Qurban dengan uang, mengapa tidak?
November 10, 2011 at 5:49 am Tinggalkan Komentar
PAGI. Aku ke ruang depan begitu terdengar salam. Mbak In dengan kantung kresek hitam berdiri di depanku, begitu pintu terbuka.
“Jeng mau daging yaa…” Aku menautkan kening. Kemarin sore kurang lebih sekilo daging yang diberi pak RT saja belum dimasak. Aku persilahkan mbak In duduk. Ia menuju ke kursi sambil mengeluh bingung. Daging 4 kg yang ia dapat dari masjid, sekolah anaknya, dan kantor suami itu mau diapakan.
Pasalnya ia merasa tak berhak mendapatkan daging qurban.
“Saya sudah masak Jeng. Untuk apa daging ini.” Aku diam lalu duduk di samping mbak In dengan meja perantaranya. Suasana hening sejenak.
“Kadang saya berpikir apakah tidak sebaiknya setiap Idul Adha itu ada yang berqurban dengan uang saja.” Aku menelan ludah mendengar ucapan mbak In yang seperti igauan itu.
Idul Adha dirayakan dengan megah setiap tahun. Seluruh Indonesia menyembelih massal hewan ternak sebagai tanda kepatuhan umat sama Allah. Mbak In mengusulkan agar hewan ternak diganti dengan uang? Hatiku kecut. Takut idenya membuat ia divonis sebagai orang yang picik. Nggak waras. Bagaimana mungkin mengganti kambing dengan uang?
“Tak ada yang abadi Jeng, selain perubahan.” Aku tersihir dengan ucapannya. Semakin ingin aku mendengar pikiran-pikirannya. Mbak In membetulkan letak 4 kg daging di atas meja, yang sebetulnya tak salah letaknya. Ia menatapku.
“Zakat fitrah saja bisa kita bayar dengan uang tunai.” Aku mengamininya.
“Ibrahim ketika dikhitan tidak menggunakan laser, kemarin Daren dikhitan dengan laser. Apakah kita menyalahi perintah Allah jika dari cara Ibrahim dikhitan dengan cara anak sekarang dikhitan berbeda?” Aku menelan ludah. Pertanda mengamini kalimatnya.
“Dulu Rasul kemana-mana naik Onta, Jeng. Sekarang kalau sampean pergi ke luar propinsi apakah naik onta juga?” Aku tersenyum simpul.
“Dulu kalau sikat gigi zamannya rasul pakai siwak, sekarang anakmu gosok gigi apakah masih menggunakan siwak juga Jeng?” Saya menghela napas. Suasana hening kembali, tetapi pikiranku tentang ide mbak In berqurban dengan uang belum nyambung.
“Jeng berapa jumlah anak gelandangan, anak-anak miskin, anak yatim piatu, anak jalanan?”
“Entah Mbak,” ucapku lirih.
“Kalau saja kita mau menyesuaikan jumlah kaum dhuafa yang berhak menerima daging qurban, lalu muslim yang ingin berqurban tak harus berbentuk hewan ternak. Dapat dibayangkan berapa milyar rupiah terkumpul setiap tahun Jeng. Uang itu kita kelola untuk menyekolahkan fakir miskin, yatimpiatu, memberi modal simiskin untuk mandiri. Pokoknya untuk kesalehan sosial yang nyata.” Aku menunduk.
“Itu sudah diatur dalam infak, sodaqoh dan amal jariah”
“Kenyataan infak, sodaqoh itu belum mampu memenuhi kebutuhan anak-anak yang tersisih itu Jeng. Sedang qurban dirayakan setiap tahun dengan serentak. Andai saja qurban bisa diganti dengan uang,” mbak In mengulang-ulang idenya.
Tak mungkin mbak In, kecuali sampean sudah nggak waras. Duh kenapa aku jadi termakan oleh dogma? Berqurban harus menyembelih hewan ternak? Sementara dikisahkan saat Ismail hendak disembelih diganti Allah dengan domba. Kenyataan berqurban tak melulu dengan menyembelih domba. Muslim kemudian berqurban dengan menyembelih sapi, bahkan onta. Lalu mengapa tidak dengan uang? Apakah karena uang tak bisa disembelih?
“Jeng” Mbak In tiba-tiba berdiri dan mengambil daging di meja.
“Mau dikasih Murni Mbak?”
“Murni malah minta mentahnya tadi. Dia bilang ganti uang saja Bu untuk beli seragam sekolah. Aku jalan dulu Jeng.”
“Ke mana?”
“Ke pasar jual daging ini. Uangnya aku berikan ke yayasan yatim piatu dekat perumahan sebelah.”
“Saya ikut.”
“Ngapain.”
“Jual daging dari pak RT.”
“Belum di masak?” Aku nyengir.
* * *
Hasil penjualan daging kambing itu langsung kami antar ke rumah Yayasan Yatim Piatu terdekat. Dalam perjalan pulang aku bertanya pada mbak In. Apakah kita menyalahi aturan Allah Mbak. Menjual daging itu lalu menyerahkannya ke yatimpiatu.
Mbak In menatapku dia bilang.”Terserah kata orang Jeng. Aku dibilang picik, nggak waras, liberal, kafir dan sesat sekali pun. Saya tak peduli.” Aku menunduk. Mbak In meraih tanganku. Menatapku sekali lagi.
“Yang penting aku tidak mengingkari nuraniku,” ujarnya sambil menyentuhkan telapak tangan kanannya ke dadanya.
Depok, November 2011
Entry filed under: Catatan. Tags: .


Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed