Meneladani Sahabat Rasul

Agustus 1, 2011 at 3:55 pm Tinggalkan komentar

ISLAM, kristen dan Yahudi merupakan agama wahyu yang turun dari langit melalui nabi dan rasul yang diutus Tuhan, sebagai penerang umat manusia. Tuhan perlu mengutus seorang nabi dan rasul agar manusia bisa mengenal hakikat dirinya sendiri, dan mengenal Tuhan. Dengan memiliki keyakinan yang bermuara pada keesaan Allah, manusia bisa melangsungkan kehidupan yang berbudaya dan beradab.

Dari sekian agama wahyu di atas, hanya Islamlah agama yang diridhai Allah S.W.T, seperti yang termaktub dalam Q.S Al- Maidah 5:3). Jika saja manusia di muka bumi ini menghayati benar ajaran-ajaran Islam yang mulia, terutama para pemimpin niscaya keberkahan dan kemuliaan terwujud. Karena pada pemimpinlah nasib sebuah negeri ditentukan.

Untuk para calon legislatif, dan mereka yang ingin menjadi bupati, gubernur, atau bahkan mencalonkan diri menjadi presiden di republik ini ada baiknya menyimak sekelumit kisah keteladanan Khalifah Umar bi Khatab. Agar kelak dalam memimpin tak terjadi penyimpangan atau salah urus.

Dikisahkan pada suatu ketika khalifah Umar mendengar kabar salah satu anaknya, membeli cincin permata seharga seribu dirham. Khalifah Umar segera menegur anaknya, “Aku mendengar engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Jika hal itu benar, maka segera engkau jual cincin itu, gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar. Lalu buatlah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata : Semoga Allah merahmati orang yang mengenali jati dirinya.”

Ini adalah kisah yang sangat diperlukan bagi calon-calon pemimpin negeri ini. Betapa Khalifah Umar bin Khatab menentang pemborosan. Biarpun beliau tahu uang yang digunakan salah satu anaknya, untuk membeli cincin permata adalah uang sendiri, Khalifah Umar meminta agar si anak segera menjual cincin. Uangnya diberikan untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar.

Betapa kekhalifahan Umar dijalankan benar-benar karena Allah. Khalifah Umar sangat mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Ia menatang anaknya bermewah-mewahan, sementara di luar sana masih banyak rakyat yang membutuhkan makan. Bagi pemimpin Islam zaman khalifah, kesejahteraan rakyat adalah mutlak. Untuk mempemudah bahasa, jika pemimpin zaman khalifah Umar, yang dipentingkan terlebih dulu adalah perut rakyat. Jika ada hasil bumi yang melimpah, rakyat dulu yang menikmati. Rakyat dulu yang kenyang. Pemimpin boleh makan kalau rakyat betul-betul sudah kenyang.

Ada lagi kisah yang sangat patut diteladani oleh para calon pemimpin negeri ini. Ketika Khalifah Umar hendak meminjam uang kepada Abdurrahman bin ‘Auf, sebesar 400 dirham. Abdurrahman bertanya, mengapa beliau tak meminjam dari baitul maal (kas negara), yang kuncinya dipegang oleh Umar. Khalifah Umar menjawab: “Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku.”

Di sini bisa kita tarik garis, kepemimpinan Khalifah Umar senantiasa bisa memilah mana uang untuk kebutuhan pribadi dan uang kas negara. Khalifah Umar bisa saja dengan leluasa mengambil uang kas negara, karena kunci ada di tangannya. Mengapa beliau tidak mau melakukan? Karena beliau paham betul dengan posisinya. Pemimpin yang amanah, pemimpin yang ditangannya terletak nasib dan perut rakyat. Khalifah Umar tidak ceroboh. Tidak seenaknya sendiri meminjam uang negara untuk kepentingan pribadi. Khalifah Umar takut bila meminjam uang negara tak bisa mengembalikan, jika itu terjadi berarti beliau menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi. Sekali lagi Khalifah Umar tidak melakukannya, meski sangat mudah bagi beliau untuk melakukannya. Inilah contoh kecil kemuliaan seorang Khalifah Umar bin Khatab. Khalifah yang betul-betul mengenal siapa dirinya sendiri. Khalifah yang tatkala ditunjuk menjadi khalifah, mengucap Innalillahi wainna ilaihi rajiun, bukan kalimat hamdalah.

Bagaimana dengan para pemimpin negeri ini?

Untuk meneladani kemuliaan Khalifah Umar bin Khatab sesungguhnya sangat mudah. Modal utamanya adalah keberanian seorang pemimpin untuk bersahabat dengan hati nuraninya. Keberanian untuk mengambil sikap yang benar, meski terkadang sikap yang benar itu tidak dengan serta merta diterima. Contoh: tidak ikut korup, meski tindakan itu kadang ditertawakan.

Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintahan, karena rakyat seringkali dikecewakan oleh kebijakan pemerintah yang tak memihak kepada rakyat. Contohnya pada kenaikkan BBM. Praktek korupsi yang mengganas di tubuh pemerintahan, seolah menjadi hal biasa bagi mereka yang duduk sebagai pengemban amanah rakyat. Tak jarang mereka yang terjerat sebagai tersangka korupsi berulah bak selebritas. Sebuah ironi bagi negeri ini yang kebanyakan pemimpinnya adalah muslim.

Negeri kita mulai akrab dengan bencana seperti banjir, tanah longsor yang merupakan dampak pembabatan hutan. Pemerintah dengan gampang menyejui proposal pengalihan fungsi hutan, tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi lingkungan.

Hendak dibawa Ke mana Bangsa Ini

Negeri kita selalu mendadak ramai dengan poster-poster para calon legislatif. Kursi presiden yang diperebutkan selalu memanas. Sayangnya rakyat disuguhi berbagai manuver politik yang kurang mendidik. Para elite politik, dari kalangan terdidik justru suka melempar pernyataan yang bersifat kekanak-kanakkan. Dari ideom yang diambil dari nama mainan anak-anak sampai alat transportasi. Para elite politik yang notabene bakal menjadi pemimpin negeri yang besar ini justru memperlihatkan sikap-sikap tak sportif, cenderung tidak cerdas dan jauh dari nilai-nilai keluhuran pekerti. Bagaimana kelak ketika menjadi pemimpin?

Matahari masih terbit dan terbenam di tempat yang sama. Artinya, umur dunia masih panjang. Artinya lagi, masih ada harapan negeri ini bisa kembali tegak berdiri di kancah dunia. Bermartabat bahkan berjaya kembali. Syaratnya mudah. Para pemimpin mau bercermin, meneladani salah satu sahabat nabi, Khalifah Umar bin Khatab. Menempatkan rakyat di tempat tertinggi. Berpihak penuh pada kepentingan rakyat. Tentu dengan mengasah kepekaan nurani.

Dianing Widya

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Buku Terbaru Fira Meutia: Asma di Dunia Maya Ayo Menulis

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2011
S S R K J S M
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

TELAH DIBACA

  • 87,526 kali

Kategori

Halaman

TWITTER: @dianingwy


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: