Pororo

Juni 29, 2009

LIBURAN telah tiba. Libur panjang, teramat panjang menurutku. Tiga minggu. Biasanya anak-anak akan jenuh bila terlalu lama di rumah. Biasanya pagi hari mereka sudah disibukkan dengan persiapan berangkat sekolah, dari mandi pagi sampai makan pagi. Libur artinya, mereka punya banyak waktu tanpa kegiatan belajar di sekolah.
Praktis pagi hari mereka sudah dihadapkan pada layar televisi. Salah satu hiburan yang mudah diakses, selain jaringan internet. Untuk menu tontonan di televisi, aku sudah tak khawatir. Rizki lebih suka melihat acara starkids di ANTV yang banyak memutar film anak. Salah satunya film kartun Pororo, yang diputar setiap pagi pukul tujuh. Sibungsu Edgin pun ikut-ikutan gandrung dengan little penguin produksi Korea itu.
Aku yang harus menyuapi Edgin, terbawa ikut menonton Pororo. Sepanjang melihat Pororo, Edgin selalu berteriak kegirangan. Memang penampilan Pororo lucu-lucu dan imut. Pororo adalah film kartun dengan tokoh pinguin kecil. Ia memiliki enam teman yakni, Petty, si pinguin perempuan yang mungil. Crong, si bayi dinosaurus bertubuh hijau. Ada Loopy, si berang-berang lucu. Lalu Eddy serigala kecil, Poby beruang yang selalu membantu, juga Harry si burung kecil.
Aku, yang sudah bukan kanak-kanak lagi langsung tertarik dengan Pororo. Film ini sarat pendidikan. Mengajarkan pada penonton untuk selalu riang gembira dan saling menolong dengan sesama. Salah satu saja contohnya, pada episode yang aku lihat beberapa hari lalu.
Film dibuka dengan hujan salju sepanjang malam. Paginya salju menumpuk di depan rumah Pororo, Poby, Crong, Loopy juga Eddy. Dari kejauhan tampak Poby tengah membawa skop untuk menyingkirkan timbunan salju. Poby membutuhkan bantuan. Ia menuju rumah Eddy. Eddy tahu kalau Poby datang untuk minta bantuan, malah pura-pura flu. Maka Poby pulang dan mengabarkan pada Pororo, Crong juga Loopy kalau Eddy tak bisa membantu menyingkirkan timbunan salju karena sakit.
Akhirnya mereka bekerja keras menyingkirkan timbunan salju dan pohon cemara yang tumbang. Usai bekerja Loopy membagikan kue ke teman-teman dan tak lupa menyisakah satu kue untuk diantar ke rumah Eddy. Betapa terkejutnya ia setelah mengetahui kalau Eddy tidak sakit. Eddy hanya pura-pura sakit. Eddy tak ingin waktunya membaca buku, berkurang karena membantu teman-teman.
Loopy pulang, mengabarkan pada Pororo dan teman-teman kalau Eddy tidak sakit. Maka mereka berencana mengingatkan Eddy dengan berpura-pura sakit. Cepat atau lambat Eddy akan meminta bantuan mereka untuk menyingkirkan timbunan salju. Benar saja, Eddy kebingungan karena salju menumpuk. Maka dia pergi ke rumah teman-temannya untuk meminta tolong. Sayang, setiap teman yang ia datangi mengeluh sedang sakit, dan tak bisa membantu Eddy.
Akhirnya Eddy berusaha menyingkirkan salju yang menumpuk di depan rumah sendirian. Diam-diam Eddy menyesal karena pura-pura sakit. Ternyata bekerja sendiri, tanpa pertolongan teman itu susah.
Tak lama kemudian Poby, Pororo, Crong juga Loopy datang. Mereka menawarkan diri untuk membantu. Eddy jadi malu setelah tahu kalau semua teman-temannya hanya pura-pura sakit.
“Maafkan aku,” ujar Eddy.
“Ya ya,” ujar Pororo dan teman-teman. Akhirnya mereka berkeja sama menyingkirkan timbunan salju yang ada di depan rumah Eddy. Mereka tidak saling mendendam, mereka saling menolong dan bekerja dengan riang gembira.
Aku tersenyum. Aku pandangi Rizki, Edgin, juga Maghfira. Wajah mereka berbinar. Aku berharap dari tontonan yang edukatif itu, anak-anak bisa mengambil hikmah. Sejenak aku menautkan kening. Bagaimana dengan sinetron produksi anak negeri? Selain garapan Deddy Mizwar, sangat sulit menemukan sinetron yang mampu memberi pencerahan.
Sinetron kita selalu berorientasi pada pasar, hingga maaf melupakan realita sosial kita sehari-hari. Beruntung anak-anak dan aku sendiri tak pernah melihat sinetron, selain garapan Deddy Mizwar. Semoga selain Deddy Mizwar, ada teman-teman yang masih peduli untuk memproduksi sinetron yang sarat ilmu. Amin.
DWY

Entry Filed under: Catatan. .

7 Comments Add your own

  • 1. nafisblog  |  Juni 29, 2009 at 6:53 am

    hahaha! Film dari luar emang selalu jadi favorit dan malah di plagiat anak indonesia.

    salam kenal. saya nafis! :)

    Balas
    • 2. dianing  |  Juni 30, 2009 at 3:52 am

      Terimakasih mas Nafis, sudah berkunjung di blog saya. Semoga untuk waktu mendatang teman-teman kita mampu membuat film anak yang bermutu.

      Balas
  • 3. rini  |  September 6, 2009 at 1:47 pm

    filmnya kok gak bisa di download sich bisain dong biar aku bisa download

    Balas
    • 4. endah  |  September 6, 2009 at 1:49 pm

      tolong dong bisain download film kartun islami soalnya ku pingin banget nonton ya gitu deeh…!!he…he…he…

      Balas
      • 5. dianing  |  September 11, 2009 at 2:08 pm

        Mbak Endah nonton aja setiap pagi, pukul 07.00 di AN TV. Salam hangat…

    • 6. dianing  |  September 11, 2009 at 2:09 pm

      Mba Rini, biar lebih puas bisa kok dilihat setiap hari pukul 07.00 di AN TV. Salam.

      Balas
  • 7. imam  |  November 4, 2009 at 11:44 am

    apa ada yang punya pororo cartoon versi indonesia

    Balas

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

PALING BARU

PALING DIBACA

ARSIP

KALENDER

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

KOMENTAR

Blogroll

MEDIA CETAK

NOVEL

PENGELOLA

TELAH DIBACA

Halaman

Meta