Archive for Oktober, 2011
Sayangi Anak Kita
SAYA menghela napas ketika mbak In datang ke rumah dengan wajah menyimpan masalah. Ada apa gerangan yang tengah membelit pikiran mbak In hingga ucapan salam yang ia sampaikan terucap lirih. Aku membalas salamnya dengan lirih pula seolah larut dengan wajahnya yang muram.
Aku enggan bertanya sama mbak In. Lebih baik aku bikinkan dia segelas kopi Ulee Kareng dicampur dengan susu kental putih. Mantabs. Tapi baru hendak melangkah ke dalam, mbak In mencegahku dan duduk di ruang tamu.
“Aku hanya sebentar Jeng, sebentar lagi mengantar Najwa ke sekolah.”
“Paud Melati?” Mbak In mengangguk.
“Biasanya Lila yang mengantar Najwa.”
“Itu dia Jeng saya ini sedang bingung.”
“Kenapa?” Saya kemudian duduk.
(lagi…)
Menikah
Dianing Widya Yudhistira
AKU menggeleng tegas di depan Indra. Dari air mukanya aku tahu jelas langit telah runtuh dalam tubuhnya. Lamarannya aku tolak. Aku menolaknya bukan karena wajahnya yang pas-pasan, bukan juga karena dia pemuda tanpa penghasilan. Postur tubuhnya tinggi atletis, dengan hidung mancung serta bola mata yang mampu menggetarkan rasaku. Aku sering dibuatnya cemburu jika ia tengah berbincang-bincang dengan teman perempuan di kantorku.
Ia laki-laki yang hampir tanpa cela. Jenjang pendidikannya lebih tinggi dari aku yang sarjana. Aku memang lebih menyukai laki-laki yang tingkat kecerdasannya di atasku, bukan di bawahku. Laki-laki atau suami bagiku bukan sekedar teman hidup di rumah, melainkan pendukung karir istri.
Indra sosok paling ideal. Ia sangat peduli dengan isu-isu perempuan. Ia sangat mendukung perempuan dalam berkarya.
“Aku ingin istriku kelak bukan istri yang pekerjaannya di dapur melulu, tetapi istri yang mau tampil ke depan.” Ucapnya suatu ketika. Saat itu aku membayangkan betapa senangnya jika punya suami seperti Indra.
Lalu apa alasanku menolak Indra? Ini masalahnya. Aku seringkali melihat sosok bapak ada pada setiap laki-laki. Entah berapa laki-laki yang datang dan pergi dalam hidupku. Aku selalu menjaga jarak jika aku mulai membaca bahasa tubuh laki-laki telah tertarik padaku. Lalu dengan tegas aku menolak jika diajak menikah. Aku takut nasib buruk ibuku diwariskan kepadaku.
* * *
(lagi…)
Rawat Anak Kita dengan Cinta
MINGGU pagi itu, kami keluar rumah di kawasan Depok menuju Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Kami ingin menikmati hari tanpa kendaraan yang jatuh pada Minggu terakhir tiap bulan di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Nah di jalan, beberapa ratus meter sebelum Sudirman, kami singgah di sebuah kedai kecil yang menjual mie ayam.
Sambil menunggu pesanan mie ayam, kami menikmati makanan kecil yang tersedia. Tak jauh dari tempat itu, terdapat satu rumah yang tampaknya merupakan gudang menyimpan barang-barang dagangan. Tempat itu dihuni oleh satu keluarga muda dengan empat anak yang masih kecil.
(lagi…)
Jejaring Sosial
PONSEL saya berdering pendek di awal hari. Isinya memberitahukan tentang undangan menjadi pembicara di sebuah forum diskusi dengan kepenulisan. Sepintas saya berpikir masih lama, dua minggu ke depan lagi. Masih banyak waktu, jadi makalah bisa saya tulis minggu depan saja. Sejenak saya melihat ke kalender, saya menautkan kening. Ternyata sudah Desember. Artinya lagi waktu bukan dua minggu lagi tetapi kurang dari itu.
Saya menghela napas. Betapa waktu tak pernah berjalan, melainkan berlari kencang bagai kuda perang yang terluka.
Perputaran waktu itu pula yang membawa kita ke sebuah era bernama Globalisasi. Era yang jauh berubah dan abad-abad yang lampau. Jika kita tilik fenomena globalisasi dari dari terminologi, globalisasi merupakan hubungan sosial yang intensif dari lokalitas-lokalitas yang ada hingga seluas wilayah di seluruh dunia. Hubungan itu terjalin dengan sangat cepat, berjauhan sedemikian rupa sehingga peristiwa yang sangat jauh keberadaannya, bisa kita akses meski kita berada jauh dari pusat peristiwa.
(lagi…)


KOMENTAR