Karena Weton
November 10, 2009
SETIAP orang dalam hidupnya akan memasuki jenjang pernikahan. Sebelumnya tentu mengalami masa perkenalan, saling suka, pacaran, bertunangan dan menikah. Tampak begitu sederhana dan mudah, tetapi tidak dengan masyarakat Jawa yang sebagian para orangtuanya masih mempercayai weton.
Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, yakni tahun delapan puluhan, mitos dan kepercayaan terhadap weton begitu mengental. Tak jarang orangtua berselisih paham kepada anak-anak mereka yang ingin menikahi atau dinikahi kekasihnya. Orangtua tak serta merta merestui, orangtua akan bertanya dulu apa weton calon suami atau calon istri anaknya.
Hitungan weton yang jatuh pada hitungan baik seperti, roh gemulung, tunggak semi, wasesa segoro akan mendapat dukungan dari orangtua untuk meneruskan menikah. Tentu hal ini membuat pasangan senang luar biasa, bisa menikah dengan orang yang dicintai.
Bagaimana dengan pasangan yang wetonnya jatuh pada hitungan buruk? Orangtua, sanak saudara akan menentang rencana pernikahan mereka, tak peduli kalau mereka saling menyayangi.
Sampai sekarang di masyarakat Jawa, Batang khususnya sebagian orangtua bahkan anak-anak mudanya masih saja ada yang percaya pada kekuatan weton.
DWY
Entry Filed under: Dibalik Novel WETON. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed