Tentang Wiji Tukul

Juni 15, 2008 at 12:00 am Tinggalkan komentar

Dulu ketika pertama menulis puisi dan mulai dimuat di media Semarang, waktu itu usiaku masih muda. Baru delapanbelas tahun. Aku gemar banget jalan-jalan ke berbagai kota di Jawa Tengah. Salah satunya ke Solo. Di kota ini tempat yang paling uenak sekaligus mewah adalah Taman Budaya Surakarta atau TBS.
Uenak, karena setiap penyair atau budayawan yang singgah di sini tak perlu repot-repot mencari penginapan. TBS telah menyediakan tempat untuk istirahat. Suasana dan langit di dalam TBS, berbeda dengan di luar TBS. Meski sama-sama di Surakarta, singgah dan bermalam di TBS terasa lebih oke. Aku bisa ngobrol sampai pagi tentang isu sastra terkini, juga ngomongin hal-hal yang remeh temeh sampai hal yang gawat.
Di tempat inilah aku banyak ketemu penyair, salah satunya penyair Wiji Tukul. Aku juga sempat mampir ke rumahnya bersama teman-teman lain. Aku mengagumi kepenyairannya, ia salah satu penyair yang memperjuangkan nasib negeri ini dari belenggu tirani, waktu itu orde baru. Satu puisinya yang sangat populer di kalangan aktivis adalah yang berbunyi “Hanya Ada Satu Kata : Lawan!”
Pertemuanku terakhir adalah ketika kami sama-sama akan ke Semarang dari Magelang. Aku, Mbak Rosa, panggilan Dorothea Rosa Herliani, Bapak Tiwikrama juga Mas Wiji. Kami semobil, Mas Wiji sempat cerita pengalamannya ditangkap “seseorang”. Ia pernah dimasukkan dalam satu ruang sempit yang atapnya dibuat dari seng. Sepanjang hari atap seng itu dihujani air setetes demi setetes. Aku tak bisa membayangkan betapa sumpeknya dan ngerinya sebuah jiwa. Bayangkan saja sepanjang hari kita harus mendengar air yang menetes tepat di atas kita.
Mas Wiji, Mbak Rosa dan Pak Tiwikrama sempat singgah ke rumahku di Batang. Karena Ibu jualan kolak kolang-kaling, aku menjamu mereka dengan kolak kolang-kaling.
Waktu singgah ke rumahku itulah sendal Mas Wiji yang selen alias nggak sepasang, ketinggalan di rumah. Duh, hatiku sedih saat menuliskan kenangan ini. Ingat kembali sosok Mas Wiji yang sederhana, heroik juga setia dengan kepenyairannya. Karena itulah pertemuanku yang terakhir dengannya.
Selanjutnya teman-teman dan media masa mengabarkan kalau Mas Wiji hilang, entah di mana. Tentu aku sangat bahagia bila Mas Wiji bisa kembali ke tengah-tengah keluarganya, tapi apakah itu masih mungkin? Mengingat rezim berganti Mas Wiji juga belum kembali. Doaku buat keluarga Mas Wiji, mudah-mudahan selalu dalam lindungan dan kasih sayang yang Kuasa. Amien.
Dianing Widya Yudhistira, Depok Juni 2008

About these ads

Entry filed under: Kilas Balik. Tags: .

Cerita: Dewi Lanjar Hamid Kaha

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 87,479 kali

Kategori

Halaman

TWITTER: @dianingwy


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: