Usil
Juni 16, 2009
AKU sedang berada di rumah Mbak In, ketika Bu Tutik datang ke rumah Mbak In. Pagi itu masing-masing dari anak-anak kami sudah masuk sekolah, jadi ada waktu untuk berkunjung ke tetangga. Aku sendiri mengembalikan piring yang kemarin Mbak In bawa ke rumah untuk menaruh Gethuk.
Mbak In menyambut riang kedatangan tetangga lain gang itu, tetapi wajah bu Tutik kok sama sekali tak riang. Wajahnya malah masam, nggak enak dipandang mata. Setahuku bu Tutik sedang merenovasi rumahnya. Bu Tutik menambah lantai atas. Rumahnya dibikin berlantai dua. Seyogyanya bu Tutik bahagia, sedang berlimpah rezeki. Rumahnya jadi mentereng, ini kok malah manyun.
“Sebel aku,” ucapnya tiba-tiba sambil duduk di depan kami. Seperti biasa mbak In tersenyum santai. Dari nada-nadanya, Bu Tutik ingin mencurahkan semua isi hatinya sama Mbak In. Rasanya aku harus angkat kaki dari sini. Aku beranjak deri tempat dudukku.
“Saya,”
“Jangan pulang Jeng,” cegah Bu Tutik sembari menahan lenganku. Aku memandang ke Mbak In. Bertambah lagi tetanggku yang suka memanggilku Jeng. Semula aku agak riskan dengan panggilan ini, karena Jeng lebih terdengar sebagai panggilan perempuan yang masih muda, sementara usiaku sudah kepala tiga. Memang sih dibandingkan dengan Mbak In dan Bu Tutik usiaku terpaut empat sampai lima tahun. Kalau yang memanggil Mbak In, aku sudah bisa menikmati. Sekarang untuk Bu Tutik lama-lama juga bisa. Mungkin.
Mak In mengangguk. Aku duduk lagi.
“Kalau Jeng Widya pulang, saya merasa bersalah.”
“Lho, kok jadi melow ta Bu.”
“Makanya jangan pulang dulu, saya mau marah-marah ini.”
Aku dan Mbak In saling berpandangan.
“Nggak ada angin nggak ada hujan, kok mau marah-marah ada apa. “
“Saya minta maaf lagi kalau saya salah,” ujarku.
“Aduh Jeng, Jeng Widya. Bukan sampeyan yang salah, yang salah itu Pak Kibul.”
“Pak Kibul Worawari,” ucapku dengan nada bertanya, dan menautkan kening.
“Dia kan sesepuh di sini, orang yang paling tua di sini Bu.”
“Dari segi usia dia emang sesepuh, Jeng. Mesti kita hormati, tapi ucapan-ucapannya itu lho, bikin merah telinga.”
Aku sejenak diam. Beberapa kalimat menyakitkan berdengung kembali di telinga. Dulu pernah Pak Kibul meremehkan mobil kami. Dia menyuruh suami untuk sering-sering bawa mobil, agar tidak mogok. Dulu memang suami hanya sekali-sekali bawa mobil ke kantor, tapi bersikap tak meremehkan orang apa susahnya sih.
Pernah juga Pak Kibul menyuruh aku untuk menebang pohon Belimbing Wuluh, alasannya banyak daun yang rontok. Bikin sampah di jalan. Aku hanya bisa mengiyakan, dalam hati menggerutu. Pohon, pohon aku. Mau aku tebang, mau nggak aku tebang urusanku dong. Kok repot. Gusdur saja nggak repot. Toh yang menyapu tepi jalan di depan rumah, setiap pagi dan sore juga aku.
Terlintas juga ketika Pak Kibul menegur Bu Ririn. Sama, masalah daun yang rontok di tepi jalan. Dengan santai Pak Kibul bilang ke Bu Ririn,”Di rumah ada sapu Rin, ambil saja.” Waktu itu Bu Ririn hanya tersenyum, tetapi begitu Pak Kibul berlalu, ia ngomel-ngomel.
“Sapu di rumah malah gagangnya lebih panjang, emang pekerjaanku nyapu jalan doang apa.” Aku yang waktu itu ada di dekat Bu Ririn tersenyum tipis.
“Sudah dua kali Mama Fira, dia begitu sama aku. Mau kita balas omongan kok orang tua. Nggak kita balas kok nyelekit, sakit di hati.
“Jeng,” panggil Mbak In lembut, tetapi cukup membuatku terhenyak.
“Malah melamun.” Aku pandangi Bu Tutik.
“Pak Kibul sejak saya betulin rumah, ada saja omongannya,” ucap Bu Tutik tanpa aku tanya.
“Kok inilah, kok itulah. Apa sih maunya,” gerutu bu Tutik bikin aku nggak ngerti ucapan-ucapan seperti apa yang membuatnya uring-uringan.
“Soal cat rumah Mba In, kami suka warna abu-abu, eh dia seenaknya bilang kok warnanya abu-abu, jadi gelap dilihat. Lebih enak warna putih, bersih.” Mbak In mengangguk kecil, aku didera rasa ingin tahu yg besar. Apa lagi?
“Soal pagar, saya sama suami sudah sepakat pakai pagar yang simple nggak banyak lekak-lekuk. Dia bilang apa? Nggak punya duit ya, buat beli pagar yang bagusan dikit. Aduh pening gue,” panjang lebar Bu Tutik bercerita soal pak Kibul.
“Soal kran air, kami pilih yang sederhana. Eh dia bilang beli kran yang bagus sekalian, biar awet.”
Aku menghela napas. Aku bisa memahami kegusaran Bu Tutik. Bagaimana tidak jengkel menghadapi orang yang banyak bicara. Bu Tutik sejenak diam. Barangkali dia capek ngomong.
“Semestinya kita bisa memahami Pak Kibul,” ujar Mbak In. Aku dan Bu Tutik memandang ke arahnya.
“Kita mesti lihat latar belakang Pak Kibul, mengapa dia begitu banyak bicara bahkan cenderung seenaknya ngomong, tanpa berpikir apakah omongannya akan menyakitkan orang lain atau tidak.”
“Maksud mbak In?” tanyaku.
“Dia dulu punya keluarga tapi sekarang tinggal sendirian. Istrinya sudah meninggal terlebih dulu, sementara kelima anak-anaknya sudah berkeluarga. Rumah mereka berjauhan, jadi jarang ngumpul. Bisa jadi kan, semua yang ia ucapkan sama Bu Tutik hanya pelarian. Pak Kibul tak punya teman untuk ngobrol atau memberi nasehat ke orang lain. Pak Kibul bisa jadi tak mengerti kalau ucapannya itu menyakitkan orang lain.”
“Maksud Mbak In kita mesti paham dan menerima serta ikhlas gitu,” ujar Bu Tutik.
“Ya.”
“Kok enak banget jadi Pak Kibul, sudah ngomong seenaknya, orang lain disuruh maklum begitu saja,” ujar Bu Tutik lagi.
“Sudah ambil hakmahnya saja. Kita jangan suka ngomong sembarangan ke orang ain. Karena rasa sakit hati itu tak enak sama sekali,” jelas Mbak In kemudian. Aku dan Bu Tutik diam, tapi aku yakin pikiran Bu Tutik tak diam. Pikiranku berkata, bahwa usia tak menjamin seseorang dihormati orang lain, melainkan ucapan seseorang itulah yang menentukan harga dirinya.
DWY
Entry Filed under: Catatan. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed