Archive for Desember 19, 2011
Sembilu
MATAHARI runtuh di kepala laki-laki berwajah tirus itu. Toko bahan bangunan yang bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan ludes. Api tanpa belas kasih menghanguskan semua harapan. Semua yang ada di depannya tinggal asap dengan ekor putihnya yang muncul dari sela-sela reruntuhan.
Dari sela-sela benda yang hangus itu tampak benda putih kecil kehitaman bopeng di sana-sini. Pelan-pelan laki-laki itu membungkukkan badannya. Mengambil benda itu dan menidurkannya di telapak tangannya. Menggenggamnya. Ia merasakan kehangatan di telapak tangan itu menghunjam ulu hatinya.
(lagi…)


KOMENTAR