Archive for November, 2008
Bali
Mendapatkan komentar diblog dari sesama wong Batang, bikin saya kangen dengan kampung halaman, Batang. Aku ingin mulih, bali alias pulang.
Lebaran kemarin sebenarnya aku dan keluarga sudah pulang, hanya empat hari. Anak-anak sebenarnya ingin di mbah putri mereka satu minggu, apa daya pekerjaan di Jakarta menuntut kami untuk pulang lebih cepat. Kami balik ke Jakarta di hari kedua lebaran. Sengaja kami pilih di hari kedua untuk menghindari macet. (lagi…)
Add comment November 26, 2008
Anak
Dua hari ini aku suntuk. Maunya marah-marah melulu. Soalnya si sulung yang saleh ini susah sekali kalau disuruh mandi sore. Mandinya selalu menjelang azan maghrib berkumandang, sudah berkali-kali saya nasehati mandi sehat itu sebelum jam lima sore. (lagi…)
Add comment November 25, 2008
Ayu
Kehidupan modern ternyata makin memerlukan puisi. Akhir-akhir ini dalam acara-acara khusus, para pejabat, pengusaha, artis film, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya makin sering terlibat dengan acara pembacaan puisi. Bahkan dalam acara peringatan penyair Chairil Anwar, para menteri pun ikut naik pentas membaca puisi. (lagi…)
4 comments November 23, 2008
Kartun
“Buun” panggil Fira sambil berteriak dari halaman rumah. Saya yang sedang menulis merasa terusik. Aku memang gak suka diganggu kalau lagi menulis. Eh ini malah teriak-teriak.
“Ada apa non?”
“Ada nggak bun, mengumpat dengan bahasa yang sopan.”
Waduh ini pertanyaan kok sulit amir dijawab. Mengumpat ya mengumpat. Mana ada dengan bahasa santun. (lagi…)
Add comment November 22, 2008
Baca
Minggu pagi, sudah menjadi kebiasaan saya dan anak-anak jalan-jalan pagi. Dan seperti minggu-minggu lalu kami selalu bertemu dengan Mbak In di ujung gang. Mbak In tampaknya selalu menunggu kami, maklum rumahnya yang luas memang berada di bibir gang. (lagi…)
Add comment November 19, 2008
Memburu Cahaya
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
Matahari mengeliat tepat di atas menara masjid. Kezia dan anjingnya berjingkat-jingkat di atas aspal jalan. Siang itu udara seperti berlomba-lomba menaikkan suhunya dengan suhu aspal yang sesekali terlihat asap di bagian tengahnya. Dari kejauhan aspal itu menciptakan cahaya kebiruan.
Kezia, perempuan berkulit coklat dengan gigi berderet rapi. Wajahnya biasa saja. Tapi, coba lihat matanya yang bening, mengabarkan bahwa hidup mesti disikapi dengan kebeningan hati. Alisnya yang lebat melindungi sepasang mata beningnya. Tepat di atas alis matanya, ada bekas luka yang sulit dihilangkan. (lagi…)
Add comment November 18, 2008
Aqidah
Halo Aqidah, pa kabar? Kabar bagus pastinya. Lama kita gak ketemu, kemarin aku baca namamu di harian Republika. Selamat ya non, kamu memenangkan cerpen Rohto. (lagi…)
Add comment November 12, 2008
Tangan yang Bercahaya
Cerpen: Dianing Widya Yudhistira
Sumber Suara Karya, Sabtu, 1 Nopember 2008
“INI kutukan!,” teriak seseorang memecah keheningan yang gersang. Orang-orang yang memenuhi tanah lapang itu terhenyak. Mereka memandang ke seseorang yang berteriak. Sementara orang yang berteriak kebingungan, mengapa orang-orang memandangi dirinya? (lagi…)
Add comment November 11, 2008
Kodok eh Bensin
Kemarin sore Mbak In berkunjung ke rumah. Saya baru saja selesai memandikan si kecil. Mbak In membawa koran pagi yang halaman depannya menampilkan foto Tukul Arwana.
Mbak In bertanya apakah internet di rumah bisa dipakai? Aneh dengan pertanyaannya kali ini, mengingat kami memakai jaringan yang sama. Kalau di Mbak In gak bisa ya di rumah tentu gak bisa. “Mau cari info apa Mbak?” tanyaku sembari menghidupkan komputer. (lagi…)
Add comment November 7, 2008
Tinju
Di teras rumah, aku mendapati Mbak In tengah membaca majalah sambil tergelak. Aku yang baru saja mengantar anak sekolah jadi ingin tahu, gerangan apa yang tengah dibaca Mbak In. Rupanya Mbak In tengah membaca cuplikan wawancara majalah Tempo edisi 3-9 November 2008 dengan Yohanes Christian John, petinju kita saat ini yang kian moncer prestasinya. (lagi…)
Add comment November 4, 2008
Tetangga
Dianing Widya Yudhistira
Sumber : Seputar Indonesia, Minggu 19 Oktober 2008
MINGGU. Ini hari kedua aku menempati rumah sendiri. Kebanggaan sekaligus ketenangan mengalir dalam hatiku. Aku bisa mewujudkan keinginanku: punya rumah yang layak huni. Ada halaman, ruang tamu, kamar, dapur serta kamar mandi. Juga sedikit taman di bagian belakang. Tidak seperti rumah kontrakan yang kami huni sebelumnya. Tak ada pembagian ruangan yang tegas. Untuk membedakan ruang tamu dengan kamar tidur, aku dan istriku memisahnya dengan lemari pakaian. Kamar tidur tak ada pintu. Jika ada tamu, mata mereka akan segera tertancap ke tempat tidur kami. (lagi…)
Add comment November 3, 2008
