Warung dan Koran Bekas
Juli 4, 2009
Dulu ketika kanak-kanak hingga remaja aku tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dengan teman-teman di kampung. Aku kurang suka bergaul dengan teman-teman, tetapi bukan berarti aku sombong. Ini mungkin dikarenakan letak rumahku yang di tepi jalan raya, bukan di dalam gang. Kalau di dalam gang kan enak, kita keluar pintu rumah saja sudah ketemu tetangga kita. Kita duduk di teras saja, ada orang lewat lalu saling bertegur sapa.
Rumahku yang di tepi jalan raya itu membuat aku kesulitan bertemu teman-teman sebaya untuk bermain. Kalau aku keluar rumah sekedar untuk main Rok Sin, Rok Deret, Gobak Sodor, Apollo atau bola kasti, kesannya ako dolan. Keluar rumah. Orang tua nggak melihat. Aku juga sering dipanggil sama ibu-ibu tetangga ketika sedang asik-asiknya bermain.
“Wid disuruh pulang, suruh jaga warung.” Aku sih sering tak peduli. Tak langsung pulang, tapi nggak lama kemudian tetangga lain, yang baru beli di warung kedua orangtuaku akan memanggilku. Jika aku tak pulang juga, Mak atau Bapak akan segera menjemputku.
Mak dan Bapak adalah dua karakter yang berbeda. Ibaratnya langit dan bumi. Mak sangat lembut, sedang bapak (almarhum) kereng alias galak alias keras. Mudah marah, tetapi suka memanjakan anak dalam hal makanan, pakaian. Bapak lebih konsumtif ketimbang mak.
Jika mak yang memanggil aku berani menolak untuk pulang, karena mak tak pernah memukulku. Mak hanya berkata: “Ayo pulang, jaga warung.” Lain dengan bapak yang dari posturnya dah tinggi, kerempeng dengan warna kulit gelap dan wajah angker, begitu sosoknya sudah tertangkap di mataku, udah deh cabut dulu.
Tak akan terkatakan tentang arti kedua orangtuaku dalam hidupku. Maka, di sini aku tak bisa cerita sedalam apa rasa hormat saya ke mereka. Akuyang dibesarkan di lingkungan berdagang membuat kurang waktu untuk bermain dengan teman-teman sebaya. Tak jarang sepulang sekolah, mak langsung menugasi saya untuk menjaga warung. Mak hendak belanja keperluan isi warung. Di sela-sela menjaga warung itulah aku gunakan membaca tumpukan koran dan majalah bekas yang ada di warung. Koran-koran dan majalah bekas ini untuk membungkus barang yang dibeli pembeli.
Dari membaca itulah saya jadi tahu apa yang ada di luar sana. Pelan-pelan bacaan mempengaruhi pikiran juga emosi saya. Lama-lama saya lebih suka di rumah. Membaca dan menjaga warung. Keinginan bermain di luar rumah berkurang hingga benar-benar tak ingin. Kebutuhan batin saya sudah terpenuhi dengan membaca. Itu pula yang membuat masa kanak-kanak saya sangat jarang keluar rumah. Saya merasa rugi bila dalam sehari tak membaca.
Entry Filed under: Dibalik novel NAWANG. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed