Archive for April, 2009

Mewarisi Kemiskinan

INI tentang kisah pembantu rumah tangga yang bekerja di depan rumah saya. Panggil saja dia Pok Agus. Nama sebenarnya Surti. Agus adalah nama anaknya yang paling bungsu. Laki-laki, duduk di kelas lima sekolah dasar. Pok Agus punya empat orang anak. Tiga perempuan, dan satu laki-laki.
Anak pertama bernama Sekar, duapuluh tahun, sudah memberinya seorang anak berusia tiga tahun. Sekar menikah umur enambelas tahun. Anak kedua Usi, berumur delapan belas tahun, juga telah memberikannya cucu perempuan berumur satu tahun tiga bulan. Sama dengan Sekar, Usi menikah pada usia relatif muda. Enambelas tahun. Satu bulan lalu Pok Agus mendapatkan cucu lagi, perempuan. Kali ini dari Winni yang baru berusia tujuhbelas tahun. Winni lebih cepat menikah karena paras dan postur tubuhnya yang lebih menarik ketimbang kedua kakaknya. Ia menikah ketika umur limabelas tahun. (lagi…)

Add comment April 30, 2009

Aib

Minggu sore, saya dengan suami dan anak-anak menikmati langit senja dari teras rumah. Sebenarnya kami ingin keluar rumah, tetapi Edgina bungsu kami belum makan sore. Jadi sembari menyuapi Edgin kami ngumpul di sini. Memandangi langit lepas adalah salah satu kesenangan saya sejak masa kanak-kanak. Rasa senang itu terbawa hingga kini.
Saat sedang berkumpul dengan suami dan anak-anak, lewat salah satu tetangga saya pak Halim. Pak Halim ini termasuk tetangga baru sekaligus penjaga keamanan di kompleks tempat kami tinggal. Orangnya rajin. Biarpun tugasnya hanya menjadi satpam, pak Halim suka membersihkan rumput yang ada di tepi jalan. Sayangnya pak Halim ini kurang bisa menjaga rahasia keluarganya. Celakanya lagi pak Halim suka gonta-ganti istri. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Begitu mudah dia menceraikan istri yang dulu, semudah ia menikahi perempuan lain. Yang saya dengar dari tetangga saya pak Halim sudah empat kali menikah. Yang saya tahu sejak pak Halim jadi tetangga saya memang dia baru saja berganti istri. Hanya dalam waktu kurang dari enam bulan menjadi tetangga saya. (lagi…)

2 comments April 20, 2009

Memahami Orang Lain (2)

Saya tak habis pikir dengan mama Mery. Kok ada ya orang yang memiliki karakter seperti dia. Duh, puyeng deh.
“Kenapa sih Jeng?” tanya mbak In yang kebetulan tengah berkunjung ke rumah, tetapi saya suguhi gerutuan. Mbak In mengambil surat kabar. Matanya langsung tertuju pada tulisan di sudut kanan bawah. Tentang kehidupan sosial terkini.
“Bayangkan mbak, baru kemarin marah-marah sama saya. Eh, hari ini tahu-tahu datang ke rumah nawari beras.”
“Beras?”
“Ya, dia kan suka jual macam-macam mbak.”
“Saya nggak ditawari, jeng.”
“Ya tentu, orang dia lagi diemin sampeyan.”
Mbak In hanya tertawa kecil. Ia tampak santai-santai saja meski tengah dijauhin sama mama Mery. Padahal, ketika saya baru saja pindah ke kompleks ini hubungan ntara mama Mery dan mbak In sangat dekat. Bahkan sampai urusan kenduri di rumah mbak In, mama Mery yang pegang kendali. Mama Mery yang mengurus semua soal makanan. (lagi…)

Add comment April 18, 2009

Memahami Orang Lain (1)

SAYA tak habis pikir dengan beberapa tetangga saya. Sikap mereka terhadap mbak In terlalu berlebihan. Apa saja yang mbak In lakukan selalu kurang bahkan salah di mata beberapa tetangga. Apa saja yang bersinggungan dengan mbak In selalu menjadi bahan omongan. Termasuk menu yang mbak In konsumsi hari ini di gerobak dorong Tesi, menjadi perbincangan hangat diantara mereka.
“Tanggal tua begini, masak daging. Belagu dia.” Begitu ucap mama Mery.
“Lagi banyak uang dia,” timpal mama Dipo.
“Suaminya kan pengusaha,” timpal mama Feri.
Saya yang tengah memilih bayam geleng-geleng kepala. Heran dengan sekumpulan ibu-ibu yang mirip sebuah geng ini. Mau masak daging kek, ayam kek, ikan asin kek, suka-suka mbak In khan? Kok repot. (lagi…)

Add comment April 14, 2009

Tetap Menolong

Saya merasakan ada yang janggal dengan hubungan mbak In dan mama Sari akhir-akhir ini. Keduanya seperti tak saling sapa. Seperti kemarin pagi, ketika saya hendak ke warung Tesi untuk membeli ikan segar. Saya melihat dari jarak satu meter, mama Sari yang berjalan ke arahku membuang muka saat berpapasan dengan mbak In. Sementara mbak In yang baru beranjak dari warung mpok Muneh tampak menundukkan kepala.
Dari jauh saya menangkap ada yang beres. Tak seperti biasanya. Biasanya antara mbak In dengan mama Sari seperti gula dengan kopi. Tak bisa dipisahkan. Tanpa gula, kopi apa jadinya? Terasa pahit. Demikian juga dengan gula. Tanpa kopi, gula tak menemukan jodoh. Tak berarti apa-apa. Meski antara gula dan kopi ada pihak ketiga seperti teh. Ups, kok jadi ngomongin gula, teh sama kopi? (lagi…)

Add comment April 8, 2009

Ancaman

INI pengalaman pertama yang kurang mengenakkan yang dialami Mbak In. Pengalaman hidup bertetangga dengan berbagai macam sifat atau watak manusia. Sejak lajang, mbak In senantiasa mendapatkan teman yang asik. Baik itu ketika masa-masa sekolah dan kuliah. Semua teman-teman senantiasa hidup saling tolong. Saling dukung dalam meraih cita-cita. (lagi…)

Add comment April 5, 2009

Nasib

PUCUK dicinta ulam tiba. Hasrat hati ingin pergi ke warung untuk beli ikan basah, di ujung gang, tepat di depan rumah mbak In, berhenti Suryo. Penjual sayur keliling yang suka sekali masuk ke gang kami. Orangnya tinggi, putih, kurus dan gondrong. Wajahnya kembaran dengan pelawak Kabul alias Tesi. Maka nama Suryo sering tenggelam ketimbang nama Tesi. Ia lebih populer dengan panggilan Tesi. Dipanggil Suryo pun nggak bakalan menoleh. Itulah salah satu profil penjual sayur idola kami, ibu-ibu di kompleks tempat saya tinggal. (lagi…)

Add comment April 2, 2009


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

PALING BARU

PALING DIBACA

ARSIP

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

KOMENTAR

Blogroll

MEDIA CETAK

NOVEL

PENGELOLA

TELAH DIBACA

Halaman

Meta