Bangkit
Juni 25, 2009
WAKTU liburan sekolah di ambang pintu. Libur kenaikan sekolah ini selama tiga minggu. Artinya anak-anak di rumah dalam waktu lama. Seringkali membuat aku pening, Maghfira sama Rizki seringkali bikin gaduh kalau sedang bermain bersama. Sebentar akur, sebentar kemudian ramai. Kadang masalahnya berebut mainan atau salah satu diantara keduanya ada yang kurang sportif. Biasanya Rizki yang suka curang. Misal dia kalah ketika suit bersama, tetapi tidak mau mengakui, lalu meminta suit diulang lagi. Soal makan, jika liburan tiba aku mesti lebih cerewet. Bila mereka masuk sekolah, jam enam pagi sudah makan, bila libur bisa sampai jam delapan baru mau makan.
Menjelang libur kami mengunjungi bulek yang tinggal di Cililitan. Waktu berkunjung inilah aku mendapatkan pelajaran berharga dari tetangga bulek. Mulanya Bu Sari, nama tetangga bulek itu mengantar kue bolu yang dipesan bulek sebanyak tujuh loyang. Aku dan anak-anak berkunjung ke rumah bulek ketika bulek mempersiapkan ruang tamu untuk arisan ibu-ibu. Aku dan anak-anak sedikit membantu.
Sejenak aku mencium aroma kue bolu yang menggoda. Bulek segera mengiris kue bolu itu jadi beberapa irisan.
“Memang banyak yang datang, bulek. Kok sampai tujuh loyang.”
“Bulek tambah dua loyang, entah kenapa kok pikiran mau ada tamu mau datang, eh ternyata kalian.”
Usai arisan aku sama anak-anak keluar. Bulek tak turut, karena harus menyiapkan makan sore. Dari rumah memang Fira pengen mie ayam di kedai langganan Bulek. Mie ayam ini ada di pinggir jalan raya. Kedai ini selalu ramai oleh pengunjung. Emang rasanya benar-benar bikin ketagihan. Ketika kami sedang menikmati mie ayam Bu Sari datang. Mengambil tempat-tempat loyang. Pemilik kedai mie ayam memberi sejumlah uang ke Bu Sari Ternyata Bu Sari menaruh roti bolu di kedai ini. Sejenak aku pandangi loyang yang ada di meja. Tinggal beberapa irisan kue. Aku mengambil satu iris roti. Menikmatinya. Enak.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah bulek aku memikirkan bu Sari. Dari postur tubuhnya, kecantikan wajahnya dia cocok menjadi pramugari. Sepertinya dia juga orang berpendidikan, dalam arti dia lulusan sebuah perguruan tinggi. Saat memikirkan bu Sari itulah, kami berpapasan dengannya. Kami saling melempar senyum.
Aku sampai di rumah bulek lagi. Bulek baru saja selesai menyiapkan makan malam. Hanya goreng telur, ikan asin dan memanasi sayur lodeh. Hari itu menu makan bulek bikin kangen sama kampung. Usai memasak bulek santai sejenak di ruang tamu sambil selonjoran. Duduk di lantai dengan kedua kaki lurus ke depan.
“Assalamaualaikum,” terdengar salam. Kami menjawab. Aku terkesima. Lagi-lagi bu Sari. Ia datang untuk mengambil loyang. Hari ini aku begitu sering bertemu dengan bu Sari. Bulek segera memberikan tujuh loyang yang sudah kosong dan sejumlah uang. Bu Sari hendak memberikan uang kembalian ke Bulek, tetapi Bulek bilang nggak usah dikembalikan.
“Buat beli permen Anggi.”
“Ini terlampau banyak, Bu.”
Bu Sari tampaknya tak mudah menerima bantuan. Ia tetap saja mengembalikan uang kembalian.
“Maaf Bu, saya suka nggak enak sama bapaknya anak-anak. Dia suka nanya kalau ada kelebihan uang. Kalau nanya kayak wartawan. Teliti banget. Kalau ketahuan diberi orang, saya suka dimarahin.”
Saya menautkan kening. Orang diberi uang kok nggak mau. Sombong banget, gerutuku dalam hati.
“Maaf Bu, saya juga pengen tangan saya di atas, tidak di bawah terus.”
Hati saya bergetar mendengarnya. Bulek pun maklum bila akhirnya uang yang diikhlaskan itu dikembalikan sama bu Sari. Bulek mengangguk-angguk. Bu Sari lalu pamitan pulang, tetapi Bulek memanggilnya lagi.
“Pesen kacang telur sekilo.”
“Sekarang Bu.”
“Boleh, tapi kalau nggak bisa sekarang besok pagi bisa.”
Kali ini bu Sari tersenyum sambil menjawab kalau dia bisa memenuhi pesanan bulek hari ini.
Sepeninggal bu Sari aku didera rasa ingin tahu. Aku ingin tahu lebih dalam siapa bu Sari. Ternya bu Sari lulusan perguruan tinggi di sebuah universitas terkemuka di Solo. Usai kuliah, bu Sari dulu bekerja kantoran sampai berumah tangga dan memiliki seorang anak.
Pada kelahiran anak kedua, bu Sari memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Alasannya pikirannya selalu tertuju pada si kecil yang di rumah.
“Yang ada aku stres. Fisik di kantor, tapi hati ke rumah.”
Ternyata tanpa pekerjaan bu Sari sempat stres juga. Ia yang terbiasa punya penghasilan jadi resah harus meminta suami terus. Akhirnya iseng-iseng bu Sari bikin makanan kecil. Semula hanya bikin kacang asin. Kacang asin itu bu Sari bungkus kecil-kecil dan dititipkan di warung. Satu bungkus dijual seribu rupiah. Semula bu Sari hanya menganggap pekerjaan itu hanya sampingan saja, sambil momong anak. Untung yang lumayan besar, membuat bu Sari mengembangkan diri membuat kue bolu. Sama dengan kacang asin, kue bolu ini juga dijual dengna dititipkan ke warung-warung.
Badai krisis yang baru saja berdengung, menghantam keluarga bu Sari. Suami bu Sari kena PHK oleh kantornya. Saat itulah bu Sari tambah serius mengembangkan usaha makanan kecilnya. Bila dulu hanya bikin kacang asin, sekarang berbagai jenis makanan kecil di bikin. Juga menerima pesanan dari tetangga.
Usia suami yang sudah hampir kepala empat sudah sulit mencari pekerjaan di perusahaan baru. Akhirnya suami ikut membantu mengelola usaha bu Sari. Keluarga ini dikenal tak mudah menerima bantuan orang lain. Lebih suka berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika awal-awal suami bu Sari menganggur, banyak tetangga yang simpati dan ingin membantu. Oleh mereka bantuan itu diterima, tetapi kemudian diberikan ke orang yang lebih membutuhkan. Kaum dhuafa.
DWY
Entry Filed under: Catatan. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed