik itu. “Ibu sudah tua, sakit-sakitkan sebentar lagi mati. Ibu ingin melihatmu menikah,” suara ibu, yang kesehatannya makin parah, bagai anak panah yang menembus jantungnya.

Ia merasa sakit — karena harus menikah dengan seorang yang tak dicintainya — tetapi ia tidak mungkin menolak keinginan ibu. Pernikahan yang tak pernah dibayangkannya itu pun terjadi dan ia resmi menjadi seorang isteri yang selalu menangisi nasibnya. Ia selalu menangis ketika harus melayani suaminya di tempat tidur. Ia tidak pernah menikmati kenikmatan perkawinan.

Tetapi pelan-pelan, kesabaran dan cinta tulus orang tua itu — ia menyebutnya demikian ketika hatinya dongkol, karena memang usianya sudah hampir lima puluhan — hatinya pelan-pelan luluh. Pelan-pelan ia bisa menerima kehadirannya. Pelan-pelan ia bisa merasakan tatap mata cinta tulus dari mata lelaki itu.

Ia pun merasakan ada perubahan besar dalam hidupnya, ketika rasa iba sedikit demi sedikit tumbuh dalam hatinya. Dan lama-lama, rasa iba itu menjelma menjadi rasa sayang. Selanjutnya, rasa sayang itu menjelma pula menjadi rasa kangen. Ia begitu kangen ketika suaminya terlambat pulang berdagang di tokonya.

Jumilah tidak mengerti, apakah cinta mulai hadir dalam ruang hatinya? Ia tidak ingin memikirkan itu. Yang selalu ia pikirkan kini: bagaimana ia membahagiakan lelaki itu. Yang selalu meresahkannya: mengapa suaminya selalu terlambat pulang akhir-akhir ini. Seperti malam ini, senja sudah lama beranjak, tetapi lelaki itu juga belum pulang.

Ia mulai gelisah. Debar jantung Jumilah bertambah. Setiap ia memandangi jam dinding, jarum-jarumnya seolah tak pernah beranjak. Ia pun tertidur, di sofa empuk, di kamar tamu rumah besarnya. Ketika tidurnya baru sebentar, dalam tidur ia bermimpi suaminya: pada suatu malam yang dingin, lelaki itu pamit pergi.

Jumilah tidak bisa mencegah. Mulutnya kaku, tangannya seperti tidak kuat untuk menahannya. Ketika lelaki itu makin jauh, ia ingin berlari mengejar, tapi langkahnya tidak bisa digerakkan. Seperti ada ribuan beban menindih kakinya. Hatinya teriris, tapi ia tidak bisa menangis. Hanya air mata terlihat meleleh. Tanpa kata, tanpa suara.

Saat lelaki itu hilang di kegelapan, baru suaranya muncul kembali dan memanggil-manggil, serta menangisi kepergiannya. Tetapi ia tidak bisa menangis lebih lama, karena ketukan bertubi-tubi di pintu mengakhiri mimpi, menyentak tidurnya. Ia bangun, mengusap-ngusap mata, dan begitu bersyukur apa yang dihadapi adalah sebuah mimpi.

“Mimpi yang menakutkan. Untung Mas Jarwo segera pulang, sehingga aku tidak terlalu lama larut dalam mimpi semacam itu,” bisik Jumilah girang sambil berjalan ke depan pintu. Sejenak, ia sempat melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas malam.

Pintu dibuka, tetapi yang muncul bukan suaminya, melainkan Bogel, salah seorang karyawan penjaga toko suaminya. “Ada apa, Bogel?”

“Juragan Nyonya. Juragan,” suaranya gemetar.

“Ada apa dengan juragan?”

“Toko terbakar. Juragan…….”

Jumilah tidak sempat mendengar kata-kata selanjutnya dari mulut Bogel. Tubuhnya langsung lemas dan tergeletak di depan pintu.

* * *

JUMILAH menghapus air mata. Sungguh luka teramat dalam. Luka itulah yang telah melemparkannya ke kota ini: pergi untuk mengubur semua masa lalu. Kalau ia tetap tinggal di rumah peninggalan suaminya, selalu saja rasa bersalahnya terbayang. Rasa bersalah ketika ia mensia-siakan lelaki berhati malaikat itu.

Tetapi tiap tahun, ketika ulang tahun perkawinannya, bayangan itu selalu hadir. Ia tidak dapat mengelak. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ia punya cukup uang untuk pulang ke kampung guna berziarah. Tetapi kali ini, ia tidak punya uang. Untuk makan pun — buat malam ini — tidak punya.

Jumilah menengadahkan kedua tangan, berdoa untuk kehidupan bahagia bagi suaminya di alam sana, untuk kehidupan bahagia dirinya. Ia berdoa agar Tuhan mempertemukan kembali mereka, suatu saat, entah di mana. “Tolonglah Tuhan, pertemukan kami. Apakah di bumi, atau pun di langit,” suaranya lirih diikuti isak yang mengiris. “Hamba rindu Tuhan, rindu suami hamba.”

Ia benar-benar larut dalam doanya. Pelan-pelan, tubuhnya melayang. Melayang dan melayang, meluncur menembus malam, menuju langit. Ia seperti berjalan di langit. Meniti langit. Di sebuah sudut langit, entah pada langit ke berapa, seorang lelaki gagah dengan wajah bersinar dan berbinar-binar menyambut. “Selamat datang isteriku,” ucapnya.

Dengan kangen tak tertahankan, ia pun menghambur dalam rangkulan suaminya. Cinta milik mereka.

* * *

TADI PAGI, bantaran kereta itu heboh. Orang-orang mencium bau tak sedap dari gubuk Mbok Jum. Ketika masuk, mereka menemukan tubuh perempuan tua itu terbujur kaku. Tangannya memegang erat sebuah buku akta nikah yang telah lapuk.

Sudah tiga hari orang-orang tidak melihat perempuan itu.

Jakarta, Juni 2001-2003

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Adik Bintang yang Digilai dan Dicerca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: