<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://dianing.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dianing.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Nov 2009 08:57:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dianing.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/dd778be9a47115d42e97f0d328be6645?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://dianing.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Penuhilah Janji, Semudah Saat Berjanji</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/12/penuhilah-janji-semudah-saat-berjanji/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/12/penuhilah-janji-semudah-saat-berjanji/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 08:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[MBAK Nunung, tetangga baru saya tanpa saya duga berkunjung ke rumah. Semula dia hanya minta belimbing sayur yang tumbuh di depan rumah.
“Masak sore mbak?” Tanya saya.
“Nggak Bu, persiapan untuk besok. Sengaja minta sekarang biar besok tinggal langsung dimasak. Takut ibu sibuk pagi-pagi, atau pergi.”
“Saya selalu di rumah kok Mbak Nunung, lagian tinggal petik saja kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=615&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>MBAK Nunung, tetangga baru saya tanpa saya duga berkunjung ke rumah. Semula dia hanya minta belimbing sayur yang tumbuh di depan rumah.<br />
“Masak sore mbak?” Tanya saya.<br />
“Nggak Bu, persiapan untuk besok. Sengaja minta sekarang biar besok tinggal langsung dimasak. Takut ibu sibuk pagi-pagi, atau pergi.”<br />
“Saya selalu di rumah kok Mbak Nunung, lagian tinggal petik saja kalau perlu.”<br />
“Kalau belum diizinkan ya belum halal to Mbak.”<br />
Darah saya berdesir mendengarnya. Sekilas penampilan tetangga baru saya ini hanya biasa saja. Dalam arti tidak menutup aurat saat bepergian, juga sepertinya tak tertarik dengan kegiatan Jumat sore di masjid. Ucapannya justru mengandung nilai-nilai keagamaan.<span id="more-615"></span><br />
“Bu,” panggilnya kemudian. Saya tersenyum tipis dan berkata padanya untuk memanggil saya dengan panggilan mama Fira, meski sebenarnya ini membunuh identitas diri, hanya saja dipanggil ibu kok kesannya jadi sangat tua.<br />
“Saya sebenarnya mau ngomong sesuatu, Bu.” Rupanya lidahnya sudah terbiasa dengan memanggil saya ibu, okelah tak apa.<br />
“Ayo masuk, ngobrol di dalam biar enak.”<br />
Kami masuk ke ruang tamu, yang kami desain seperti teras. Mbak Nunung agak terkejut melihat laptop saya yang masih menyala di meja yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Bilah-bilah bambu itu dicat coklat tanah, dengan dipernis terlebih dulu. Aksen etnisnya jadi kental.<br />
“Oh lagi sibuk, Bu.”<br />
“Tenang saja, pekerjaan saya senantisa dikerjakan dengan santai. Ayo duduk.”<br />
“Jadi nggak enak, Bu.”<br />
“Ayolah, katanya mau ngomong.”<br />
“Benar nih Bu, saya nggak mengganggu.”<br />
“Ya mbak, santai saja.”<br />
Saya perhatikan Mbak Nunung seperti tengah menghimpun kekuatan untuk bicara. Duh, ada masalah apa dengan tetangga baru saya yang baru dua bulan ini pindah ke sini. Ia membeli salah satu rumah tetangga saya yang pindah, karena suami pindah tugas ke daerah lain.<br />
“Saya nggak enak ngomongnya, Bu.” Saya tersenyum tipis. Jadi ingat sama Mbak In yang tengah pergi berhaji. Mbak In mengaku suka nggak enak kalau mau curhat sama saya. Jika begitu saya memilih diam, membiarkan Mbak In akhirnya ngomong sendiri, dan mengungkapkan semua yang ada dalam pikiran dan hatinya yang mengganjal. Semoga saja Mbak Nunung memiliki kesamaan seperti Mbak In. Saya diam, sambil berharap Mbak Nunung mau cerita.<br />
“Saya bingung Bu,” ujarnya kemudian lirih. Saya menatapnya lalu mengangguk pelan.<br />
“Saya mau nagih hutang, tapi saya bingung.”<br />
“Nagih hutang, saya punya hutang?”<br />
“Bukan, bukan. Bukan ibu.”<br />
Saya masih belum paham, saya mencoba mengingat-ingat. Sejak Mbak Nunung pindah ke sini, saya termasuk akrab dengan dia, tetapi selama bergaul rasanya saya belum pernah pinjam apa pun dari Mbak Nunung. Lalu apa ya?<br />
“Bu Feri, Bu.”<br />
Jantung saya bergetar. Mbak Nunung menyebut nama Bu Feri, nama yang bagi kami agak unik.<br />
“Dulu dia pinjam genting sama mas Fahri.”<br />
“Genting?”<br />
“Ya, ada limapuluh biji. Katanya akan dikembalikan secepatnya. Waktu itu Pak Feri butuh untuk atap garasi, padahal genting itu sengaja kami beli sebagai tabungan bikin ruang belakang. Sekarang sudah terkumpul semua, eh gentingnya belum ada.”<br />
“Ya diminta to Mbak Nunung,” ujar saya hati-hati.<br />
“Sudah berkali-kali sama Mas Fahri, tapi Bu Feri dan suami hanya janji-janji saja. Suami saya jadi marah-marah sendiri.”<br />
Saya menghela napas. Saya ingat ketika dulu Mbak In cerita ke saya, Bu Feri datang ke rumah Mbak In yang baru saja merenovasi rumah. Bu Feri meminta empat kotak lantai keramik berwarna hijau daun, ukuran tiga puluh kali tiga puluh centi, juga lantai keramik merah muda ukuran dua puluh kali dua puluh lima centi, plus sekarung pasir. Waktu itu Bu Feri bilang, akan dibayar sama suaminya, tapi sampai hampir sepuluh tahun berlalu lantai keramik itu belum juga dibayar, dan Mbak In memang telah melupakannya. Untuk menagih sama Bu Feri, itu sangat tidak mungkin. Bu Feri sangat mudah menghardik dan mengumpat tetangga, meski usianya  lebih muda dari orang yang ia hardik.<br />
Saya ingat keramik-keramik Mbak In, ia pakai untuk membuat taman di depan rumahnya dengan kolam ikan. Setiap kali saya lewat depan rumah Feri dan melihat warna keramik hijau daun dan merah muda itu sering bikin saya ingat, kalau lantai keramik itu punya Mbak Ini. Entahlah, kenapa saya yang malah merasa nggak ikhlas, karena saya tahu Mbak In mesti membeli lagi lantai keramik karena ternyata masih kurang.<br />
Tragisnya lagi lantai keramik warna hijau daun tersisa satu dus. Oleh Bu Feri, lantai keramik itu dibagi-bagi ke tetangga untuk menutup lubang tempat sampah. Bu Feri mengaku lantai keramik itu miliknya. Saya geleng-geleng, tapi bukan Mbak In saja yang diperlakukan seperti itu.<br />
“Saya bingung Bu,” ujar Mbak Nunung seperti mengeluh. Saya memahami kalau Mbak Nunung bingung menghadapi Bu Feri.<br />
“Saya nggak enak sama suami, memang saya yang mengizinkan Bu Feri karena nggak enak, tetangga pinjam kok nggak dikasih.” Mbak Nunung terdiam sejenak.<br />
“Nggak tahu begini jadinya,”ujarnya lirih.<br />
“Genting itu kan hak Mbak Nunung, saya pikir sangat wajar Mbak Nunung menagih ke Bu Feri. Toh, Bu Feri sudah janji mau mengembalikan dengan kualitas genting yang sama kan?”<br />
“Iya sih, tapi&#8230;” Mbak Nunung menghela napas.<br />
“Mungkin saya harus belajar ikhlas bu. Barangkali bukan rejeki saya lagi.”<br />
Saya menunduk, ingin menangis rasanya mendengar kalimatnya yang tenang.<br />
“Biar tabungan saya saja yang buat ganti genting itu, mau minta suami beli lagi, nggak enak.”  Saya tersenyum tipis, lalu mengangguk. Memang yang terbaik mengikhlaskannya, seperti sikap Mbak In dulu. Tak memikirkan lagi lantai-lantai keramiknya juga satu karung pasir yang dipakai Bu Feri. Toh, rezeki kuasa Tuhan. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=615&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/12/penuhilah-janji-semudah-saat-berjanji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Kota Atlas</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/11/di-kota-atlas/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/11/di-kota-atlas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 03:42:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik novel NAWANG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=613</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH lama saya tak berkunjung ke Semarang, kota yang pernah saya singgahi dan tinggal beberapa tahun. Di kota ini saya mendapatkan banyak teman dan tempat untuk berkarya. Secara tak sengaja saya bergabung ke teater Aktor Studio yang ternyata gudangnya penulis. Teater yang digawangi Bapak Djawahir Muhammad itu memberi saya banyak ilmu. Kepenulisan saya terasah di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=613&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98&#038;h=150" alt="nawang" title="nawang" width="98" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-496" />SUDAH lama saya tak berkunjung ke Semarang, kota yang pernah saya singgahi dan tinggal beberapa tahun. Di kota ini saya mendapatkan banyak teman dan tempat untuk berkarya. Secara tak sengaja saya bergabung ke teater Aktor Studio yang ternyata gudangnya penulis. Teater yang digawangi Bapak Djawahir Muhammad itu memberi saya banyak ilmu. Kepenulisan saya terasah di situ. Dalam menulis kami saling mengkritik, dan dapat dipastikan dalam satu minggu pasti ada salah satu tulisan anggota Teater Studio, yang dimuat di media masa terbitan Semarang. Kami jadi bersaing untuk menulis lebih bagus, agar tulisan layak muat.<span id="more-613"></span><br />
Di kota ini juga saya bergaul dengan teman-teman UNDIP, dan sempat mendirikan teater UMBU yang semua anggotanya adalah perempuan. Fitri Lambang, belakangan berganti nama Cinta Fifi,  Ayu Cipta, Riri Novita sudah bertemu dan sempat ngobrol di FB. Ada nama-nama yang jejaknya belum saya temukan, Pipiek Isfianti, Eris, juga  beberapa nama yang maaf, samar saya mengingatnya.<br />
Semarang memang tak akan pernah lekang dalam ingatan saya. Untuk mengenangnya saya sematkan namanya, sebagai salah satu setting dalam novel Nawang. Kota ini juga yang memberi warna, dan memberi banyak pelajaran tentang hidup.<br />
DWY</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/613/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=613&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/11/di-kota-atlas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98" medium="image">
			<media:title type="html">nawang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Weton</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/10/karena-weton/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/10/karena-weton/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel WETON]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[SETIAP orang dalam hidupnya akan memasuki jenjang pernikahan. Sebelumnya tentu mengalami masa perkenalan, saling suka, pacaran, bertunangan dan menikah. Tampak begitu sederhana dan mudah, tetapi tidak dengan masyarakat Jawa yang sebagian para orangtuanya masih mempercayai weton.
Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, yakni tahun delapan puluhan, mitos dan kepercayaan terhadap weton begitu mengental. Tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=611&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/novel-weton.jpg?w=99&#038;h=150" alt="novel-weton" title="novel-weton" width="99" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-582" />SETIAP orang dalam hidupnya akan memasuki jenjang pernikahan. Sebelumnya tentu mengalami masa perkenalan, saling suka, pacaran, bertunangan dan menikah. Tampak begitu sederhana dan mudah, tetapi tidak dengan masyarakat Jawa yang sebagian para orangtuanya masih mempercayai weton.<br />
Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, yakni tahun delapan puluhan, mitos dan kepercayaan terhadap weton begitu mengental. Tak jarang orangtua berselisih paham kepada anak-anak mereka yang ingin menikahi atau dinikahi kekasihnya. Orangtua tak serta merta merestui, orangtua akan bertanya dulu apa weton calon suami atau calon istri anaknya.<span id="more-611"></span><br />
Hitungan weton yang jatuh pada hitungan baik seperti, roh gemulung, tunggak semi, wasesa segoro akan mendapat dukungan dari orangtua untuk meneruskan menikah. Tentu hal ini membuat pasangan senang luar biasa, bisa menikah dengan orang yang dicintai.<br />
Bagaimana dengan pasangan yang wetonnya jatuh pada hitungan buruk? Orangtua, sanak saudara akan menentang rencana pernikahan mereka, tak peduli kalau mereka saling menyayangi.<br />
Sampai sekarang di masyarakat Jawa, Batang khususnya sebagian orangtua bahkan anak-anak mudanya masih saja ada yang percaya pada kekuatan weton.<br />
DWY</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=611&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/10/karena-weton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/novel-weton.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">novel-weton</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesulitan di Kota Kecil</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/09/kesulitan-di-kota-kecil/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/09/kesulitan-di-kota-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 03:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik novel NAWANG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=609</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa teman di Facebook menghubungi saya, mereka mengeluh kesulitan mendapatkan novel Nawang. Untuk yang di Batang dan Pekalongan mesti menitip teman untuk beli di Gramedia Semarang, untuk yang di Jawa Barat, meski memesan teman di Bandung.
Untuk penggemar baca, memang sering mengalami kesulitan mendapatkan buku-buku baru, bila di tempat tinggalnya belum ada toko buku besar. Terlebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=609&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98&#038;h=150" alt="nawang" title="nawang" width="98" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-496" />Beberapa teman di Facebook menghubungi saya, mereka mengeluh kesulitan mendapatkan novel Nawang. Untuk yang di Batang dan Pekalongan mesti menitip teman untuk beli di Gramedia Semarang, untuk yang di Jawa Barat, meski memesan teman di Bandung.<span id="more-609"></span><br />
Untuk penggemar baca, memang sering mengalami kesulitan mendapatkan buku-buku baru, bila di tempat tinggalnya belum ada toko buku besar. Terlebih bagi pecinta teater, seperti seorang teman yang ingin mengangkat novel Nawang ke pentas monolog. Dia tertarik dan meminta izin ke saya,  setelah melihat tulisan-tulisan yang saya taruh di  FB. Sayangnya,  dia belum bisa mendapatkan novel Nawang. Ia sudah memesan di Bandung sama temannya, tetapi belum juga dikirim.<br />
Kepada teman itu, saya sarankan untuk memesan ke toko buku online http://www.palasarionline.com  Teman-teman yang lain juga bisa memesan novel Nawang di toko buku online tersebut.  Saya tentu merasa senang bila novel saya, Nawang mendapat sambutan dan respon dari pembaca juga masyarakat.  Terimakasih.<br />
DWY</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/609/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=609&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/09/kesulitan-di-kota-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98" medium="image">
			<media:title type="html">nawang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lek Bego</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/07/lek-bego/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/07/lek-bego/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 04:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel WETON]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=607</guid>
		<description><![CDATA[MENYAMBUT lebaran, di kampungku setiap rumah selalu berhias. Ini adalah rahasia di balik ritual ramadhan. Keluargaku sibuk dengan bersih-bersih rumah, juga mengganti warna cat dinding. Rumah nenek biasanya kakek sama paman yang mengecat. Ada yang unik, untuk dinding dari anyaman bambu, kakek tak menggunakan cat dinding, melainkan gamping yang dicampur pewarna biru.
Rumah ibu yang terletak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=607&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/novel-weton.jpg?w=99&#038;h=150" alt="novel-weton" title="novel-weton" width="99" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-582" />MENYAMBUT lebaran, di kampungku setiap rumah selalu berhias. Ini adalah rahasia di balik ritual ramadhan. Keluargaku sibuk dengan bersih-bersih rumah, juga mengganti warna cat dinding. Rumah nenek biasanya kakek sama paman yang mengecat. Ada yang unik, untuk dinding dari anyaman bambu, kakek tak menggunakan cat dinding, melainkan gamping yang dicampur pewarna biru.<br />
Rumah ibu yang terletak di jalan Yos Sudarso, termasuk kotanya, membuat kami menggunakan cat dinding.<span id="more-607"></span> Jika di rumah nenek, pengecatan dinding dilakukan sendiri, ibu sama bapak meminta tolong Lek Bego. Dipanggil Bego karena ia tak bisa berucap seperti kita. Untuk berkomunikasi, kami menggunakan bahasa isyarat. Tentunya bahasa menurut versi kami.<br />
Lek Bego merupakan langganan kami, ngecatnya bagus, rata dan sangat cepat. Itulah kelebihan yang Tuhan berikan sama Lek Bego. Orangnya periang dan lucu, sebelum mengecat dinding, Lek Bego suka sekali melukis dinding terlebih dulu. Aku dibikin terpingkali-pingkal ketika Lek Bego menyuruhku melihat ke dinding dekat kamar mandi, ups, seekor monyet tengah ngebut mengendarai sepeda motor. Lek Bego tampak senang melihat aku tertawa lepas. Lain kali Lek Bego melukis Petruk, Gareng, Semar dan bagong. Lainkali lagi Lek Bego melukis perempuan seksi. Kalau yang terakhir aku hanya tersenyum tipis, tapi Lek Bego malah tertawa.<br />
Itu serpihan kenangan semasa kecil dulu, sekarang ketika aku jauh dari Batang, aku jadi jauh dari Lek Bego, bahkan beberapa lebaran ke Batang, tak juga aku berjumpa dengan Lek Bego. Untuk mengenangnya aku sematkan nama dan sosoknya dalam novel ini, Weton, Bukan Salah Hari. Semoga bisa memberi manfaat bagi pembaca. Amin.<br />
DWY</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/607/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=607&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/07/lek-bego/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/novel-weton.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">novel-weton</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Lampu Berdua</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/06/satu-lampu-berdua/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/06/satu-lampu-berdua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 13:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel WETON]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[SAYA banyak menghabiskan waktu masa kecil saya di rumah nenek. Di tahun delapan puluhan itu, sebagian rumah nenek atau Mak Darnah, saya memanggilnya. Dari bayi saya sering berada dibuaian nenek dan bulek-bulek saya, ketimbang bersama ibu yang sibuk berdagang. Separuh rumah, dari ruang tamu hingga ruang cuci baju plus jemur yang luas serta ruang santai, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=605&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/novel-weton.jpg?w=99&#038;h=150" alt="novel-weton" title="novel-weton" width="99" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-582" />SAYA banyak menghabiskan waktu masa kecil saya di rumah nenek. Di tahun delapan puluhan itu, sebagian rumah nenek atau Mak Darnah, saya memanggilnya. Dari bayi saya sering berada dibuaian nenek dan bulek-bulek saya, ketimbang bersama ibu yang sibuk berdagang. Separuh rumah, dari ruang tamu hingga ruang cuci baju plus jemur yang luas serta ruang santai, dindingnya sudah memakai semen. Dari ruang makan hingga dapur masih menggunakan anyaman bambu atau pager.<span id="more-605"></span><br />
Saya ingat ada dua kamar di ruang itu, kamar nenek dan kamar salah satu  bulek saya. Saya suka tidur di kamar bulek. Dinding kamar yang dari bambu itu bagian atasnya dilubangi sebesar bola lampu, berbentuk segi empat. Di dekat lubang itulah kakek memasang lampu, jadilah satu lampu itu dipakai untuk menerangi dua kamar. Kakek dulu suka membeli bola lampu warna kuning, alasannya cahayanya redup, nggak bikin silau.<br />
Cahaya  yang redup itulah yang tidak memungkinkan bulek-bulek saya belajar di kamar masing-masing. Kalau belajar kami ke ruang keluarga. Saya lebih sering belajar di depan televisi, kalau sudah begitu, kakek sering menegur. Belajar kok sambil lihat TV, saya lebih senang tersenyum dari pada mematikan layar televisi. Tentu acara televisi zaman saya SD, jauh berbeda dengan sekarang.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/605/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=605&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/06/satu-lampu-berdua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/novel-weton.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">novel-weton</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Nawang</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/05/karena-nawang/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/05/karena-nawang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 03:37:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik novel NAWANG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[SEBAGAI penulis novel Nawang, saya merasa ikut senang bila ada pembaca yang mengirim surat lewat pos, email, inbox di facebook, atau ke ponsel saya, mengaku terinspirasi setelah membaca Nawang.
Saya sering geli, terharu juga sering bersemangat lagi untuk berkarya, setelah membaca komentar-komentar pembaca. Ada yang sangat ingin berkenalan dengan model cover Nawang. Sebagian besar dari mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=603&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98&#038;h=150" alt="nawang" title="nawang" width="98" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-496" />SEBAGAI penulis novel Nawang, saya merasa ikut senang bila ada pembaca yang mengirim surat lewat pos, email, inbox di facebook, atau ke ponsel saya, mengaku terinspirasi setelah membaca Nawang.<span id="more-603"></span><br />
Saya sering geli, terharu juga sering bersemangat lagi untuk berkarya, setelah membaca komentar-komentar pembaca. Ada yang sangat ingin berkenalan dengan model cover Nawang. Sebagian besar dari mereka menganggap sosok Nawang adalah saya, sampai-sampai menyapa saya dengan panggilan Nawang, baik di situs jejaring FB dan telepon.<br />
Terakhir saya terperanjat, plus takut ketika seseorang menulis pesan ke email saya, mengaku mengagumi Nawang, ingin mengirim foto-foto terbaiknya, lalu menyatakan jatuh cinta sama saya. Lha wong dia perempuan, gitu.<br />
Terimakasih saya ucapkan-sebesar-besarnya kepada pembaca Nawang, dan teman-teman mahasiswa yang menjadikan novel Nawang sebagai obyek penulisan skripsi.<br />
DWY</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/603/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=603&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/05/karena-nawang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98" medium="image">
			<media:title type="html">nawang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kurang Pandai Berterimakasih</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/04/kurang-pandai-berterimakasih/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/04/kurang-pandai-berterimakasih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 04:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[SAYA sedang menyuapi si bungsu di teras rumah, ketika Pak Dharma tetangga kami yang tinggal sendirian, singgah ke rumah.  Pak Dharma adalah pensiunan pegawai negeri sipil. Ketiga anaknya yang sudah berkelurga, sudah memiliki rumah sendiri-sendiri dan tinggal jauh dari rumah Pak Dharma. 
Pak Dharma yang sendiri, memerlukan pembantu rumah tangga yang mengurus pekerjaan rumah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=600&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SAYA sedang menyuapi si bungsu di teras rumah, ketika Pak Dharma tetangga kami yang tinggal sendirian, singgah ke rumah.  Pak Dharma adalah pensiunan pegawai negeri sipil. Ketiga anaknya yang sudah berkelurga, sudah memiliki rumah sendiri-sendiri dan tinggal jauh dari rumah Pak Dharma. <span id="more-600"></span><br />
Pak Dharma yang sendiri, memerlukan pembantu rumah tangga yang mengurus pekerjaan rumah. Kedatangannya kali ini meminta tolong pada Yanti, asisten saya di rumah untuk membantunya membenahi rumah.<br />
“Mpok Rima belum masuk Pak?” tanya saya.<br />
“Wong dia kalau sakit sampai dua minggu, Jeng.”<br />
“Waah repot, harus cari pengganti sementara Pak,” ujar saya lagi.<br />
“Makanya saya ke sini mau nanya Yanti bisa nggak, ngurus rumah saya selama Rima sakit.”<br />
“Masuk saja Pak, Yantinya sedang menyapu tuh.”<br />
Pak Dharma masuk dan ngobrol dengan Yanti. Dari perbincangan itu semula Yanti kurang yakin, apakah ia sanggup bekerja di dua tempat.<br />
“Hanya sampai Mpok Rima masuk lagi, Yan” Saya mencoba membujuk  agar Yanti mau membantu Pak Dharma. Yanti memang sejak  semula sudah berniat tak bekerja di dua tempat. Capek. Kalau terlalu lelah dan sakit, toh banyak uang yang harus dikeluarkan untuk ke dokter.<br />
“Ya sudah, mencuci pakai mesin Mbak, selama membantu di rumah Pak  Dharma,” bujuk saya lagi.<br />
“Enak pakai tangan, bu.”<br />
Saya cemas, takut kalau-kalau Yanti tak bersedia membantu Pak Dharma selama Pok Rima nggak masuk. Saya akhirnya memilih diam, meski hati saya berharap Yanti mau membantu Pak Dharma. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Yanti menyanggupi membantu Pak Dharma. Saya lihat senyum Pak Dharma mengembang, memang ada tiga hari ini Pak Dharma tampak mengurus rumah sendiri.<br />
Lain harinya lagi, Pak Dharma main ke rumah. Kami memang akrab, biasanya kami ngobrol soal berita terkini dalam negeri, tapi kali ini Pak Dharma seperti hendak berkeluh kesah. Pok Rima hampir sepuluh tahun bekerja di rumah dia, tetapi seringkali bikin Pak Dharma marah. Pok Rima selalu datang  seenaknya, terlalu siang menurutnya. Jika sakit atau tak masuk tak pernah menitip pesan kepada teman.<br />
“Kurang apa saya Jeng, instalasi listrik saya pinjami uang satu juta, pengembaliannya diangsur limapuluh ribu sebulan. Kalau ada keperluan mendadak saya tolong. Anak juga saya yang nyekolahin, sebenarnya nggak boleh ya Jeng. Ngomongin yang kita kasih, cuma Rima itu lho kok nggak ada timbal baliknya.”<br />
Saya memilih diam, membiarkan Pak  Dharma bercerita.<br />
“Kalau nggak mau masuk nggak pernah bilang terlebih dulu,” keluh Pak Dharma lagi. Saya jadi ingat ketika Pok Rima bekerja dengan saya dulu, sehabis melahirkan si bungsu.<br />
Awalnya saya minta tolong dicarikan orang sama Pok Rima untuk menggantikan Bu Sidi yang berhenti bekerja pada saya. Waktu saya melahirkan, berbarengan Bu Sidi punya cucu. Jadi memilih momong cucu dan keluar baik-baik dari saya. Tanpa saya duga Pok Rima malah menyanggupi mencuci baju di rumah, sekaligus menyeterika. Saya sudah menolak dengan alasan takut kalau dia sakit, karena bekerja di dua tempat. Dia meyakinkan saya untuk tenang saja.<br />
Tiga hari pertama Pok Rima lancar, hanya saja saya kurang nyaman. Dia datang ketika azan Zuhur mulai bergema, jadi jelas menganggu. Biasanya jam segitu pekerjaan sudah selesai, eh ini baru dimulai.<br />
Hari ke empat Pok Rima mulai aneh. Dia pulang begitu saja setelah selesai bekerja dari Pak Dharma. Esonya ketika saya tanya, mengaku sakit perut. Saya tanya apa masih sanggup bekerja di dua tempat, dia bilang bisa, tapi besoknya dia nggak masuk. Pulang begitu saja tanpa ngomong apa pun ke saya. Lima hari berturut-turut Pok Rima nggak masuk tanpa penjelasan. Saya akhirnya mencari asisten rumah tangga yang baru. Saya lebih suka menyebut asisten, ketimbang pembantu.<br />
Tanpa saya duga, di luar Pok Rima cerita ke orang-orang kalau di bekerja di tempat saya, belum juga dibayar gajinya sampai waktu itu. Saya sempat menanyakan dan sempat ngomong agak keras sama Pok Rima yang sesungguhnya lebih tua dari saya.<br />
“Kalau saya nggak kasihan sama keluarganya, saya milih dia berhenti saja Jeng.”<br />
Saya tersenyum tipis. Saya yakin, Pak Dharma tak mungkin menghentikan Pok Rima, meski orangnya kurang tanggungjawab. Saya jadi berpikir apa sebenarnya yang membuat Pok Rima suka seenaknya sendiri. Barangkali faktor keluarganya. Suaminya pengangguran, anak sulungnya yang lulusan STM, jurusan elektro malas mencari kerja. Dia tulang punggung keluarganya, mungkin saja Pok Rima kurang bahagia, dan ingin mencari perhatian kami. Mungkin.<br />
DWY  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/600/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=600&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/04/kurang-pandai-berterimakasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghilangkan Kesenian Tradisional</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/03/menghilangkan-kesenian-tradisional/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/03/menghilangkan-kesenian-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 03:37:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/2009/11/03/menghilangkan-kesenian-tradisional/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pembaca novel Sintren mengeluh kepada saya, jika salah satu tarian yang dulu menjadi kebanggaan kampungnya sekarang hampir menghilang. Tari Jaipongan, begitu ujar teman saya itu, kurang diminati kaum remaja. Dia berharap masih ada generasi muda yang masih peduli dengan budaya bangsa yang sesungguhnya selalu eksotik.
Tak berbeda dengan Jaipongan, nasib kesenian lokal yang berunsur magis, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=599&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/sintren-dpg.jpg?w=114&#038;h=150" alt="sintren.dpg" title="sintren.dpg" width="114" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-586" />Seorang pembaca novel Sintren mengeluh kepada saya, jika salah satu tarian yang dulu menjadi kebanggaan kampungnya sekarang hampir menghilang. Tari Jaipongan, begitu ujar teman saya itu, kurang diminati kaum remaja. Dia berharap masih ada generasi muda yang masih peduli dengan budaya bangsa yang sesungguhnya selalu eksotik.<span id="more-599"></span><br />
Tak berbeda dengan Jaipongan, nasib kesenian lokal yang berunsur magis, Sintren bisa saya pastikan telah punah di kabupaten Batang. Tarian yang membentang sepanjang pantura ini masih bisa dinikmati oleh warga Cirebon. Di Batang, tanah kelahiranku Sintren terakhir kali saya lihat ketika saya duduk di kelas empat SD. Sejak itu Sintren jarang dipentaskan, hingga adik-adik saya tidak tahu persis Sintren itu seperti apa.<br />
Terkadang saya ingin kembali membangkitkan tarian Sintren. Saya kadang bermimpi ada pawing atau pencari Sintren, yang bisa menghidupkan kembali salah satu kekayaan budaya yang pernah kami miliki. Entah ini hanya impian atau suatu ketika Sintren hidup lagi di Batang.<br />
DWY</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/599/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=599&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/03/menghilangkan-kesenian-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/10/sintren-dpg.jpg?w=114" medium="image">
			<media:title type="html">sintren.dpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Permintaan Maaf</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2009/11/02/permintaan-maaf/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2009/11/02/permintaan-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 06:26:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik novel NAWANG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/2009/11/02/permintaan-maaf/</guid>
		<description><![CDATA[SATU minggu sebelum bedah novel Nawang bersama Penerbit Republika, saya menulis tiga kali pemberitahuan kepada teman-teman di FB melalui status. Pemberitahuan sekaligus undangan itu berisi tentang tempat, bedah novel Nawang di acara Library and Publhiser EXPO 2009. Sabtu, 24 Oktober 2009 yang lalu. Waktunya dari pukul empat sore hingga menjelang maghrib.
Saya berterimakasih kepada teman-teman yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=598&subd=dianing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98&#038;h=150" alt="nawang" title="nawang" width="98" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-496" />SATU minggu sebelum bedah novel Nawang bersama Penerbit Republika, saya menulis tiga kali pemberitahuan kepada teman-teman di FB melalui status. Pemberitahuan sekaligus undangan itu berisi tentang tempat, bedah novel Nawang di acara Library and Publhiser EXPO 2009. Sabtu, 24 Oktober 2009 yang lalu. Waktunya dari pukul empat sore hingga menjelang maghrib.<span id="more-598"></span><br />
Saya berterimakasih kepada teman-teman yang hadir, tetapi saya sekaligus meminta maaf kepada teman-teman yang tidak tahu tentang bedah novel itu, hingga beberapa teman mengirim message ke inbox saya, yang isinya tidak tahu kalau ada bedah buku, novel Nawang .<br />
Saya berharap kelak bisa memberitahukan langsung ke inbox teman-teman, bila akan ada bedah buku, atau acara sejenis.  Terimakasih untuk dukungannya.  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/598/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&blog=978789&post=598&subd=dianing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2009/11/02/permintaan-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianing.files.wordpress.com/2009/07/nawang.jpg?w=98" medium="image">
			<media:title type="html">nawang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>