Dinding Bambu
Oktober 30, 2009
SEMUA berawal dari masa kanak-kanak. Masa di mana aku memiliki banyak kenangan. Aku merupakan cucu pertama baik dari pihak ibu dan bapak. Aku ingat betul betapa dulu aku sering diperebutkan oleh bulek-bulekku, dari bapak juga ibu. Mereka biasanya menawarkan berbagai makanan, biasanya jajanan pasar. Mungkin karena pengaruh ini, sampai sekarang aku sering kangen dengan makanan kecil khas kampung. Salah satunya Getuk.
Salah satu kenangan itu adalah ketika bermain dan sering tinggal di rumah Mbah Putri atau nenek dari ibu. Aku suka sekali tidur di kamar belakang dekat dapur. Dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu, kami menyebutnya pager. Anyaman bambu ini dibuat sendiri oleh mbah kakung, almarhum Tayib. Wajahnya tirus, kulitnya hitam, tapi manis, he he… Aku kurang dekat dengan mbah kakung. Orangnya pendiam, banyak kerja. Dulu sering tetangga datang ke rumah minta nasehat sama mbah kakung. Dari urusan anak sakit sampai pertengkaran dalam rumah tangga.
Nah soal kamar dengan dinding anyaman bambu ini, yang bikin aku betah di kamar. Kalau pagi terasa dingin, kalau terik, jadi hangat. Aku lebih sering tinggal di rumah mbah putri yang ada di Teratai Kidul, sampai-sampai biar pun rumah ibu yang ada di Bundelan Yos Sudarso, tetapi aku sekolah di Kasepuhan. Sekolah yang dekat dengan rumah mbah putri. Jadilah, temenku sebagian besar berasal dari Kasepuhan, Kedungmiri dan sekitarnya.
Novel Weton, Bukan Salah Hari, novelku yang ke empat ini, aku selipkan nyamannya berada di kamar berdinding geribik, dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Made in mbahku sendiri, lho.
DWY
Entry Filed under: Dibalik Novel WETON. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed