Posts filed under ‘PUISI’
Tersesat
Kabut itu masih saja tebal
biar pun disapu hujan
lelah angin dan udara menyapa
masih saja legam.
Waktu
Itukah engkau yang lirih memanggilku
lalu langit runtuh,
jembatan rebah
tak sanggup menahan alpa
aku tersesat dalam barisan doa
Depok, April 2012
Senandung Babi
Apakah kau tahu
pernah aku kecewa padanya
ungkapan cintanya menamparku lembut
ia jadikan aku atas nama kuasanya
dihitamlegamkan aku di depan makhluknya
ditatapnya aku penuh kebencianmu
Lukisan Anakku
Anakku melukis masyarakat pohon di air
warnanya darah ikan bau anyir
Anakku mereka-reka suara burung
terdengar pilu dan sumbang
(lagi…)
Senja
Hening di luar bersama rintik hujan
menyisakan gigil yang ngungun
Ada sekian percakapan antara kita
yang lahir dari sapa hujan dan udara (lagi…)
Dalam Hening
Sepenuhnya Mengakui
pepohonan sujud padamu
gugusan bintang mengagungkan namamu
angin diam tafakur padamu
Sepenuhnya mengakui
keagungan ketinggian menara azan
keindahan semburat warna senja
serta sunyi yang membungkus wajah malam (lagi…)
Ibunda
Malam telah sempurna
ketika aku lukis lengkung alis matamu
Wajah yang purba
diantara senyum tangismu
(lagi…)
Ibunda
Padamu — yang menawarkan kekuatan
juga ketakutan
Hadirmu tanpa cela dalam sukma
Surga membuih di pantaimu
Izinkan kumiliki cinta seperti engkau punya
Pidie – Aceh, 1997
Pernikahan Cahaya
Matahari bagai kedasih menggaris malam
ketika dosa tak lagi bisa kita cinta
mengkhianatimu bersama nukilan-nukilan lama
menenggelamkan riwayatmu
(lagi…)
Membaca Embun
Setiapkali menatap embun
di ujung awan itu
terlintas segala alpa
juga keindahan gelap
dan kangenku tertata
di rak-rak buku yang pengap
aku ingin kembali ke masa itu
(lagi…)
Ringkik
Ringkik siapa memekak
tatkala embun baru menitik
dan jendela matamu belum juga terkuak
(lagi…)
Malam Tua
Adakah kau dengar titik embun jatuh
diantara reruntuhan angin
aku ingin membunuh waktu
melupat alpa
(lagi…)
Kehilangan Cermin
Pernahkah kau bertanya
pada burung
tentang kepergian Habil dan
waktu yang
mengurung Qabil
saat matahari melata dan
sayapnya patah. (lagi…)
Doa Panjang
Senyummu di ambang pintu
mencipta meteor, bintang raya
dinding kamarmu adalah laut ungu
yang berkabut
(lagi…)
Bayang di Dinding
Bayang kita mengabur di dinding
mencipta lumpur, menghanyutkan daki
(lagi…)
Kisahkan Padaku
Kisahkan padaku tentang
planet-planet
ketika malam menua,
ketika kau tenggelam
mencari-cari wajahnya
(lagi…)


KOMENTAR