Alun-alun Batang

September 16, 2009

nawangPULANG ke Batang, tak akan lengkap tanpa singgah ke Alun-alunnya. Alun-alun ini juga yang tak pernah lepas dari ingatanku. Setiap pagi saat berangkat sekolah menuju SMP 1 Batang aku senantiasa melewatinya. Demikian juga ketika menginjak ke SMEA N Batang, aku pasti melewatinya. Belum lagi dengan beberapa organisasi luar sekolah yang aku ikuti, senantiasa dekat dengan Alun-alun Batang.
Begitu juga ketika bolak-balik Semarang – Batang selepas SMEA dulu, Alun-alun Batang senantiasa menyihir benakku. Salah satu ang aku suka adalah memandangi pohon beringin yang sudah berumur, di bawah langit lepas. Letaknya tepat di tengah Alun-alun. Imajinasiku senantiasa riuh rendah di sini. Sejak novel perdanaku Sintren, yang sempat masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award, lalu novel NAWANG, dan sedang dalam proses terbit yakni novel WETON, Bukan Salah Hari, aku senantiasa memasukkan Alun-alun Batang sebagai salah satu lokasi dalam novel.
Sekarang, ketika aku jauh dari Batang, kesempatan pulang kampung sekali dalam setahun. Lebaran. Sulung yang lahir di kota ini memiliki ikatan yang sangat kuat. Ia senantiasa ingin pulang lebih cepat tatkala menjelang lebaran. Pernah aku menawar agar pulang kampung saat liburan sekolah, tetapi ia memilih lebaran. Alasannya ramai berkumpul dengan keluarga.
Biasanya, aku dan keluarga serta adik-adikku akan bermain di Alun-Alun Batang, menikmat udara Batang. Aku suka melihat sekeliling, menatap masjid Agung yang berdiri kokoh, melihat hilir mudik pengendara sepeda, becak, motor, mobil serta sibuknya Jalan Jenderal Sudirman atau jalur pantura. Aku seperti kembali ke masa kanak-kanak.
Di Alun-alun Batang juga, Nawang sering singgah.

Entry Filed under: Dibalik novel NAWANG. .

1 Comment Add your own

  • 1. Supriyadi  |  Oktober 17, 2009 at 4:51 am

    kalo aku yg ingat baso disamping srikandi….ngangeni

    Balas

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

PALING BARU

PALING DIBACA

ARSIP

KALENDER

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

KOMENTAR

Blogroll

MEDIA CETAK

NOVEL

PENGELOLA

TELAH DIBACA

Halaman

Meta