Lek Bego
November 7, 2009
MENYAMBUT lebaran, di kampungku setiap rumah selalu berhias. Ini adalah rahasia di balik ritual ramadhan. Keluargaku sibuk dengan bersih-bersih rumah, juga mengganti warna cat dinding. Rumah nenek biasanya kakek sama paman yang mengecat. Ada yang unik, untuk dinding dari anyaman bambu, kakek tak menggunakan cat dinding, melainkan gamping yang dicampur pewarna biru.
Rumah ibu yang terletak di jalan Yos Sudarso, termasuk kotanya, membuat kami menggunakan cat dinding. Jika di rumah nenek, pengecatan dinding dilakukan sendiri, ibu sama bapak meminta tolong Lek Bego. Dipanggil Bego karena ia tak bisa berucap seperti kita. Untuk berkomunikasi, kami menggunakan bahasa isyarat. Tentunya bahasa menurut versi kami.
Lek Bego merupakan langganan kami, ngecatnya bagus, rata dan sangat cepat. Itulah kelebihan yang Tuhan berikan sama Lek Bego. Orangnya periang dan lucu, sebelum mengecat dinding, Lek Bego suka sekali melukis dinding terlebih dulu. Aku dibikin terpingkali-pingkal ketika Lek Bego menyuruhku melihat ke dinding dekat kamar mandi, ups, seekor monyet tengah ngebut mengendarai sepeda motor. Lek Bego tampak senang melihat aku tertawa lepas. Lain kali Lek Bego melukis Petruk, Gareng, Semar dan bagong. Lainkali lagi Lek Bego melukis perempuan seksi. Kalau yang terakhir aku hanya tersenyum tipis, tapi Lek Bego malah tertawa.
Itu serpihan kenangan semasa kecil dulu, sekarang ketika aku jauh dari Batang, aku jadi jauh dari Lek Bego, bahkan beberapa lebaran ke Batang, tak juga aku berjumpa dengan Lek Bego. Untuk mengenangnya aku sematkan nama dan sosoknya dalam novel ini, Weton, Bukan Salah Hari. Semoga bisa memberi manfaat bagi pembaca. Amin.
DWY
Entry Filed under: Dibalik Novel WETON. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed