Memperbarui Persepsi Tentang Ganja

Januari 28, 2012 at 7:02 am 6 komentar

Judul buku: Hikayat Pohon Ganja
Penulis : Tim LGN(Lingkar Ganja Nusantara)
Tebal : 352 halaman + xiii
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : November 2011

Ketika mendengar kata “ganja” orang langsung terlempar pada stigma: pohon haram yang bisa membuat penggunanya mabuk dan lupa daratan. Ganja lalu dilarang dan digolongkan dalam jenis narkotika. Undang-undang Republik Indonesia No. 35 tahun 2009 tentang narkotika memasukkan ganja dalam salah satu narkotika golongan 1, bersama kokain, dan berbagai turunan opium seperti heroin dan morfin.

Sejarah dimasukkannya ganja dalam kategori yang sama dengan heroin, morfin, dan kokain merujuk pada Konvensi Opium Internasional pada 1911–1912 di Hague, Swiss. Selanjutnya pemerintah dan masyarakat di berbagai belahan dunia memperlakukan ganja secara stigmatik. Tanaman ini
mengalami diskriminasi luar biasa oleh pemerintah dan masyarakat kita. Kecanduan dan ketergantungan orang pada ganja telah menafikan manfaat-manfaat besar yang dikandungnya.

Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini hadir mengungkap fakta-fakta ilmiah yang menyebutkan bahwa ganja sama tidaklah berbahaya seperti yang dipersepsikan luas selama ini. Ganja tidak menyebabkan overdosis dan ketergantungan. Ia berbeda dengan kokain dan heroin, yang dapat menyebabkan kematian. Ganja yang dalam bahasa sanskerta disebut ganjika justru digunakan sebagai obat sejak ribuan tahun silam sebelum kelahiran Nabi Isa.
Tanaman yang tumbuh dengan biji ini memberi banyak manfaat pada manusia. Tanaman ajaib, sampai-sampai disebut dengan tanaman kehidupan ini, mampu menjadi sumber sandang, pangan, papan, obat-obatan serta energi murah dan massal. Tumbuhan ini bisa tumbuh di lahan mana pun Akarnya mampu menggemburkan tanah. Ganja sangat mudah dibudidayakan. Bahkan ganja bisa tumbuh secara liar.

Di beberapa negara, misalnya di India dan Jepang, keberadaan ganja melampaui kebutuhan harian, karena keberadaannya juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk upacara-upacara keagamaan. Di India, ganja digunakan secara massal untuk keperluan spiritual, kegiatan kebudayaan juga kegiatan religi.

Jepang yang menganut agama Shinto menggunakan ganja sebagai salah satu perangkat dalam ritual keagamaan. Kuil di Ise Jinja, tempat suci untuk memanjatkan doa khusus kepada Amaterasu Omikami atau dewa tertinggi dalam agama Shinto. Doa khusus yang dipanjatkan itulah dinamakan taima atau ganja. Di kuil ini, ganja digunakan bersama garam dan padi untuk berbagai ritual keagamaan. Bahkan pendeta Shinto menggunakan Gohei untuk mengusir makhluk jahat. Gohei ini terbuat dari tongkat pendek yang disambung dengan batang tanaman ganja.

Disamping untuk ritual keagamaan, obat-obatan, ganja bisa digunakan sebagai sumber sandang. Serat-serat ganja bisa dijadikan pakaian juga kertas. Hal ini bisa dilihat dengan ditemukannya kain tenun paling awal dibuat manusia, ribuan tahun silam (6.000 SM). Kain tenun itu terbuat dari serat batang ganja. Temuan ini sesuai dengan temuan kain tenun dengan bahan serat ganja di propinsi Yangshao, Henan. Kemudian pada dinasti Shang ( 1700 – 1100 SM) banyak ditemukan berbagai kain tenun berbahan serat ganja. Lebih dari itu dalam kebudayaan Yangshao juga ditemukan berbagai tali temali dari serat ganja. Sedangkan tahun 105 M, salah satu pejabat istana di Cina telah membuat kertas dari serat batang ganja, untuk meringankan manusia dalam mencatat.

Tak kalah menarik adalah bahwa ganja juga bisa dijadikan bahan bangunan. Dunia kontruksi menyebutnya dengan sebutan hempcrete, yakni campuran serat ganja dengan kapur, pasir, semen dan plaster. Contoh kongkrit kegunaan ganja di bidang kontruksi ini adalah dengan diproduksinya hemcrete atau tradical hemcrete oleh Lime Technology di Inggris. Hempcrete ini memiliki kelebihan dibanding beton biasa. Ia tujuh kali lebih kuat dari beton biasa, tetapi dua kali lebih ringan. Kelebihan lain dari hempcrete adalah lebih elastik dan tahan retak.
Selain Lime Technology, ada La Chanvriere de L’Aube atau LCDA. Perusahaan di Perancis ini mengkhususkan diri pada produksi dan pengolahan industri serat ganja. Produk materialnya antara lain canobiote dan canosmose. Canobiote terdiri atas serat batang ganja yang dilapisi dengan garam mineral. Kegunaan canobiote ini sebagai insulator bagi rangka kayu, penghias sudut dan lantai. Sedangkan canosmosemerupakan beton ringan yang terbuat dari serat ganja dan kapur.

Kita tak pernah mengira bahwa tanaman yang selama ini menjadi momok bagi orangtua, ternyata memiliki banyak manfaat. Selain itu, masih banyak hal bisa ketahui dalam Buku Hikayat Ganja setebal 352 halaman ini. Buku yang ditulis oleh team LGN ini membuka mata kita bahwa ganja tidaklah seburuk yang kita kira selama ini. Undang-undang yang diperlakukan oleh pemerintah sungguhlah merugikan ganja dan masyarakat kita.

Buku ini menuturkan dengan rinci hal-hal di luar pengetahuan kita sebelumnya. Sumbangsih ganja pada peradaban manusia dikupas pada bab 2 hingga 7. Kita akan mengetahui sejarah dan seluk beluk ganja di Asia, seperti Cina, Mesopotamia, Persia, India, Tibet, Jepang dan Semenanjung Arabia. Kita juga dibawa ke benua Afrika, Eropa juga Amerika. Peran ganja di dunia kesehatan disajikan dengan berbagai penelitian pada bab 8. Di sini kita akan menemukan nama-nama penyakit yang bisa menjadikan ganja sebagai obat penyembuhnya.

Akhirnya buku ini menjadi sangat penting untuk dibaca oleh para penegak hukum, penyelenggara negara juga masyarakat luas. Mudah-mudahan ini akan memperbaharui pemikiran dan persepsi kita terhadap ganja. Sebab, dengan berbagai fungsinya positifnya itu, rasanya bukan mustahil jika pada suatu saat ganja dilegalkan bahkan dibudidayakan. Jika kemudian ada yang menggunakannya untuk tujuan-tujuan negatif, ya tinggal dibuatkan aturannya saja. Terpenting jangan sampai sisi negatif itu menenggelamkan begitu banyak sisi positifnya. ***

Dianing Widya, novelis, novel terbarunya “Pertanyaan Tentang Tuhan” sedang dimuat bersambung di Republika.
Dimuat di hariandetik.com Minggu, 22 Januari 2012

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Asisten Rumah Tangga Ketika Berita seperti Telenovela.

6 Komentar Add your own

  • 1. midi bens  |  Januari 28, 2012 pukul 7:47 am

    Mantab deh karya karyane njenengan tapi lum semua terbaca heheeee

    Balas
    • 2. dianing  |  Februari 8, 2012 pukul 1:11 pm

      Maturnuwun mas Midi. Kabare apik to?

      Balas
  • 3. iasazhary  |  Februari 12, 2012 pukul 10:21 am

    baru tw klu ganja sbgitu bermanfaatny,,
    thanks infonya..

    Balas
  • 4. Titik Kartitiani  |  Maret 20, 2012 pukul 7:10 am

    Mba, sy juga buat cukilan buku ini di Intisari. Sayangnya dari buku itu satu : kenapa tidak mencantumkan ganja di Aceh…sama sekali tidak ada. Padahal membahas ganja di Indonesia, harusnya ada tentang Aceh

    Balas
    • 5. dianing  |  April 19, 2012 pukul 2:25 pm

      Ada sedikit disinggung Mba Titik, soal ganja di Aceh. Dalam buku itu dibilang kurang lebih begini, sangatlah sulit mengharamkan ganja di Aceh dan India. Di India, ganja dijadikan media dalam upacara keagamaan. Di Aceh ganja dijadikan penyedap rasa dan dijadikan sebagai pupuk. Begitu kira-kira mba Titik. Terimakasih.

      Balas
  • 6. ReisaL Jangkar  |  September 18, 2013 pukul 8:50 pm

    ..I Love Marijuana.. “untuk SENIMAN & Ahli Tafaqur,weed itu HALAL” kalo ada yg mau budgetin,gw berani ngRAP in hip-hop,!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2012
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 85,023 kali

Kategori

Halaman

TWITTER: @dianingwy


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: