Puisi bagi Yogya

Mei 22, 2007 at 12:02 pm Tinggalkan komentar

Sumber: Koran Tempo, Kamis, 21 September 2006

TEMPO Interaktif, Jakarta:Di bawah payung-payung dengan kursi-kursi mengelilingi meja di bawahnya, puluhan orang mengarahkan matanya pada satu sudut di dekat jendela. Tak ada panggung, tapi di situlah sejumlah orang yang dipanggil, maju dan membaca puisi. Ada Zen Hae, Endang Supriadi, Fikar W. Eda, Sanggar Devies Matahari, Shobier Poer, Saut Situmorang, dan lain-lain.

Suasana temaram membekap di halaman belakang MP Book Point, Jakarta Selatan, Sabtu malam lalu. Baca puisi itu adalah bagian dari peluncuran buku antologi puisi Jogja 5,9 Skala Richter. Seperti judulnya, buku ini didedikasikan untuk korban bencana gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.

Buku ini menghimpun 100 puisi dari 100 penyair. Tentu tidak mudah untuk memilih puisi itu. Sebab, seperti dikatakan salah seorang editornya, Kurnia Effendi, puisi yang masuk mencapai 563 buah dari 236 penyair. Dari situ kemudian dipilih puisi-puisi yang cocok untuk masuk buku setebal 157 halaman ini.

Selain nama-nama di atas, dalam buku ini ada puisi karya nama-nama seperti Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Eka Budianta, Isbedy Stiawan Z.S., Joko Pinurbo, Dianing Widya Yudhistira, Abdul Wachid B.S., Mustafa Ismail, Tulus Widjanarko, Iyut Fitra, Gunoto Saparie, dan Raudal Tanjung Banua. Tapi tak semua nama yang tercantum dalam buku tersebut bisa hadir pada malam itu.

Secara umum, puisi-puisi dalam buku ini berbicara tentang Yogyakarta yang ditimpa bencana. Tapi cara pandangnya tentu berbeda-beda: ada yang menuliskan simpati, perasaan, pikiran, juga ada yang mengungkapkan kenangan.

Tengok salah satu puisi misalnya, berjudul Jogja yang dibacakan sendiri oleh penulisnya, Fikar W. Eda, malam itu. Di pagi yang belum sempurna/Jogja datang kepadaku/Dengan tubuh penuh luka/Bahu remuk/Air mata deras/Membentuk kolam darah//Jogja datang/Ketika lukaku sendiri/Masih bernanah.

Puisi pendek itu melukiskan sosok Yogya yang remuk dihantam bencana. Fikar, penyair asal Aceh, mengungkapkan bencana Jogja datang ketika luka penyair sendiri belum sembuh. “Lukaku” dalam sajak ini tentu saja adalah simbol tragedi tsunami Aceh, yang masih begitu terasa dampaknya.

Penyair Endang Supriyadi menuliskan impresinya tentang seorang sukarelawan gempa Yogya dengan puisi berjudul Duka Ranjang yang Menggenang. … di dusun imogiri, sebuah perkampungan/telah hilang. dan kau menangis untuk/kedua kali untuk birahi yang mati/ini akar, seperti tombak bermata seribu/menukik ke bumi. membelah rumah saudara-/saudara kita.

Dalam baris-baris terakhir Endang, dia menggambarkan heroisme sang sukarelawan itu: bukan kau kalau harus diam. tanganmu, ranting yang bergerak. menyentuh dinding-dinding jiwa. dan/kau tak juga pedih saat hidupmu tinggal sehari.

Penyair Medy Lukito, yang malam itu menjadi pemandu acara, menulis puisi pendek Aku, yang penuh perenungan tentang bencana: aku sayap meluka angin/kian tinggi kian menyakiti//aku derap melupa ingin/ kian cepat kian mengakhiri//.

Malam itu, di pengujung acara, sebuah film pendek tentang Yogya diputar. Film itu menggambarkan sebuah rumah, tempat sebuah organisasi budaya beraktivitas, runtuh meninggalkan puing-puing serta membenamkan buku-buku, lukisan, dan plang nama organisasi itu. Ini pun sebetulnya puisi, tapi dengan cara ungkap yang berbeda. MUS

Entry filed under: KLIPING. Tags: .

DKJ gelar Temu Sastra Jakarta 2003 Jakarta DKL Gelar Festival Penyair Ujung Pulau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 12 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 12 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 12 hours ago

%d blogger menyukai ini: