<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://dianing.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dianing.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 17:58:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dianing.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/dd778be9a47115d42e97f0d328be6645?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://dianing.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dianing.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dianing.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Asisten Rumah Tangga</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/12/29/asisten-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/12/29/asisten-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 06:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[LIBURAN tiba. Bukan anak-anak sekolah saja yang gembira, ibu-ibu seperti saya juga gembira. Setiap pagi bisa lebih santai sedikit. Bangun siang sedikit boleh, masak siang sedikit boleh, nggak masak juga boleh. Di warung makan sudah tersedia berbagai masakan, kita tinggal memilih yang kita suka. Pagi ini saya mengunjungi mbak In, sekalian memberi undangan hajatan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1016&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LIBURAN tiba. Bukan anak-anak sekolah saja yang gembira, ibu-ibu seperti saya juga gembira. Setiap pagi bisa lebih santai sedikit.  Bangun siang sedikit boleh, masak siang sedikit boleh, nggak masak juga boleh. Di warung makan sudah tersedia berbagai masakan, kita tinggal memilih yang kita suka.  <span id="more-1016"></span></p>
<p>Pagi ini saya mengunjungi mbak In, sekalian memberi undangan hajatan dari orangtua murid, teman sekelas Najwa. Sampai di sana saya langsung ke dapur. Dapur mbak In berada di  samping kiri pintu utama. Jadi kalau ada tamu, lebih suka ke dapur lalu duduk di teras, persis di depan dapur.<br />
Saya lihat mbak In baru saja selesai mencuci piring. Di atas kompor ikan tengah digoreng. Dalam hati aku menggerutu, salah waktu berkunjung.</p>
<p>“Duduk Jeng,” ujar mbak In mematikan kompor,  lalu meniriskan ikan di saringan. Menaruhnya di atas mangkok.<br />
“Murni pulang kampung  Mbak?” tanya saya sambil menarik kursi.<br />
“Nggak, itu sedang mencuci baju.” Saya menaruh undangan di atas meja makan.<br />
“Dari mama Fairuz.” Mbak In mengambil undangan hajatan khitan dengan foto dua  anak laki-laki.<br />
“Ma, Najwa sudah selesai ngepel lantainya.” Saya menautkan kening. Setahuku Murni menginap di rumah mbak In. Seluruh pekerjaan rumah tangga menjadi tanggungjawab Murni, tetapi yang saya lihat mbak In yang mencuci piring dan memasak. Lalu Najwa baru saja ngepel lantai.<br />
“Mbak In ngapain repot nyuci piring, masak sama ngepel. Bukannya ada Murni.” Mbak In tersenyum.<br />
“Mbak bisa melakukan pekerjaan lain, toh sudah ada pembantu.” Mbak In tersenyum lagi. Ia menaruh undangan ke meja, lalu menatapku.</p>
<p>“Jangan sebut dia pembantu, kurang enak didengar Jeng.”<br />
“Lha nyatanya kan memang pembantu, kita gaji untuk kita suruh-suruh.” Lagi-lagi mbak In tersenyum.<br />
“Saya lebih suka menyebut orang seperti Murni,  dengan sebutan asisten atau staf rumah tangga Jeng.  Kehadirannya dalam rumah tangga kita, hanya sebagai asisten. Tidak semua pekerjaan kita serahkan ke dia. Sifatnya hanya membantu. Selama kita bisa mengerjakan, kenapa tidak kita kerjakan sendiri.”</p>
<p>Deg. Saya lupa,  tengah bicara dengan perempuan yang sangat memuliakan pembantu.  Mbak In setiap minggu meliburkan Murni. Sehari penuh Murni boleh bermain ke mana saja Murni mau,  bersama teman-temannya. Tak hanya itu, mbak In juga memasukkan Murni ke kursus menjahit, sesuai keinginan dan bakat Murni. Murni memang tak ingin menjadi pembantu rumah tangga selamanya. Ia ingin menjadi penjahit kelak setelah berumahtangga.</p>
<p>Saya merasa ditampar dengan sangat lembut oleh mbak In. Selama ini saya kurang arif dalam memperlakukan pembantu. Saya masih suka seenaknya menyuruh-nyuruh pembantu saya,  untuk melakukan ini dan itu, padahal saya bisa melakukannya sendiri. Pelan-pelan juga saya merasa malu sendiri. Mbak In, untuk menyebut Murni  saja lebih suka dengan sebutan staf atau asisten.</p>
<p>“Mereka banyak berjasa kepada kita Jeng. Tanpa mereka saya belum bisa menjadi seperti sekarang. Selayaknya kita muliakan mereka.”  Saya mengangguk. Mengamini ucapan mbak In.<br />
Asisten atau staf rumah tangga itu juga manusia.  Punya hak untuk kita hargai dan dimanusiakan. Bukan disuruh-suruh melulu. </p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/catatan/'>Catatan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/1016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/1016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/1016/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1016&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/12/29/asisten-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sembilu</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/12/19/sembilu/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/12/19/sembilu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 14:28:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=1013</guid>
		<description><![CDATA[MATAHARI runtuh di kepala laki-laki berwajah tirus itu. Toko bahan bangunan yang bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan ludes. Api tanpa belas kasih menghanguskan semua harapan. Semua yang ada di depannya tinggal asap dengan ekor putihnya yang muncul dari sela-sela reruntuhan. Dari sela-sela benda yang hangus itu tampak benda putih kecil kehitaman bopeng di sana-sini. Pelan-pelan laki-laki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1013&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MATAHARI runtuh di kepala laki-laki berwajah tirus itu.  Toko bahan bangunan yang bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan ludes. Api tanpa belas kasih menghanguskan semua harapan.  Semua yang ada di depannya tinggal asap dengan ekor putihnya yang  muncul dari sela-sela reruntuhan.</p>
<p>Dari sela-sela benda yang hangus itu tampak benda putih kecil kehitaman bopeng di sana-sini.  Pelan-pelan laki-laki itu membungkukkan badannya. Mengambil benda itu dan menidurkannya di telapak tangannya. Menggenggamnya. Ia merasakan kehangatan di telapak tangan itu menghunjam ulu hatinya.<br />
<span id="more-1013"></span><br />
Istrinya dari kejauhan merasakan perih suaminya. Terbayang masa depan yang sepi. Tanpa penghasilan, tanpa anak-anak  yang bisa menemani mereka.  Dengan langkah terseret perempuan itu mendekati suaminya. Menyentuh bahu kanannya. Sentuhan tangan itu seolah ingin berkata bahwa kita tak perlu larut dalam duka.</p>
<p>Pelan-pelan laki-laki itu membuka telapak tangannya. Tampak oleh istrinya kunci gembok yang merana.<br />
“Kita miskin Bu, ” ujar laki-laki itu hampir tak terdengar.<br />
“Sabar Pak,” balas istrinya dengan parau masih memandangi kunci gembok yang terkulai. Laki-laki itu memejamkan mata, kemarin ia masih berada di belakang meja dengan kalkulator yang aktif karena banyak pembeli. Sekarang keduanya saling diam, memandangi asap yang keluar dari kepingan-kepingan keringat mereka.</p>
<p>*     *     *<br />
Sejak kebakaran yang menyakitkan, laki-laki tua itu tak mau lagi mengunjungi bekas tokonya. Ia trauma. Ia lebih sering berada di kamar. Seperti saat sekarangi ini. Usaha yang ia bangun sejak remaja hingga berkeluarga, dari nol hingga ia punya kios sendiri dengan omset yang membuatnya mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai sarjana, bahkan kedua anaknya tanpa ia sangka kini memiliki jabatan penting. Si sulung Dharma menjadi salah satu petinggi negara, Srikandi seperti cita-citanya di masa kecil menjadi hakim.<br />
Mengingat itu laki-laki tua tak risau dengan kehidupan Dharma dan Srikandi. Ia dengar Dharma memiliki perusahaan papan atas. Dulu ia terkejut ketika tahu bahwa calon besannya adalah konglomerat terkenal. Ia sangat minder, bagaimana mungkin hanya pedagang bahan bangunan biasa berbesan dengan pengusaha kelas kakap. Dari besan inilah yang kemudian mengubah hidup Dharma. Ia dipercaya besannya untuk mengendalikan salah satu perusahaannya setelah dikuliahkan di Amerika</p>
<p>Ia hampir pingsan ketika Dharma pamitan hendak tinggal di Amerika bersama istri selama beberapa tahun. Entah bagaimana ceritanya sekarang Dharma bisa menjadi salah satu petinggi negara. Laki-laki itu geleng-geleng kepala. Ia sama sekali tak tahu soal mengurus negara, yang ia tahu bahan bangunan yang ia jual bisa menghidupi keluarganya. </p>
<p>Srikandi sejak kecil suka berdebat dengan siapa pun. Setiap kali ibunya salah bicara, Srikandi akan mengoreksi kalimat-kalimat ibunya. Laki-laki itu ingat saat Srikandi pulang sekolah dengan berlari-lari penuh semangat. Ia mengabarkan jika ia terpilih mewakili sekolah untuk ikut debat antar sekolah sekabupaten. Tanpa ia sangka Srikandi lolos hingga tingkat nasional. Srikandi yang masih SMP membuatnya gentar. Sangat sulit baginya melepas anak perempuan ke Jakarta tanpa ia bisa menemani. Hanya ditemani beberapa guru.</p>
<p>Tiga hari tiga malam hatinya tak tenang. Jakarta dalam pikirannya kota yang tak nyaman dihuni. Hiruk pikuk masalah rumit tumpah di sana. Ia sering mendengar berita-berita aneh terjadi di Jakarta. Kemiskinan yang menggigit, tingginya kriminalitas akibat kemiskinan serta budaya acuh tak acuh. Satu lagi mengemis dijadikan pekerjaan.</p>
<p>Laki-laki itu menghela napas. Sejenak menghembuskannya dengan kasar. Ia pandangi dinding kamar. Di dinding itu potret masa kanak-kanak Dharma, Srikandi dan  Gendhis tengah berdiri di depan pintu toko bahan bangunannya. Toko yang ada di dekat pasar. Mulanya ia sewa tetapi pemilik toko membutuhkan uang dan menjualnya. Kesempatan itu ia rebut. Ia beli toko itu. Usahanya terus berkembang hingga ia mampu membeli tanah kosong yang ada di sebelah toko. Tokonya termasuk toko bahan bangunan yang terkenal di kampungnya. Lengkap dan harganya lebih murah dibandingkan toko bahan bangunan lainnya.</p>
<p>Srikandi akhirnya pulang ke rumah dengan piala dan tabungan yang jumlahnya sangat besar bagi hitungan orang kampung. Jika laki-laki itu mencemaskan kepergian Srikandi, Srikandi justru bersemangat ingin melanjutkan SMA di Jakarta. Serta merta laki-laki itu menolak. Baru ketika dibangku kuliah, laki-laki itu meluluskan keinginan Srikandi kuliah di Jakarta.</p>
<p>Laki-laki tua itu menghela napas. Dipandanginya lagi potret masa kanak-kanak ketiga anaknya. Jika Dharma menjadi petinggi negara, Srikandi menjadi hakim, Gendhis jauh sekali dengan mereka. Si bungsu memilih jadi orang aneh, setidaknya itu menurut dia. Gendhis malah masuk ke filsafat. Jurusan yang sama sekali tidak menjanjikan pekerjaan. Lebih aneh lagi Gendhis suka bikin puisi. Menurutnya dunia yang mustahil. Mau makan apa jika pekerjaannya membuat puisi?</p>
<p>Ingatannya kembali ke masa-masa di mana ia sering berbeda pendapat dengan Gendhis. Jika anak bungsu biasanya cenderung manja, Gendhis tidak. Nama yang ia sematkan pada bungsunya jauh dari gambarannya. Gendhis dalam pikirannya dulu akan tumbuh sebagai gadis ayu dan penurut, kenyataan Gendhis tumbuh menjadi perempuan yang keras kepala, keras kemauannya. Karena kekerasannya itu pula ia sempat menghentikan  biaya kuliah dan  keseharian di Jakarta beberapa bulan.</p>
<p> Ia luluh ketika tanpa sengaja membaca surat kabar ternama di Jakarta mencantumkan nama Gendhis sebagai penulis cerpen berjudul “Ayah”. Surat kabar itu sengaja dibawa oleh Dharma saat mudik ke Jawa. Akhirnya ia merestui langkah Gendhis menekuni dunia yang sangat asing baginya.<br />
Sekarang perhatian Laki-laki itu tertuju pada Gendhis.</p>
<p> “Pak,” panggil istrinya dari luar.  Ia hanya diam dan masih saja memandangi wajah Gendhis dalam potret anak-anaknya. Sejenak kemudian ia menunduk.  Terbayang lagi api yang membakar tokonya. Terbayang kesulitan beberapa karyawan yang akhirnya menganggur. Untung tabungannya cukup untuk memberi pesangon kepada semua karyawannya, meski hanya dua bulan gaji saja. Terdengar lagi panggilan istrinya, kali ini menyuruhnya untuk makan malam.</p>
<p>Tak ada sahutan, istrinya menghampirinya. Ia ikut larut dengan memandangi potret di dinding itu. Istrinya duduk di sebelahnya dan bertanya bagaimana dengan kabar mereka sekarang, sedang apa mereka.<br />
“Kata orang mereka semua sudah jadi orang Bu.”  Mendengar itu istrinya menelan ludah. Ia tak berkata-kata lagi, tetapi ada sesuatu yang aneh mengalir dalam benaknya. Sesuatu yang membuat ia merasa kesepian dan terasing.</p>
<p>*     *     *<br />
Dunia seperti tak bergerak. Begitu menjemukan. Tiga hari ini kegiatan laki-laki  itu hanya duduk dan minum kopi. Biasanya  jam sembilan pagi seperti sekarang ini, ia sudah berada di tokonya, siang sedikit rupiah sudah memenuhi laci meja. Laki-laki itu menggeleng-geleng kepala. Keikhlasan tak datang serta merta. Berkali-kali ia dinginkan hatinya untuk mau berdamai dengan kenyataan, tetapi kecewa dan susah datang bagai hantu laut. Begitu dekat dan terus mengikutinya.</p>
<p>Beberapa kali laki-laki itu istighfar, mencoba menyatukan serpihan hatinya pelan-pelan. Semua sudah terjadi. Tak mungkin kembali. Dalam perang batin antara hasrat bisa menerima kenyataan dan tidak itu, terdengar ketukan pintu. Dada laki-laki itu bertalu-talu. Siapa tamu datang pagi-pagi begini. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia punya hutang kepada seseorang? Sejauh ingatannya tidak.</p>
<p>Pintu diketuk lagi, kali ini ia beranjak dan membuka pintu. Ternyata Gendhis yang datang. Seperti kebiasaan orang Jawa, Gendhis segera meraih tangan laki-laki itu dan mencium punggung tangannya tanda hormat. Anak dan ayah itu kemudian masuk ke dalam rumah. Di sana sudah ada si istri. Gendhis segera menyalami dan mencium tangan ibunya.</p>
<p>“Mana kedua kakakmu Gendhis.”<br />
“Mereka sangat sibuk Ibu.”<br />
“Bagaimana kabar Dharma, ia masih rajin salat dan bersedekah seperti pesan ibu kan?”<br />
Gendhis menelan ludah. Dipandanginya ibunya.<br />
“Dharma hebat bisa jadi pejabat negara,” bapak mengucapkannya dengan bangga.<br />
“Kakakmu Srikandi juga hebat Gendhis, jadi hakim. Kamu tahu hakim itu sangat mulia tugasnya,” sambung bapak lagi tambah bangga.</p>
<p>Gendhis menunduk. Sembilu mencabik-cabik nadinya. Ia tak kuasa melihat sikap bapaknya yang begitu bangga dengan Dharma dan Srikandi. Kalau saja bapak tahu Dharma dan Srikandi tak seperti dalam bayangan bapak, tentu bapak kecewa. Terlebih ibu. Gendhis ingat betul ayah dan ibunya selalu menasehati agar menjadi orang jujur.</p>
<p>“Kejujuran itu kekayaan yang tak bisa dinilai oleh apa pun,” begitu ungkap ibu dulu. Duh perempuan agung itu bagaimana jika tahu kedua anak yang dibanggakan kini tersangkut kasus suap dan korupsi yang merugikan negara dalam hitungan miliar ?  Bagaimana sebentuk hati bapak, jika tahu Dharma dan Srikandi yang ditimang-timang dengan iringan doa terbaik, kini menjadi penjajah bagi saudaranya sendiri. Mereka mendapatkan predikat teramat memilukan. Menjadi koruptor. Duh Gusti, tak sanggup Gendhis membayangkan sikap kedua orangtuanya nanti jika tahu siapa Dharma dan Srikandi kini.</p>
<p>Gendhis kini terperangkap antara ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Dharma dan Srikandi atau menyimpannya saja. Entah.</p>
<p>Depok, Oktober 2011</p>
<p>Dimuat  Jurnas  Minggu, 11 Desember 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/cerpen/'>CERPEN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/1013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/1013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/1013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/1013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/1013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/1013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/1013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/1013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/1013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/1013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/1013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/1013/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/1013/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/1013/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1013&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/12/19/sembilu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uban dan Keriput</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/12/16/uban-dan-keriput/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/12/16/uban-dan-keriput/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 13:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[MINGGU pagi lalu saya gamang untuk ikut senam bersama dengan tetangga di lapangan bulu tangkis di blok sebelah. Sehari sebelumnya saya sudah bersemangat untuk mengikutinya, tetapi kondisi tubuh nggak memungkinkan. Badan satu ini terasa dipukuli orang se RT. Ups. Nggak gitu kali yaa. Dibandingkan ketika lajang dulu, kondisi tubuh serasa berbeda. Mudah lelah lalu rada-rada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1009&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MINGGU pagi lalu saya gamang untuk ikut senam bersama dengan tetangga di lapangan bulu tangkis di blok sebelah. Sehari sebelumnya saya sudah bersemangat untuk mengikutinya, tetapi kondisi tubuh nggak memungkinkan. Badan satu ini terasa dipukuli orang se RT. Ups. Nggak gitu kali yaa.<br />
<span id="more-1009"></span><br />
Dibandingkan ketika lajang dulu, kondisi tubuh serasa  berbeda. Mudah lelah lalu rada-rada demam jika kurang istirahat. Apakah saya sudah tua? Nggak juga. Usia juga baru mengintip kepala 4. Masih muda. Tentu.<br />
“Jeng,” panggilan khas mbak In terdengar dari pintu rumah yang selalu terbuka. Kecuali jika Poppy, kucing betina yang biasa tidur di teras rumah mulai suka masuk ke ruang tamu lalu ke dapur. Dengan terpaksa pintu saya tutup. Poppy memang berbeda dengan pendahulunya Puspita. Puspita  termasuk kucing yang santun.  Ia kalau sudah saya kasih ikan, tidak lagi mencari-cari ke dapur.  Puspita akan mencari sendiri di luar rumah.</p>
<p>Selalu ada yang mbak In bawa kalau ke rumah.  Sepertinya dia merasa ada yang  kurang jika ke rumah tanpa oleh-oleh.  Suami mbak In memang sering keluar kota bahkan propinsi. Kalau nggak makanan khas ya benda yang beraroma etnik. Kali ini mbak In bawa krupuk kemplang lengkap dengan sambalnya.</p>
<p>Tak lama kami hanyut dalam obrolan santai, tetapi ada yang aneh dengan mbak In kali ini. Ia sering menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung.<br />
“Aduuh uban ini kok bikin gatal Jeng kalau mau numbuh.”  Saya ingat ucapan mama Adit beberapa hari lalu. Dia cerita kalau rambutnya mau numbuh uban rasanya gatal.  Betul atau tidak saya belum tahu. Lha wong satu pun rambut saya belum beruban.</p>
<p>“Rambutmu nggak dicat hitam kan Jeng.” Saya tersenyum.<br />
“Uban itu seksi Jeng, makanya saya nggak pernah punya niat nyemir jadi hitam.” Saya mengangguk.<br />
“Tapi kita jadi kelihatan tua mbak kalau beruban.”<br />
“Emang sudah tua kan?”  Saya tersenyum lagi. Teringat akan kondisi tubuh yang tak fit seperti saat remaja.<br />
“Pernah risau nggak sih jika kita nanti beruban, berkeriput bahkan sampai lupa ingatan,” tanyaku.</p>
<p>Mbak diam sejenak. Ia seperti tengah berpikir.  Lalu dengan bahasa yang teratur dia bilang bahwa menjadi tua adalah keniscayaan.  Masa itu akan datang, tetapi menjadi tua belum tentu menjadi dewasa. Ia katakan ia sangat santai menghadapi proses menjadi tua.  Ya ubanan dan timbulnya lipatan halus di wajah.<br />
“Ini anugerah dari yang kuasa, jeng. Tak usah ditutupi melainkan dinikmati.  Yang penting kita mesti menjaga kesehatan badan.  Dan kamu nih &#8230;” tiba-tiba mbak In menatapku.<br />
“Kalau badanmu pegal itu sinyal tubuh ngajak istirahat.  Matikan laptop. Jangan FB-an melulu.”<br />
Glek.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/catatan/'>Catatan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/1009/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1009&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/12/16/uban-dan-keriput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ranah Pribadi di FB</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/12/07/ranah-pribadi-di-fb/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/12/07/ranah-pribadi-di-fb/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 14:38:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=1004</guid>
		<description><![CDATA[SEJAK kenal facebook atau FB, tiada hari tanpa nulis status. Tak terkecuali saya. Tak jarang saya suka melihat-lihat status teman saya. Ada banyak tema dijadikan status, dari tema pendidikan, geliat politik terkini sampai seluk beluk dapur. Dari status FB kita bisa mengetahui keberadaan seseorang, tetapi setiap kali saya mengunjungi FB mbak In, tak pernah ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1004&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEJAK kenal facebook atau FB, tiada hari tanpa nulis status.  Tak terkecuali saya. Tak jarang saya suka melihat-lihat status teman saya. Ada banyak tema dijadikan status, dari tema pendidikan, geliat politik terkini sampai seluk beluk dapur.<br />
<span id="more-1004"></span><br />
Dari status FB kita bisa mengetahui keberadaan seseorang, tetapi setiap kali saya mengunjungi FB mbak In, tak pernah ia menuliskan keadaannya saat ini. Mbak In tak pernah menuliskan tentang perasaannya saat ini, apakah ia sedang sedih, bahagia atau sedang marah. Ia lebih suka menulis status hal yang penting-penting saja. Biasanya dia menulis soal politik, olahraga, terkadang soal pendidikan.</p>
<p>Disaat aku tengah memikirkan mbak In, terdengar salamnya dari ruang tamu. Pintu yang terbuka membuat saya lebih mudah mendengar suara salamnya. Tak lama kami hanyut dalam obrolan ringan, setelah makanan kecil dan air putih saya hidangkan di meja. Ditengah obrolan kami, terdengar suara BB mbak In. Ia segera membuka. Sejenak kemudian ia tersenyum. Membuat saya ikut tersenyum.</p>
<p>“FB Jeng,” ujarnya seperti hendak menjelaskan jika mbak In tengah membuka FB lewat perangkat canggih bernama blackberry. Tak lama mbak In tersenyum lagi.  Barangkali ada koment-koment lucu, pikirku. Kali ini mbak In tertawa lirih. Barangkali ada status lucu, pikirku lagi.<br />
“Ealaah &#8230;” saya menautkan kening.<br />
“Coba Jeng dengar.” Saya mencoba pasang muka serius.</p>
<p>“Status begini Jeng, pekerjaan sudah selesai. Matahari sudah naik, suami masih tidur mendengkur. Capek deh.” Saya menghela napas.<br />
“Ada lagi Jeng.  Sudah pembukaan 2 nih, dag dig dug nungguin istri mo lahiran.” Saya menghela napas lagi.<br />
“Nah yang ini shalat sambil FB-an kali yaa.  Masak nulis status shalat dulu yaa.” Saya diam.<br />
“Ada lagi Jeng, ini lebih bagaimana gitu.”<br />
“Bagaimana, gimana Mbak?”</p>
<p>Mbak In malah diam. Membuat aku penasaran. Ia justru memberikan blackberrynya ke saya.<br />
“Coba Jeng baca pantas nggak sih status seperti ini.” Saya menggeleng-geleng kepala.  Malu membacanya.<br />
Sejenak suasana hening.  Memang tak jarang hal-hal yang mestinya disimpan rapat-rapat. Persoalan yang menyangkut ranah pribadi justru sengaja dirayakan di FB. Bayangkan saja seorang yang cukup dikenal menuliskan masalah ranjang di statusnya.  Kemudian ramai-ramai dikomentari oleh teman-temannya.  Jadilah hal yang mestinya hanya menjadi konsumsi pribadi bisa diketahui banyak orang.</p>
<p>“Kita ini kok gegar teknologi ya Jeng.”<br />
“Sebagian mbak,” ujarku.<br />
“Mestinya FB itu bisa kita manfaatkan sebagai ajang silaturahim, bukan ajang membuka ranah pribadi.”  Saya jadi ingat seseorang yang gagap teknologi alias gaptek.  Saya pikir orang yang gaptek jauh lebih beruntung daripada orang yang gegar teknologi.</p>
<p>Orang gaptek masalah pribadinya tak akan diketahui oleh orang lain, tetapi orang yang gegar teknologi masalah pribadinya bisa diketahui orang lain.</p>
<p>Depok, 7 Desember 2011 </p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/catatan/'>Catatan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/1004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/1004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/1004/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=1004&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/12/07/ranah-pribadi-di-fb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seni dan Olahraga</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/11/21/seni-dan-olahraga/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/11/21/seni-dan-olahraga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 13:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[AKHIR-akhir ini perhatian kita tertuju pada pesta Sea Games yang dibuka dengan perayaan sangat megah, saking megahnya mampu memunggungi realitas sosial kita. Saya menautkan kening. Tak perlu jauh untuk menemukan kaum dhuafa. Tak jauh dari tempat saya tinggal kegetiran begitu nyata. Anak-anak terhenti langkahnya untuk sekolah, karena ketiadaan biaya. Rata-rata perempuan di dekat saya tinggal, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=998&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AKHIR-akhir ini perhatian kita tertuju pada pesta Sea Games yang dibuka dengan perayaan sangat megah, saking megahnya mampu memunggungi realitas sosial kita. Saya menautkan kening. Tak perlu jauh untuk menemukan kaum dhuafa. Tak jauh dari tempat saya tinggal kegetiran begitu nyata. Anak-anak terhenti langkahnya untuk sekolah, karena ketiadaan biaya.<br />
<span id="more-998"></span><br />
Rata-rata perempuan di dekat saya tinggal,  menjadi pembantu rumah tangga paruh waktu. Penghasilan mereka berkisar Rp. 500.000 sebulan. Tak sedikit para suami di rumah menjaga anak-anak karena belum ada pekerjaan. Pemerintah memang membebaskan biaya sekolah selama 9 tahun, tetapi pada prakteknya masih saja ada sekolah negeri yang menarik biaya tanpa laporan keuangan yang transparan.</p>
<p>Saya menghela napas, hampir sulit menemukan ruang untuk bernapas lega di negeri ini. Hampir di setiap sudut selalu ada oknum pejabat negara yang korup. Kasus dugaan korupsi pada wisma atlet sea games adalah kenyataan yang sangat memalukan.</p>
<p>“Jeng,” samar-samar terdengar suara mbak In.<br />
“Jeng,” saya terhenyak. Mbak In sudah berada di samping saya. Kami duduk di teras rumah dan seperti biasa ia datang ke rumah lengkap dengan makanan kecil. Bahkan kali ini bawa dua kemasan kotak minuman ringan.<br />
“Dari tadi melamun saja Jeng. Belum dapat tiket nonton bola yaa.” Saya tersenyum. Mbak segera membuka makanan kecil dan menyuruhku makan.</p>
<p>“Saya nggak sanggup nonton bola Mbak,  kalau kita lawan Malaysia. Cukup dengerin teriakan Rizki aja.”<br />
“Untung ada olahraga Jeng.”<br />
“Iya bikin badan sehat,” ujar saya ringan.<br />
“Bukan sekedar itu.” Saya menatap ke mbak In.<br />
Mbak In kali ini mengeluarkan minuman kemasan.<br />
“Beruntung di dunia ini ada olahraga dan seni Jeng. Coba jika tak ada,  sepanjang masa dunia isinya  ricuh.”<br />
“Benar juga ya,” gumam saya.<br />
“Coba Jeng perhatikan kehidupan politik dan agama di negeri ini. Lalu bandingkan dengan seni budaya dan olahraga.  Jika politik dan agama tak jarang membuat kita tercerai berai, seni dan olahraga seringkali mampu menyatukan kita.”<br />
Saya tercenung. Mencoba memikirkan kalimat mbak In.</p>
<p>Depok, 21 November 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/catatan/'>Catatan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/998/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=998&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/11/21/seni-dan-olahraga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qurban dengan uang, mengapa tidak?</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/11/10/qurban-dengan-uang-mengapa-tidak/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/11/10/qurban-dengan-uang-mengapa-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 05:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=995</guid>
		<description><![CDATA[PAGI. Aku ke ruang depan begitu terdengar salam. Mbak In dengan kantung kresek hitam berdiri di depanku, begitu pintu terbuka. “Jeng mau daging yaa…” Aku menautkan kening. Kemarin sore kurang lebih sekilo daging yang diberi pak RT saja belum dimasak. Aku persilahkan mbak In duduk. Ia menuju ke kursi sambil mengeluh bingung. Daging 4 kg [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=995&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PAGI. Aku ke ruang depan begitu terdengar salam. Mbak In dengan kantung kresek hitam berdiri di depanku, begitu  pintu terbuka.<br />
“Jeng mau daging yaa…”  Aku menautkan kening. Kemarin sore kurang lebih sekilo daging yang diberi pak RT saja belum dimasak. Aku persilahkan mbak In duduk. Ia menuju ke kursi sambil mengeluh bingung. Daging 4 kg yang ia dapat dari masjid, sekolah anaknya, dan kantor suami itu mau diapakan.<br />
Pasalnya ia merasa tak berhak mendapatkan daging qurban.<br />
“Saya sudah masak Jeng. Untuk apa daging ini.”  Aku diam lalu duduk di samping mbak In dengan meja perantaranya. Suasana hening sejenak.<br />
<span id="more-995"></span><br />
“Kadang saya berpikir apakah tidak sebaiknya setiap Idul Adha itu ada yang berqurban dengan uang saja.” Aku menelan ludah mendengar ucapan mbak In yang seperti igauan itu.</p>
<p>Idul Adha dirayakan dengan megah setiap tahun. Seluruh Indonesia menyembelih massal hewan ternak sebagai tanda kepatuhan umat sama Allah. Mbak In mengusulkan agar hewan ternak diganti dengan uang? Hatiku kecut. Takut idenya membuat ia divonis sebagai orang yang picik. Nggak waras.  Bagaimana mungkin mengganti kambing dengan uang?</p>
<p>“Tak ada yang abadi Jeng, selain perubahan.” Aku tersihir dengan ucapannya. Semakin ingin aku mendengar pikiran-pikirannya. Mbak In membetulkan letak 4 kg daging di atas meja, yang sebetulnya tak salah letaknya. Ia menatapku.</p>
<p>“Zakat fitrah saja bisa kita bayar dengan uang tunai.” Aku mengamininya.<br />
“Ibrahim ketika dikhitan tidak menggunakan laser, kemarin Daren dikhitan dengan laser. Apakah kita menyalahi perintah Allah jika dari cara Ibrahim dikhitan dengan cara anak sekarang dikhitan berbeda?” Aku menelan ludah.  Pertanda mengamini kalimatnya.</p>
<p>“Dulu Rasul kemana-mana naik Onta, Jeng. Sekarang kalau sampean pergi ke luar propinsi apakah naik onta juga?” Aku tersenyum simpul.<br />
“Dulu kalau sikat gigi zamannya rasul pakai siwak, sekarang anakmu gosok gigi apakah masih menggunakan siwak juga Jeng?”  Saya menghela napas. Suasana hening kembali, tetapi pikiranku tentang ide mbak In berqurban dengan uang belum nyambung.</p>
<p>“Jeng berapa jumlah anak gelandangan, anak-anak miskin, anak yatim piatu, anak jalanan?”<br />
“Entah Mbak,” ucapku lirih.<br />
“Kalau saja kita mau menyesuaikan jumlah kaum dhuafa yang berhak menerima daging qurban, lalu muslim yang ingin berqurban tak harus berbentuk hewan ternak. Dapat dibayangkan berapa milyar rupiah terkumpul setiap tahun Jeng. Uang itu kita kelola untuk menyekolahkan fakir miskin, yatimpiatu, memberi modal simiskin untuk mandiri. Pokoknya untuk kesalehan sosial yang nyata.” Aku menunduk.</p>
<p>“Itu sudah diatur dalam infak, sodaqoh dan amal jariah”<br />
“Kenyataan infak, sodaqoh itu belum mampu memenuhi kebutuhan anak-anak yang tersisih itu Jeng. Sedang qurban dirayakan setiap tahun dengan serentak. Andai saja  qurban bisa diganti dengan uang,” mbak In mengulang-ulang idenya.</p>
<p>Tak mungkin mbak In, kecuali sampean sudah nggak waras.  Duh kenapa aku jadi termakan oleh dogma? Berqurban harus menyembelih hewan ternak?  Sementara dikisahkan saat Ismail hendak disembelih diganti Allah dengan domba.  Kenyataan berqurban tak melulu dengan menyembelih domba. Muslim kemudian berqurban dengan menyembelih sapi, bahkan onta.  Lalu mengapa tidak dengan uang?  Apakah karena uang tak bisa disembelih?</p>
<p>“Jeng” Mbak In tiba-tiba berdiri dan mengambil daging di meja.<br />
“Mau dikasih Murni Mbak?”<br />
“Murni malah minta mentahnya tadi. Dia bilang ganti uang saja Bu untuk beli seragam sekolah. Aku jalan dulu Jeng.”<br />
“Ke mana?”<br />
“Ke pasar jual daging ini.  Uangnya aku berikan ke yayasan yatim piatu dekat perumahan sebelah.”<br />
“Saya ikut.”<br />
“Ngapain.”<br />
“Jual daging dari pak RT.”<br />
“Belum di masak?” Aku nyengir.</p>
<p>*     *      *<br />
Hasil penjualan daging kambing itu langsung kami antar ke rumah Yayasan Yatim Piatu terdekat. Dalam perjalan pulang aku bertanya pada mbak In. Apakah kita menyalahi aturan Allah Mbak. Menjual daging itu lalu menyerahkannya ke yatimpiatu.</p>
<p>Mbak In menatapku dia bilang.”Terserah kata orang Jeng. Aku dibilang picik, nggak waras, liberal, kafir dan sesat sekali pun. Saya tak peduli.” Aku menunduk. Mbak In meraih tanganku. Menatapku sekali lagi.<br />
“Yang penting aku tidak mengingkari nuraniku,” ujarnya sambil menyentuhkan telapak tangan kanannya ke dadanya.</p>
<p>Depok, November 2011 </p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/catatan/'>Catatan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/995/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/995/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/995/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=995&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/11/10/qurban-dengan-uang-mengapa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Engkau adalah Rumah</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/11/07/engkau-adalah-rumah/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/11/07/engkau-adalah-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 15:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=992</guid>
		<description><![CDATA[MATAHARI pecah di kepalaku. Kebahagiaan di depan mata itu, engkau hancurkan Layla. Tanggal pernikahan yang kita sepakati bagai mainan bagimu. Ponselmu tak pernah aktif. Apartementmu kosong. Teman-teman kantormu hanya bilang kamu pindah tanpa meninggalkan alamat kerja baru. Kedua orangtuamu, saudaramu hanya mengangkat bahu ketika aku tanya keberadaanmu. Berbilang tahun aku memilih sendiri. Aku tak punya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=992&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MATAHARI pecah di kepalaku. Kebahagiaan di depan mata itu, engkau hancurkan Layla. Tanggal pernikahan yang kita sepakati bagai mainan bagimu. Ponselmu tak pernah aktif. Apartementmu kosong. Teman-teman kantormu hanya bilang kamu pindah tanpa meninggalkan alamat kerja baru. Kedua orangtuamu, saudaramu hanya mengangkat bahu ketika aku tanya keberadaanmu.<br />
<span id="more-992"></span><br />
Berbilang tahun aku memilih sendiri. Aku tak punya hasrat dengan siapa pun selain dirimu. Lalu hampir setiap aku pulang kampung, selalu saja pertanyaan yang berulang ibu tanyakan kepadaku. Kapan menikah Ganang? </p>
<p>Pertanyaan ibu yang berulang, kesulitanku membunuh bayanganmu membuat aku frustasi. Aku harus menenggelamkan diri untuk melupakanmu Layla, hingga aku menemukan duniaku. Mengumpulkan anak-anak jalanan untuk aku sekolahkan bersama beberapa teman.<br />
*     *     *<br />
Darahku berdesir saat aku temukan engkau di sebuah sekolah dasar dengan menggandeng seorang anak laki-laki.  Sampai hatimu Layla. Engkau meninggalkanku demi laki-laki lain. Sekarang di sampingmu seorang anak laki-laki menambah hatiku teriris. Engkau menggandengnya dengan penuh kasih. Tentu karena kamu adalah ibunya.<br />
Aku pun menyekolahkan seorang anak di sini. Sayang dia bukan anak kandungku, melainkan anak yang terlantar. Ayahnya meninggalkannya setahun lalu saat ia berusia lima tahun. Kakaknya saat ini kelas dua SMP. Untuk menyambung hidup ibu mereka menjadi pencuci baju di  tiga rumah.</p>
<p>Layla, banyak dari anak-anak yang aku dan teman-teman sekolahkan datang dari keluarga berantakan. Suami yang pergi mendadak lalu bertahun-tahun tanpa kabar, ayah yang sembunyi-sembunyi menikah lagi dan memilih menceraikan istri pertama, setelah istri pertama mengetahui dan tidak menerima.  Ada lagi suami yang mengusir istri dan anaknya setelah ia menikah lagi.</p>
<p>Layla, engkau tak akan percaya dengan ceritaku, seperti halnya saat pertama aku menghadapi kenyataan. Banyak istri  yang dizalimi suaminya lalu anak-anak ikut terseret di dalamnya.  Ironisnya mereka dari kaum papa, lalu pendidikan anak-anak terbengkalai karena si istri harus bekerja sendirian. Untuk melupakanmu Layla aku dan temanku menggalang dana. Menyelamatkan anak-anak mereka.</p>
<p>Pelan-pelan pergaulanku dengan mereka,  membuat aku merasa mereka bagian dalam hidupku. Aku bahagia di sini Layla. Aku menghela napas sembari melihatmu dari kejauhan. Seandainya dulu engkau tetap menikah denganku tentu bahagiaku sempurna.</p>
<p>Melihat anak yang engkau gandeng itu, aku menautkan kening. Kita berpisah belum genap lima tahun. Kini engkau menggandeng anak usia tujuh tahunan. Logikanya jika engkau langsung hamil setelah menikah anakmu baru berusia empat sampai lima tahun. Anak siapa dia Layla. Mungkinkah engkau meninggalkanku untuk menikah dengan duda kaya raya?<br />
*     *     *</p>
<p>Layla, sejak pertemuan kita di sekolah itu, aku ingin tahu keberadaanmu. Aku ingin tahu tetapi sejenak hatiku susut. Tak pantas jika aku  menelusuri jejakmu, sementara kamu sekarang adalah istri orang. Maka setiap aku mengantar anak yang aku sekolahkan itu, aku hanya berani melihatmu dari jauh. Tetapi tahukah kamu Layla, sungguh aku sangat ingin menyapamu meski hanya sekedar bertanya kabar.</p>
<p>Hingga suatu hari aku berpikir mengapa kamu selalu sendirian mengantar anakmu sekolah? Aku belum pernah melihatmu bersama suami. Hal ini membuatku menduga-duga tentang kamu. Mungkinkah kamu kini menjanda. Pikiran curangku berujar itu jauh lebih baik. Aku mau menjadi suamimu Layla. Tak peduli kamu adalah janda dengan beberapa anak.</p>
<p>Satu tahun sudah cukup bagiku untuk menuntaskan rasa penasaranku. Di hari pengambilan rapor kamu datang sendiri. Engkau terkejut ketika aku menyapamu. Semula engkau melihatku seperti melihat hantu di siang hari. Terlihat engkau ingin berlari tetapi sikap santun yang engkau punya membuatmu bertanya kabarku. Tentu kabarku sangat buruk.</p>
<p>Engkau lalu menghela napas. Menunduk. Tiba-tiba anak kecil yang selalu engkau antar itu menghampirimu, bergelayut di pinggangmu.<br />
“Tante pulang.” Jantungku berhenti berdetak. Anak itu memanggilmu tante, bukan ibu atau mama.<br />
“Attar,” tiba-tiba seorang gadis menghampiri anak laki-laki itu dan merayunya untuk mau  pulang dengannya. Anak itu mengiyakan.<br />
“Mbak, Attar pulang sama saya ya,” ujar gadis itu. Engkau mengangguk. Aku lihat anak laki-laki bernama Attar itu sangat akrab dengan gadis itu. Terdengar juga ajakan gadis itu ke sanggar untuk mengambil buku bacaan baru.</p>
<p>Sekarang tinggal aku dan engkau. Sekolah satu persatu ditinggalkan penghuninya. Siang itu aku beranikan diri memintamu berbincang sejenak. Tanpa aku duga engkau malah mengajakku ikut ke mobilmu. Aku terpana. Bagaimana mungkin seorang istri satu mobil dengan laki-laki yang bukan suaminya? Aku ragu tetapi engkau dengan santai menggandeng lenganku.</p>
<p>Jantungku bergemuruh Layla saat engkau bimbing lenganku, terlebih ketika kita benar-benar berada  dalam mobil. Aku panas dingin. Aku takut jika ada yang melihat kita dan mengadu ke suamimu. Engkau malah tersenyum tipis ketika aku sampaikan kecemasanku. Membuat aku menduga-duga tentang suamimu.<br />
“Aku belum pernah menikah Ga,” ucapmu tanpa menolehku. Aku tertegun. Lima tahun lalu engkau pergi begitu tiba-tiba. Sekarang engkau mengaku belum menikah. Lalu anak yang selalu kau antar sekolah itu anak siapa. Engkau menjelaskan jika anak itu bukan anakmu. Aku belum tahu ke mana arah bicaramu. Tak lama kamu belokkan mobil ke kiri. Terus masuk ke dalam, sepanjang jalan adalah rel kereta api. Kamu terus melajukan mobil tanpa aku tahu arah tujuanmu. </p>
<p>Tak lama kemudian engkau hentikan mobil. Aku memandangmu sejenak. Di depan sana sampah menggunung. Engkau menurunkan kaca mobil lalu mematikan mesin. Engkau memandang ke gunungan sampah itu.<br />
“Attar aku temukan meringkuk di situ.” Aku mengikuti arah telunjukmu. Sebuah batu besar.<br />
“Tubuhnya memar-memar, dia bilang dipukuli oleh ayahnya.” Aku menunduk. Bagaimana mungkin seorang ayah memukuli anaknya yang masih kecil.  Jauh di lubuk hatiku, aku sangat ingin memiliki keturunan. Aku ingin uang dari keringatku bisa dinikmati anak dan istriku. Betapa menyenangkan punya anak sendiri. Pulang kerja kita disambut anak, hilang sudah letih karena senyum dan tawa mereka. Setiap pekan aku bisa membawa anak-anakku keluar rumah. Makan di rumah makan favorit, atau jalan-jalan ke taman, atau pergi ke bioskop. Alangkah senangnya melihat anak-anakku bersama perempuan yang aku cinta, Layla.</p>
<p>Dadaku terasa sesak. Kenyataan menamparku keras. Air ludah yang aku telan terasa perih di kerongkongan. Aku menghela napas lagi. Aku sebut nama Layla dalam-dalam menelusuri rongga dadaku.<br />
“Attar menolak. Ia ketakutan ketika aku ingin mengantarnya pulang,” ucapmu diantara rasa nyeri hatiku. Lalu panjang lebar engkau cerita. Sejak  berpisah denganku engkau mengaku patah hati. Aku terpana. Apakah engkau tak tahu Layla? Aku remuk redam karena kepergianmu? Aku terpana lagi ketika engkau mencari anak-anak yang ditelantarkan orangtuanya untuk kamu sekolahkan, kamu tampung di sebuah rumah, kamu bimbing mereka untuk memiliki semangat untuk maju. Engkau katakan itu sebagai pelarianmu.<br />
“Aku ingin mereka punya impian,” ujarmu kemudian.</p>
<p>Aku diam. Duduk di sampingmu akan menjadi sia-sia jika aku tak mendesakmu untuk mengatakan alasanmu tak menikah sampai sekarang.<br />
“Aku tak mungkin menikah Ganang.” Aku terhenyak. Tanpa menunggu pertanyaanku engkau menjawab dengan terbata-bata. Penyakit yang engkau derita tak memungkinkan untuk hamil. Aku tercengang ketika engkau menyebut nama penyakit yang menyeramkan itu. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu rahimmu harus diangkat. Kamu jelas tak bisa hamil. Satu hal yang aku sesalkan mengapa engkau tak pernah cerita.<br />
“Aku takut,” ucapmu pendek sambil menunduk.</p>
<p>Aku lemas. Aku sandarkan kepala di jok mobil. Memejamkan mata. Tak aku sangka sama sekali.<br />
“Kita hampir menikah Layla, kita sudah memesan undangan. Tiba-tiba &#8230;”<br />
“Aku bingung, frustasi tak tahu harus bagaimana. Menikah denganmu sangat tidak mungkin. Laki-laki mana yang mau menikah dengan perempuan yang tak bisa memberi keturunan.” Aku menghela napas dalam-dalam. Aku angkat kepalaku. Memandangnya lekat-lekat. Aku memintanya untuk diantar pulang.<br />
*     *     *</p>
<p>Aku rebahkan tubuhku di atas kasur. Penjelasan Layla tadi siang mengoyak batinku. Pelan-pelan mengalir perasaan iba padanya. Lima tahun bukan waktu pendek untuk kesendirian. Aku sampai detik ini masih menyimpan perasaan sayang kepadanya. Aku memang ingin menikahinya, lalu dari rahimnya lahir anak-anakku. Aku menggeleng. Layla tak bisa memberiku keturunan. Apa arti hidup tanpa keturunan, aku tak bisa membayangkan begitu hari-hari senyap tanpa anak-anak.</p>
<p>Betapa kejamnya aku jika meninggalkan Layla karena kanker ovarium yang diderita. Haruskah ia menanggung sendiri sakitnya?  Ini tidak adil. Pantaskah aku meninggalkannya setelah tahu ia tak bisa memberiku anak?<br />
Aku beranjak dari tempat tidurku. Akan aku temui Layla. Akan aku mohon padanya untuk mau menikah denganku. Tak peduli ia tak bisa memberiku anak. Bersamanya aku ingin menyekolahkan banyak anak lagi. Anak-anak dari kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tanganku, Layla juga kita.</p>
<p>Depok, Oktober 2011 </p>
<p>Suara Karya, 5 November 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/cerpen/'>CERPEN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/992/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/992/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/992/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/992/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/992/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/992/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/992/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/992/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/992/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/992/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/992/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/992/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/992/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/992/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=992&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/11/07/engkau-adalah-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sayangi Anak Kita</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/10/25/sayangi-anak-kita/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/10/25/sayangi-anak-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 14:32:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL RINGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=988</guid>
		<description><![CDATA[SAYA menghela napas ketika mbak In datang ke rumah dengan wajah menyimpan masalah. Ada apa gerangan yang tengah membelit pikiran mbak In hingga ucapan salam yang ia sampaikan terucap lirih. Aku membalas salamnya dengan lirih pula seolah larut dengan wajahnya yang muram. Aku enggan bertanya sama mbak In. Lebih baik aku bikinkan dia segelas kopi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=988&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SAYA menghela napas ketika mbak In datang ke rumah dengan wajah menyimpan masalah. Ada apa gerangan yang tengah membelit pikiran mbak In hingga ucapan salam yang ia sampaikan terucap lirih.  Aku membalas salamnya dengan lirih pula seolah larut dengan wajahnya yang muram.</p>
<p>Aku  enggan bertanya sama mbak In. Lebih baik aku bikinkan dia segelas kopi Ulee   Kareng dicampur dengan susu kental putih. Mantabs. Tapi baru hendak melangkah ke dalam, mbak In mencegahku dan duduk di ruang tamu.<br />
“Aku hanya sebentar Jeng, sebentar lagi mengantar Najwa ke sekolah.”<br />
“Paud Melati?” Mbak In mengangguk.<br />
“Biasanya Lila yang mengantar Najwa.”<br />
“Itu dia Jeng saya ini sedang bingung.”<br />
“Kenapa?” Saya kemudian duduk.<br />
<span id="more-988"></span><br />
Tampak mbak In tengah berusaha menenangkan diri.<br />
“Saya ini bingung menghadapi Lila Jeng.” Aku menautkan kening.  Lila adalah asisten rumah tangga mbak In yang baru. Pekerjaannya hanya mengurusi Najwa. Untuk pekerjaan rumah yang lainnya sudah ada yang mengerjakannya.<br />
“Saya keliru menerima dia sebagai pengasuh Najwa. Anaknya mudah marah. Nggak bisa ngemong.”<br />
Saya tercengang. Baru kali ini saya lihat mbak In tampak nggak nyaman.  Terbersit dalam benak saya satu pertanyaan, mengapa mbak In tiba-tiba menerima pengasuh anak? Sebelumnya ia sangat enjoy mengasuh Najwa sambil menjalankan usaha yang mbak In jalankan dengan cara online.<br />
“Saya sudah menolaknya Jeng, ketika dia dititipkan seorang teman. Masak lulusan D3 mau jadi apa saja di rumah. Katanya malu sudah jauh meninggalkan kampung kok balik lagi.” Saya mengangguk kecil berkali-kali.<br />
“Sampai akhirnya saya terima dia sebagai pengasuh Najwa sambil mencari pekerjaan di sini.”  Saya mengangguk kecil berkali-kali lagi.<br />
“Jeng.”<br />
“Iya Mbak,” saya agak terhenyak.<br />
“Jangan diam saja, beri saya jalan keluar. Beberapa tetangga bilang ke saya kalau Najwa suda dibentak-bentak kalau tidak mau belajar menulis di sekolah. Kadang dicubit, dipaksa duduk.” Mbak In menghela napas.<br />
“Tak jarang Lila suka memukul Najwa.” Saya tertegun. Segawat itukah? Najwa baru 4 tahun. Anak seusia dia semestinya belum punya kewajiban bersekolah, tetapi  zaman sekarang jauh berbeda dengan masa kecil saya dulu. </p>
<p>Masa kecil saya sekolah ketika usia tujuh tahun. Di bangku sekolah dasar itulah saya baru dikenalkan huruf dan menghitung. Zaman sekarang usia tiga tahun sudah mulai masuk kelompok belajar bersama. Di usia itu anak sudah dikenalkan huruf dan angka.</p>
<p>Saya pikir betapa sangat singkat masa kanak-kanak anak zaman sekarang. Tetapi jika orangtua tak mengikuti zaman, anak-anak lebih kasihan lagi. Ia akan tertinggal dengan temannya.  Sekarang anak begitu masuk sekolah dasar, sudah siap belajar. Mereka sudah bisa membaca dengan lancar.</p>
<p>Kembali ke Najwa, anak sekecil itu mendapat perlakuan kurang menyenangkan oleh Lila.<br />
“Kalau saya berhentikan Lila kasihan dia. Kalau saya pertahankan kasihan Najwa.” Saya menautkan kening. Baru kali ini saya lihat mbak In gamang. Ia menatap saya. Saya bayangkan jika saya adalah mbak In mungkin saya akan mengalami hal yang sama. Bingung. Menghentikan Lila berarti memutus hubungan kerja. Sementara dia adalah pendatang di Jakarta yang tentu sangat membutuhkan pekerjaan.</p>
<p>Di sisi lain, terus memperkerjakan Lila sama artinya melanggar hak asasi Najwa.  Anak seusia dia sangat tidak mungkin dipaksa untuk duduk tenang di sekolah. Disuruh menulis di sekolah dengan dibentak-bentak terlebih dulu.<br />
“Saya harus menghentikan Lila, Jeng. Saya harus mengasuh sendiri Najwa.” Saya menatapnya.<br />
“Saya harus mendorong Lila untuk kuliah lagi sambil bekerja. Untuk sementara biar dia tinggal di rumah sambil mencari pekerjaan.”<br />
Untuk kesekian kali saya dibuat terbengong-bengong dengan sikap mbak In. Lila bukan saudara mbak In. Dia hanya titipan teman mbak In. Lila yang sudah menyakiti Najwa tetap saja mbak In tolong.  Mbak In menampung Lila di rumah, bukan mengembalikannya ke kampung.</p>
<p>Depok, Oktober 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/artikel-ringan/'>ARTIKEL RINGAN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/988/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=988&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/10/25/sayangi-anak-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikah</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/10/18/menikah/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/10/18/menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 12:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=985</guid>
		<description><![CDATA[Dianing Widya Yudhistira AKU menggeleng tegas di depan Indra. Dari air mukanya aku tahu jelas langit telah runtuh dalam tubuhnya. Lamarannya aku tolak. Aku menolaknya bukan karena wajahnya yang pas-pasan, bukan juga karena dia pemuda tanpa penghasilan. Postur tubuhnya tinggi atletis, dengan hidung mancung serta bola mata yang mampu menggetarkan rasaku. Aku sering dibuatnya cemburu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=985&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dianing Widya Yudhistira</p>
<p>AKU menggeleng tegas di depan Indra. Dari air mukanya aku tahu jelas langit telah runtuh dalam tubuhnya. Lamarannya aku tolak. Aku menolaknya bukan karena wajahnya yang pas-pasan, bukan juga karena dia pemuda tanpa penghasilan. Postur tubuhnya tinggi atletis, dengan hidung mancung serta bola mata yang mampu menggetarkan rasaku. Aku sering dibuatnya cemburu jika ia tengah berbincang-bincang dengan teman perempuan di kantorku.</p>
<p>Ia laki-laki yang hampir tanpa cela. Jenjang pendidikannya lebih tinggi dari aku yang sarjana. Aku memang lebih menyukai laki-laki yang tingkat kecerdasannya di atasku, bukan di bawahku. Laki-laki atau suami bagiku bukan sekedar teman hidup di rumah, melainkan pendukung karir istri.<br />
Indra sosok paling ideal. Ia sangat peduli dengan isu-isu perempuan. Ia sangat mendukung perempuan dalam berkarya.<br />
“Aku ingin istriku kelak bukan istri yang pekerjaannya di dapur melulu, tetapi istri yang mau tampil ke depan.” Ucapnya suatu ketika. Saat itu aku membayangkan betapa senangnya jika punya suami seperti Indra.<br />
Lalu apa alasanku menolak Indra? Ini masalahnya. Aku seringkali melihat sosok bapak ada pada setiap laki-laki. Entah berapa laki-laki yang datang dan pergi dalam hidupku. Aku selalu menjaga jarak jika aku mulai membaca bahasa tubuh laki-laki telah tertarik padaku. Lalu dengan tegas aku menolak jika diajak menikah. Aku takut nasib buruk ibuku diwariskan kepadaku.<br />
*     *     *<br />
<span id="more-985"></span><br />
Aku tak ingat persis ketika bapak pergi meninggalkan rumah. Ketika itu entah aku kelas satu atau kelas dua Sekolah Dasar atau malah kelas tiga. Yang aku ingat ayah pergi tak lama setelah kakek menanam pohon samboja di halaman rumah.</p>
<p>Aku heran mengapa kakek menanam Samboja. Mengapa bukan pohon yang lain?  Samboja biasanya berdiri kokoh di makam, daunnya lebat seolah menaungi jasad yang tertanam di bawahnya. Tetapi daunnya yang menua seringkali terkulai di tanah mengabarkan betapa manusia fana. Sejak ada samboja aku selalu dihantui pikiran buruk. Aku  takut peristiwa buruk akan menimpa keluargaku.</p>
<p>Hingga di subuh yang belum sempurna. Aku terjaga oleh percakapan bapak dan ibuku. Kalimat-kalimat mereka saling berkejaran susul menyusul tak ada jeda. Ibu dengan suara tak tertahan memohon kepada bapak untuk memperhatikan aku dan adikku yang masih bayi. Memang Bapak jarang di rumah.</p>
<p>Biasanya seorang bapak akan pergi pagi-pagi lalu pulang sore. Atau pergi agak siang dan pulang agak malam, tetapi bapak selalu pulang larut malam dan bangun untuk pergi lagi di sore hari. Setiap kali Ibu bertanya hendak ke mana, bukan jawaban yang ibu terima melainkan caci maki dan tak jarang bapak memukul ibu.<br />
Percakapan Bapak dan Ibu kian riuh. Aku tertegun jika selama ini Ibu cenderung menurut dan menerima amarah bapak dengan legowo, pagi ini ibu seperti menumpahkan semua yang ibu rasakan. Ibu mengeraskan suaranya di depan bapak. Aku buka selimut lusuhku, melemparnya begitu saja. Ketika sampai di ruang tengah, bapak sudah tak ada.</p>
<p>Usai itu ibu menyiapkan makan pagiku dengan wajah muram, bahkan ibu lupa mengusap keningku saat aku berpamitan ke sekolah. Hampa rasanya pagi itu tanpa usapan tangan ibu di dahi. Aku berangkat sekolah dengan pikiran dan hati ke Bapak. Sejak kepergian sebelumnya aku belum sempat bertemu bapak.</p>
<p>Aku hela nafasku pelan-pelan. Semula ibu masih berharap bapak akan pulang. Ibu mengunjungi rumah nenek dari bapak juga mengunjungi rumah keluarga bapak lainnya untuk menanyakan keberadaan bapak. Setelah satu bulan tanpa kabar juga tanpa nafkah, ibu mulai bekerja siang malam demi aku dan adikku yang masih bayi. Mungkin saat itu adikku berusia tujuh bulan.</p>
<p>Mula-mula ibu mencoba menjadi pembantu rumah tangga, tetapi hanya bertahan sampai sebulan saja. Adikku sakit-sakitan karena kurang terurus.  Ibu berpikir keras. Tak mungkin tak bekerja atau mengandalkan belas kasihan dari saudara lain. Akhirnya satu-satunya tanah warisan milik ibu, ibu jual. Ibu gunakan untuk membuka warung di samping rumah. Biar tetap bisa menjaga adik juga menjaga aku, begitu ibu menjelaskan.<br />
Ibu sangat keras dalam bekerja. Ibu tak hanya berjualan sembako tetapi ibu juga  berjualan gado-gado di depan warung. Ibu bilang  berjualan gado-gado untuk menarik tetangga datang ke warung. Beruntung sembako ibu terus berkembang hingga akhirnya ibu tak punya waktu membuat gado-gado. Setiap hari aku ditugasi ibu untuk menjaga adik sambil belajar. Dari pengalaman ibu, ibu ingin aku bisa sekolah tinggi agar kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.</p>
<p>Ibu mewujudkan keinginannya menyekolahkan aku hingga ke perguruan tinggi. Sejak aku duduk di SMA ibu selalu mengobarkan semangat agar aku kuliah. Terus terang aku tak yakin kalau ibu bisa menyekolahkan aku ke perguruan tinggi. Aku takut ibu tak mampu membayar uang kuliahku. Kekhawatiran lain aku takut jika kuliahku berhenti di tengah jalan. Mengingat biaya kuliah sangat mahal, dan ibu hanya bekerja sendiri.<br />
Setiap kali aku sampaikan kekhawatiranku pada ibu, ibu justru tambah semangat. Ibu menyakinkan aku bahwa ia sanggup menyekolahkan aku dan adikku sampai sarjana.</p>
<p>“Apa pun yang terjadi Tiara, kamu harus jadi sarjana. Kamu harus jadi orang,” begitu kalimat ibu berulang-ulang. Hingga aku akhirnya memantapkan diri untuk kuliah.<br />
Sungguh jauh dalam lubuk hatiku, aku tak sampai hati melihat ibu bekerja siang malam sendirian. Aku mulai berpikir tidak hanya membantu tenaga, tetapi aku harus melakukan sesuatu. Aku harus bisa menghasilkan uang sendiri.  Aku harus bekerja, tetapi aku bingung harus bekerja apa. Aku tak punya kelebihan.<br />
Aku memang perempuan aneh, setidaknya ini menurutku. Aku tak suka memasak, padahal kalau aku pandai memasak aku bisa berjualan dari hasil masakanku. Berjualan roti bolu misalnya, seperti yang dilakukan bulekku. Ia membuat roti bolu dalam loyang lalu diiris-iris, ditaruh dalam tempat yang tertutup dan dititipkan di warung-warung. Untungnya lumayan besar.  Menjahitpun aku tak bisa. Kelebihanku hanyalah suka membaca sejak kecil. Buku apa saja aku baca, koran bekas yang sudah dipotong-potong pun bisa menjadi bacaan.</p>
<p>Iseng-iseng aku mencoba untuk menulis puisi, seperti yang dilakukan tetanggaku. Ia penulis puisi, cerita pendek juga novel. Tetanggaku itu seringkali pergi jauh karena sering diminta menjadi pembicara. Aku pikir sangat menyenangkan bisa bepergian ke berbagai kota. Aku ingin menjadi penulis seperti tetanggaku.<br />
*     *     *<br />
Keinginanku tercapai, setidaknya keinginan minimalku. Puisi dan cerpenku mulai bertebaran di media masa ketika aku masih kuliah. Hasilnya lumayan, aku bisa meringankan beban ibuku. Percaya diriku pun tumbuh. Gelar sarjana berhasil aku persembahkan untuk ibu.<br />
Aku lihat ibu menitikkan air mata sebelum akhirnya memeluk dan mencium keningku di hari wisuda. Waktu itu adikku naik kelas tiga SMU. Hatiku berseru aku harus bisa membantu ibu menyekolahkan adik hingga sarjana. Aku bertekad aku harus jadi orang sukses, demikian juga dengan adikku. Biar pun kami tumbuh dengan tidak normal, tanpa kasih sayang seorang bapak kami tak boleh kalah dengan hidup ini.<br />
*     *     *</p>
<p>Kini aku dan adikku hidup berkecukupan. Peluh ibu di masa lalu membuahkan bahagia, dan kami akan mempertahankan kebahagiaan ibu. Tapi di senja ini, ibu menghampiriku. Mempertanyakan satu hal yang tak pernah aku duga. Mengapa aku menolak lamaran Indra.  Lidahku kelu. Aku pandangi langit senja yang kali ini tak menarik benakku. Aku tak suka dengan pertanyaan ibu.<br />
“Indra laki-laki ketiga yang kau tolak Tiara,” ucap ibu seperti mengeluh.<br />
Terbayang bapak yang meninggalkan aku, adikku dan ibu. Terbayang masa yang menenggelamkan ibu dalam kesulitan. Betapa kasihan aku pada adikku. Pasti ia merasakan cemburu seperti yang aku punya. Dulu aku sering dilanda iri setiapkali melihat teman-teman sekolah diajak jalan-jalan oleh ayah mereka di akhir pekan, atau ketika pengambilan rapor. Aku sering tersiksa oleh perasaan iri dan cemburu itu.</p>
<p>Aku tidak mungkin menikah. Aku tak mau anakku mengalami pengalaman pahit seperti aku. Aku ingin melajang. Untuk apa menikah jika nanti menderita karena dikhianati.<br />
“Jangan menghukum orang yang tak bersalah Tiara,” ucap ibu membaca pikiranku. Aku menelan ludah.<br />
“Tak setiap laki-laki itu seperti bapakmu.”  Aku menatap ibu.<br />
“Menikahlah.” Aku menelan ludah. Terbayang sosok Indra yang lembut, sabar dan penuh perhatian. Aku menatap mata Ibu yang senantiasa mencipta kesejukan di hatiku. Terus terang Ibu aku trauma jika melihat masa lalu. Aku takut setiap laki-laki seperti Bapak.</p>
<p>Ibu mendekatiku lebih dekat lagi. Disentuhnya kepalaku ditariknya dan dibimbingnya bersandar di bahu kanan Ibu. Kalimat yang sejuk mengalir dari Ibu, bahwa kita tak mungkin hidup sendiri di dunia. Jika nanti ada masalah di tengah jalan, itu menandakan kita masih hidup.<br />
 Entah kekuatan apa yang akhirnya membuatku mau menerima Indra sebagai suami. Jika kelak ada masalah di tengah perjalanan, aku pasti mampu menghadapinya.</p>
<p>Depok Agustus 2011</p>
<p>Dimuat tabloid Nova, edisi 03 &#8211; 09 Oktober  2011 </p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/cerpen/'>CERPEN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/985/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=985&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/10/18/menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rawat Anak Kita dengan Cinta</title>
		<link>http://dianing.wordpress.com/2011/10/14/rawat-anak-kita-dengan-cinta/</link>
		<comments>http://dianing.wordpress.com/2011/10/14/rawat-anak-kita-dengan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 13:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianing</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL RINGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianing.wordpress.com/?p=981</guid>
		<description><![CDATA[MINGGU pagi itu, kami keluar rumah di kawasan Depok menuju Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Kami ingin menikmati hari tanpa kendaraan yang jatuh pada Minggu terakhir tiap bulan di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Nah di jalan, beberapa ratus meter sebelum Sudirman, kami singgah di sebuah kedai kecil yang menjual mie ayam. Sambil menunggu pesanan mie [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=981&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MINGGU pagi itu, kami keluar rumah di kawasan Depok menuju Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Kami ingin menikmati hari tanpa kendaraan yang jatuh pada Minggu terakhir tiap bulan di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Nah di jalan, beberapa ratus meter sebelum Sudirman, kami singgah di sebuah kedai kecil yang menjual mie ayam.</p>
<p>Sambil menunggu pesanan mie ayam, kami menikmati makanan kecil yang tersedia.  Tak jauh dari tempat itu, terdapat satu rumah yang tampaknya merupakan gudang menyimpan barang-barang dagangan. Tempat itu dihuni oleh satu keluarga muda dengan empat anak yang masih kecil.<br />
<span id="more-981"></span><br />
Pagi itu, ayah-ibu mereka hendak berjualan di sekitar Sudirman–Thamrin. Mereka sudah siap di atas sepeda motor, tiga anaknya yang masih berusia kira-kira 6 tahun, 4 tahun, 3 tahun. Si bungsu ada dalam gendongan ibunya karena masih bayi. Anak ketiga, perempuan. Usianya kira-kira tiga tahun.</p>
<p>Anak perempuan itu tak mau turut serta. Ia menangis. Ibunya memanggilnya dengan berteriak serta marah-marah, menyuruh anak perempuan itu cepat naik ke motor. Si anak bukannya memenuhi keinginan ibunya, ia malah tambah  menangis. Ibunya tak puas, lalu turun dari motor. Si anak tetap menangis dan menolak ikut. Ibunya yang sedang menggendong bayi kira-kira tujuh bulan itu,  mulai marah berteriak-teriak mengumpat anak perempuannya, dengan ucapan tak pantas.</p>
<p>Saya terhenyak. Seumur hidup saya, sejak kanak-kanak hingga remaja, ibu saya tak pernah menghardik saya. Tetapi pagi itu, di depan mata saya, seorang ibu meracau hebat di hadapan anak perempuan berusia sekitar tiga tahun.<br />
Si anak itu tetap menangis. Kali ini, ayahnya ikut menghardik dan memarahi anak itu. Wajah ayahnya merah dan memaksa anak itu agar segera ikut naik motor. Tetap saja anak perempuan itu menangis dan menolak. Akhirnya si ibu mencubit lengan anak perempuan itu puas-puas.  Tangisnya tambah keras.</p>
<p>Hatiku teriris melihatnya. Edgina, 2 tahun, si bungsu kami, saya peluk erat-erat.  Ibu itu dengan amarah menarik lengan, mengangkat paksa dan mendudukkan anak itu di sadel sepeda motor dengan sangat kasar. Ayahnya ikut menghardik: “Diam!”</p>
<p>Saya menghela napas. Suami saya yang duduk di depan saya geleng-geleng kepala. Mata anak tertua saya yang berumur 12 tahun, Fira Meutia, berkaca-kaca. Sedangkan Rizki, 8 tahun, hanya diam dan memandangku. Aku menelan ludah. Tukang mie ayam, tanpa kami tanya menjelaskan keluarga itu terbiasa menghardik anaknya, hampir setiap pagi, ketika hendak mempersiapkan diri untuk berjualan di kawasan Sudirman.</p>
<p>Kita, seringkali masih terbawa pada kebiasaan menjadikan anak sebagai obyek, bukan subjek. Anak harus menuruti kehendak orangtua. Harus patuh dan turut pada aturan-aturan orangtua, tanpa berkesempatan untuk “bernegosiasi” dengan aturan-aturan kita. Padahal, aturan-aturan kita itu belum tentu cocok dan pantas pada mereka. Apalagi anak yang masih sangat kecil, mereka tentu belum mengerti apa yang kita mau.</p>
<p>Di sinilah konflik sering terjadi. Dan sebagian orang tua merasa paling benar, dan anaklah yang salah. Maka itu, sang anak pun dimarahi, dihardik, bahkan dikerasi. Kita lupa, setiap anak memiliki jiwa merdeka, punya keinginan-keinginannya sendiri, bahkan tafsirnya sendiri terhadap apa yang mereka lihat dan hadapi, termasuk aturan-aturan kita. Jadi belum tentu apa yang kita pikirkan atau inginkan bisa sama dengan pikiran si anak.</p>
<p>Sebenarnya, secara asasi, anak bebas menentukan sikapnya sendiri. Kewajiban kita adalah melindungi dan meyayangi mereka, memberi pengertian-pengertian, dan membekali mereka dengan pengetahuan dan ajaran-ajaran moral. Lalu bagaimana jika mereka menolak keinginan kita, seperti kasus di atas. Di situlah diperlukan “kewarasan” kita untuk berdialog, membujuk, memberi pengertian-pengertian dengan semangat cinta dan kasih sayang, dengan senyum tulus, bahkan mungkin dengan sebuah hadiah kecil, bukan dengan semangat kemarahan, apalagi kekerasan.</p>
<p>Dan ternyata, kekerasan anak tidak saja berbentuk fisik. Kekerasan psikis jauh lebih berbahaya bagi perkembangan dan tumbuh kembang mereka dan ini seringkali tak disadari oleh orangtua. Misalnya, menekankan anak untuk menjadi yang terbaik di kelasnya, mengharuskan anak menjadi peringkat pertama, adalah salah satu contoh bentuk intimidasi yang sangat menekan kejiwaan anak.</p>
<p>Lalu anak diharuskan belajar siang-malam, sampai tak sempat bermain,  agar nilai semua mata pelajaran bagus. Padahal setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing. Setiap anak berhak untuk mendapatkan waktu untuk dirinya, bermain dengan teman-temannya, menekuni hobi, mengembangkan bakat, termasuk bersosialisasi dengan lingkungan.</p>
<p>Memang, siapa yang tak bangga ketika melihat anak kita bisa berprestasi.  Masalahnya, apakah itu menyenangkan bagi anak. Tak jarang karena ambisi orangtua, menyuruh anak melakukan kegiatan sesuai keinginan orangtua. Bukan keinginan si anak.  Demi gengsi, anak diharuskan les piano, padahal ia lebih suka menulis puisi. Ia diharuskan belajar balet, padahal ia suka bermain drama.</p>
<p>Lebih menyakitkan lagi jika masa depan anak ditentukan oleh kedua orangtuanya.  Anak yang menyukai seni misalnya, harus mengubur impiannya karena orangtua mengharuskannya kuliah di fakultas kedokteran, ekonomi, dengan alasan dapat hidup layak ketimbang menjadi seniman. Ini semua akan membuat anak merasa tertekan dan “teraniaya” secara kejiwaan. Dan ini termasuk bagian dari kekerasan  terhadap anak.</p>
<p>Harap dimengerti, pola didikan orangtua pada anaknya, kelak akan sangat mempengaruhi cara hidup anak.  Jika anak terbiasa mendapatkan hardikan, kata-kata kasar dari orangtua, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang suka berkata keras dan suka menghardik.  Jika anak sering dilarang melakukan hal yang ia sukai,  atau dicela oleh orangtuanya karena nilai atau hasil pekerjaannya tak memuaskan, maka ia akan tumbuh  menjadi pribadi yang minder, tidak punya keberanian diri untuk tampil di depan. Ia pun akan tampil sebagai sosok yang rendah diri, tak punya kepercayaan diri.</p>
<p>Begitu pula, kadang orang tua secara tak sadar suka menakut-nakuti anak-anak pada obyek tertentu. Seperti ucapan “Jangan minum es, nanti sakit perut. Jangan lari nanti jatuh, kalau jatuh masuk rumah sakit, disuntik. Sakit.”  Menakut-nakuti anak-anak saat mereka hendak melakukan sesuatu, artinya tak memberi kesempatan pada anak untuk mencoba sesuatu dan berekspresi.</p>
<p>Itu semua membuat anak tidak mendapatkan kesempatan untuk “bereksprimen” kecil-kecilan tentang hal-hal penting di lingkungannya. Padahal, hal itu akan menjadi pelajaran penting buat dia, yakni praktek kehidupan, yang membuat dia paham dan mengambil kesimpulan sendiri aktivitas itu. Namun sebaliknya, jika dilarang, itu membuat mereka merasa terkekang yang pada gilirannya membuat anak takut dan dilanda kecemasan.</p>
<p>Satu hal lagi yang perlu kita sadari:  setiap anak memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Setiap anak memiliki bakat dan kemauan sendiri. Jika ia tidak bisa mendapatkan nilai matematika 9, bukan berarti ia tidak pandai. Dalam dunia psikologi moderen, dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk. Anak-anak ada yang hanya pandai bidang sastra, sejarah, seni, dan sebagainya.</p>
<p>Maka, mari kita kita beri kesempatan kepada anak-anak kita seluas-luasnya untuk mengekspresikan dirinya, agar kelak ia memiliki mental dan sikap yang tangguh dalam menghadapi hidup. Kekerasan bukanlah jalan bijak dalam mengasuh anak-anak. Justru kekerasan akan melahirkan kekerasan baru kelak. </p>
<p>Dianing Widya Yudhistira,Novelis.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianing.wordpress.com/category/artikel-ringan/'>ARTIKEL RINGAN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianing.wordpress.com/981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianing.wordpress.com/981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianing.wordpress.com/981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianing.wordpress.com/981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianing.wordpress.com/981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianing.wordpress.com/981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianing.wordpress.com/981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianing.wordpress.com/981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianing.wordpress.com/981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianing.wordpress.com/981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianing.wordpress.com/981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianing.wordpress.com/981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianing.wordpress.com/981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianing.wordpress.com/981/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianing.wordpress.com&amp;blog=978789&amp;post=981&amp;subd=dianing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianing.wordpress.com/2011/10/14/rawat-anak-kita-dengan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianing</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
