Minyak Tanah

Oktober 20, 2008 at 2:39 pm Tinggalkan komentar

TADI pagi Mbak In datang ke rumah, dia minta ditemani untuk ambil raport anaknya yang bungsu. “Lho ambil raport kok Senin, biasanya Sabtu” ujarku. “Bisa nggak Jeng.” Aku tersenyum. “Bisa, tunggu sebentar. Gak mungkin to ke sekolah pakai baju seperti ini,” ujarku lagi sambil memegang kedua ujung baju santaiku. Mbak In mengangguk. Aku masuk kedalam.
Tak lama aku kembali dengan celana jeans, atasan batik. Tanpa menunda waktu kami segera meluncur ke sekolah. Mbak In tersenyum, wajahnya kian cantik. Dia bercerita kali ini anaknya peringkat pertama. “Sebenarnya Jeng, saya gak pernah membebani anak untuk dapat peringkat tiga besar apalagi teratas, tapi kok sejak anakku masuk tiga besar, setiap kenaikan kelas aku jadi tegang saat pengumuman peringkat.” Aku bisa memahami kalimat Mbak yang panjang itu. “Jeng kita cari air minum galon dulu ya.” “Kebetulan Mbak persediaan di rumah juga menipis, sejak kemarin air mineral galon susah didapat.
Maka kami menuju ke warung langganan kami, kira-kira dua kilo dari sekolah. Sampai di warung yang tampak galon-galon kosong. Pertanyaan Mbak In pada pemilik warung dijawab nihil. Air mineral ukuran galon langka. Iseng-iseng Mbak melongok ke drum. “Jualan minyak tanah Bang,” ujar Mbak In dengan nada tanya yang dibalas dengan anggukan kepala. jawaban ya, sekaligus senyum simpul. “Berapa seliter sekarang?” “Duabelas ribu.” “What? duabelas ribu?” “Ya ibu, minyak kian langka. Sudah limabulan ini pertamina gak kirim minyak lagi ke pangkalan. No pangkalannya jadi tutup’” ujar pemilik warung menunjuk pangkalan minyak yang sepi.
Aku dengar helaan napas Mbak In, lalu kalimatnya yang panjang lebar. Ia lupa kalau sekarang masih di warung bukan di rumah dia atau di rumahku. “Pemerintah ini kok sudah ninggalin rakyat. Program konversi kan belum selesai, meskinya pengiriman minyak jangan dibatasi apalagi dihentikan. Orang pembagian kompor dan gas kecil kemarin saja tak merata. Banyak orang-orang tak mampu tak kebagian, malah ada yang betul-betul orang mampu malah dapat sampai dua biji. Bulek saya yang di Kramat Jati dapat tuh, sedang pembantu di rumah nggak dapat. Sementara pembantu depan rumah dapat kompor dan gas eh dijual lagi dengan harga sangat murah. Alasannya takut pakai kompor gas.” Aku menghela napas. Sedari tadi ingin mencolek lengannya tapi baru kali ini bisa, karena Mbak In berhenti ngomong.
Mbak minta satu gelas air mineral. Usai meneguknya ia bicara lagi, kali ini dengan geram. “Pemerintah kita Jeng, benar-benar tak memikirkan rakyat. Saat ini mereka sibuk atur strategi guna menghadapi pemilu tahun depan. Jualan kecap nomor wahid, biasalah rakyat dibutuhkan saat menjelang pemilu. Kalau sudah terpilih, ya seperti sekarang ini. Rakyat ditinggalkan.”
“Mbak pulang yuk,” ajakku. Mbak In mengangguk-angguk, tapi masih saja dia berujar. “Kita meski kerja keras lagi Jeng, kita harus kaya raya Jeng, biar bisa meringankan beban orang-orang yang tertindas. Orang negara ini tinggal menunggu waktu untuk karam.” Mendengarnya dadaku terasa sesak.
DWY

About these ads

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Minyak Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 83,922 kali

Kategori

Halaman

TWITTER: @dianingwy


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: