Menjadi Tua
Juni 12, 2009
MEMILIKI tiga anak dengan sibungsu berusia satu tahun tujuh bulan, terasa sulit menemukan waktu santai seusai subuh, apalagi ketika terlambat bangun. Alamat raga tak bisa menikmati hamparan langit biru juga udara pagi yang segar. Memang setelah berkeluarga dan memiliki anak-anak usia sekolah kondisinya beda jauh ketika masih lajang. Dulu bangun tidur aku tak perlu ke dapur, karena emang belum ada yang memerlukan perhatianku. Sekarang harus memikirkan anak-anak. Repot tetapi menyenangkan. Demikian juga dengan waktu menulis.
Dulu, ketika masih lajang, bangun tidur aku langsung bisa menulis tanpa ada yang mengganggu. Siang cari berita, sore latihan teater sampai malam. Malam menulis sampai larut, bangun subuh untuk tidur lagi. Bangun lagi biasanya setelah jam sepuluh pagi. Sekarang waktuku menulis praktis hanya malam hari. Paling banter satu hari hanya menulis satu tulisan. Aku bisa menikmati kondisi sekarang dengan sangat senang. Setelah berkeluarga justru aku kian mantap menulis.
Syukurlah tadi pagi aku bisa bangun sebelum subuh. Jadi ada waktu limabelasan menit untuk santai disela-sela menyiapkan makan pagi anak-anak sebelum berangkat sekolah. Terlebih hari ini ada kelonggaran waktu sampai tigapuluh menit. Maghfira dan Rizki tengah tes smesteran.
Aku jalan santai setelah sedikit senam di teras rumah. Sampai pada gang sebelah aku bertemu dengan seorang nenek yang usianya sudah sangat lanjut. Mungkin delapanpuluh tahun ke atas. Seluruh tangan, wajah dan kaki sudah berkeriput. Rambut hanya beberapa helai, warnanya sudah tak putih lagi tetapi keperakkan. Jalannya sudah tertatih-tatih, tapi tak memakai tongkat. Nenek itu juga tidak bungkuk. Masih tampak sehat, meski gerakkannya lambat.
Aku menyapanya, nenek itu hanya tersenyum. Kalau aku perhatikan biarpun sudah berusia senja, aku tak pernah melihat nenek itu tanpa kegiatan. Selalu saja ada yang ia kerjakan. Kadang masih menyapu halaman, menjemur pakaian atau sedang belanja di warung sebelah. Seperti pagi ini misalnya, nenek itu sedang menjemur sepatu.
Melihat nenek itu, aku jadi berpikir puluhan tahun kedepan. Kelak aku juga tua. Keriput tumbuh di sana sini. Tentu ada yang berkurang. Sambil berjalan menuju rumah, aku berpikir. Jangan pernah takut menjadi tua. Ini proses yang mesti kita hadapi. Tak perlu menutupi keriput di wajah dengan kosmetik bikinan manusia. Berkeriput adalah anugerah dari yang kuasa. Menjadi lamban gerakan kita juga mengingatkan manusia, bahwa tak ada yang perkasa selain Tuhan.
Ups, kalau aku sudah nenek-nenek aku bayangkan semakin banyak waktu aku miliki. Semua anakku sudah mandiri . Aku bisa punya waktu lebih banyak untuk bisa menulis. Aku bayangkan masa tuaku kelak, menjadi masa yang produktif. Tak akan kesepian, karena aku punya kegiatan. Membaca dan menulis. Tentu semua itu atas izin Tuhan, dan sepertinya Tuhan suka melihat aku menulis sampai tua. Amin.
Entry Filed under: Catatan. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed