Cerita: Dewi Lanjar

Juni 14, 2008

Dewi Lanjar adalah mitos dalam masyarakat di Pekalongan, Jawa Tengah — delapan kilometer dari Batang, kampung saya.  Ia adalah sosok makhluk halus yang cantik dan mempesona. Dewi Lanjar, konon, kerap muncul di pasar Pekalongan dan kerap menggoda laki-laki pedagang batik. Kalau lelaki itu mau menjadi pacarnya, ia bisa kaya.

Konon, ia memiliki kerajaan di Pantai Slamaran, Pekalongan. Kini Pantai Slamaran telah menjadi tempat wisata dengan nama Pantai Slamaran Indah. Tempat Dewi Lanjar di sana, banyak dikunjungi orang dari luar daerah Pekalongan. Mereka datang untuk mendapatkan nasib baik. Ini memang terlepas dari logika bahwa nasib baik alias keberuntungan selalu muncul sebagai buah dari kerja keras. Tapi itulah masyarakat kita, tetap mengandalkan hal-hal supranatural.

Dewi Lanjar
Cerpen: Dianing Widya Yudhistira

TANGIS bayi memecah keheningan Pantai Slamaran.
Riak ombak bergerak pelan dan tenang. Ombak
seperti menjauh dari rumah berjarak 100 meter dari
mulut ombak. Biasanya, kalau ombak sedang tinggi,
lidahnya seperti menjulur-julur ke rumah kayu
bergaya limasan itu.

“Cah ayu Dewi Lanjar, sudah bangun Nak.” Suara
Rukmi memanggil nama Dewi Lanjar kepada bayi
berumur seminggu itu selalu seperti petir yang
menghantam kepala Kirno, suaminya. Ia tiba-tiba
jadi pusing. Sejujurnya, ia sangat tidak setuju
dengan nama itu. Sebab nama Dewi Lanjar adalah
siluman penguasa Pantai Utara.

Dikisahkan, sewaktu-waktu Dewi Lanjar turun ke
bumi, ke dunia manusia dan bermain-main ke pasar
batik Pekalongan. Saat ia turun itulah dagangan
batik luar biasa larisnya. Siluman Dewi Lanjar
sangatlah elok dan jelita. Hampir setiap lelaki,
pedagang batik akan dibuatnya bertekuk lutut
padanya. Tentunya bila ia sudah menjelma menjadi
sosok perempuan cantik, hingga tampak oleh mata.

Bila ia senang pada seorang lelaki pedagang batik,
dan lelaki itu menyambutnya, Dewi Lanjar akan
mengabdi pada lelaki itu dengan membuatkan motif
batik. Dijamin motif batik karya siluman Dewi
Lanjar akan digandrungi banyak orang. Akibatnya
sang pedagang akan kebanjiran pesanan. Tetapi ya
itu tadi syaratnya, ia harus mau bercinta dengan
Dewi Lanjar, sang siluman.

Tapi Kirno tidak punya kekuatan untuk menghentikan
keinginan istrinya untuk menamakan bayinya Dewi
Lanjar. Ketika ia mencegah yang terjadi adalah
pertengkaran demi pertengkaran. Ia bosan
menghadapi pertengkaran yang terus-menerus itu.
Sebab, itu bisa berakibat ia tidak bisa
konsentrasi pada pekerjaannya.

“Dewi Lanjar itu cantik. Ia mempesona. Ia suka
membantu pedagang batik,” katanya.

“Suka membantu apa? Mengganggu suami orang
maksudmu?”

“Pak, hati-hati kalau bicara.”

“Nyatanya memang begitu. Selalu yang dibantu itu
adalah lelaki yang mau bercinta sama dia.”

“Pokoknya aku tetap ingin nama anak kita Dewi
Lanjar. Titik.”

Kirno terdiam. Kalau Rukmi sudah mengatakan
“pokoknya”, perdebatan sudah selesai, dan ia telah
memenangkan perdebatan itu. Jika dilanjutkan,
Rukmi akan marah besar, membanting apa saja yang
ada di depannya, kemudian pergi ke bibir ombak dan
menangis tersedu-sedu, seolah ingin mengadu pada
Dewi Lanjar, yang menjaga Pantai Utara itu.

Tapi, ketika anaknya beranjak besar dan mulai
sekolah, kekhawatiran-kekhawatiran Kirno dulu
pelan-pelan terbukti. Anaknya suka diejek-ejek
oleh teman-temannya sebagai siluman. Akhirnya,
Dewi Lanjar pun menjadi anak pemurung dan suka
menyendiri. Lanjar, begitu mereka memanggil sang
putri, tidak pernah mendengar ucapan ibunya bahwa
Dewi Lanjar itu sosok yang cantik.

“Kamu cantik seperti Dewi Lanjar. Kamu harus jadi
orang hebat,” kata Rukmi suatu kali. Tapi Lanjar
diam saja. Tangannya memain-mainkan pinsil dan
matanya tertuju kepada buku pelajaran di depannya.
Lanjar memang sedang membikin pekerjaan rumah
malam itu, tapi ia selalu tidak bersemangat untuk
meneruskan.

“Aku mau berhenti sekolah,” tiba-tiba suara Lanjar
mengalir pelan dari mulutnya. Nada suaranya terasa
berat.

Rukmi dan Kirno saling berpandangan. Tiba-tiba
wajah mereka menjadi tegang. Kirno ingin
mengatakan pada Rukmi betapa ini semua terjadi
karena kesalahannya. Tapi ia urung mengatakan
karena takut itu akan membuat Lanjar tahu bahwa
untuk menentukan namanya dulu ia dan ibunya selalu
bertengkar. Ia ingin menunjukkan bahwa suami
isteri adalah sebuah ikatan yang rukun bahagia,
seiya-sekata.

Kini, Kirno hanya ingin mencari cara agar Lanjar
lepas dari ejekan teman-temannya. Cuma itu yang
ingin dia lakukan. (Depok, Agustus 2007)

*) Penulis adalah cerpenis juga menulis novel. Dua
novelnya yang sudah terbit “Sintren” (Grasindo,
2007), dan “Perempuan Mencari Tuhan” (Pustaka
Republika, 2007). Dua novelnya yang lain sedang
menunggu terbit.
 

Entry Filed under: CERPEN. .

10 Comments Add your own

  • 1. ismail  |  April 4, 2009 at 6:53 pm

    punya fotonya dewi lanjar g mas? cantiknya seperti apa sih dewi lanjar itu.

    Balas
    • 2. dianing  |  April 5, 2009 at 2:18 pm

      Terimakasih atas apresiasinya. Masak sih saya dipanggil mas. Kecantikan Dewi Lanjar, yang jelas tak bisa diungkapkan secara sempurna. Dri cerita turun temurun, orangtua hanya bilang ayu. Cantik. Menurut saya sih tergantung imajinasi masing-masing mas. Salam.

      Balas
  • 3. Tomz  |  Agustus 17, 2009 at 1:40 pm

    Percaya tidak percaya saya pernah di sukai oleh seorang dewi lanjar,dia penguasa pantai utara dan mempunyai kerajaan di bawah laut.

    sekarang Dewi lanjar adalah anak yang di ambil oleh kanjeng roro kidul,karena kesucian dia.

    Balas
    • 4. dianing  |  September 11, 2009 at 2:20 pm

      Waow kisah yang menarik mas Tomz, berarti sampeyan pernah melihat langsung dong si Jelita itu…

      Balas
  • 5. RATIH Abdillah  |  September 30, 2009 at 7:47 am

    Bapakku asal Kempong karanganyar Pekalongan aku lahir dijakarta, aku pengagum dewi lanjar bila bapakku cerita. dapatkah dgn cara apa aku dapat bertemu dgn dewi lanjar

    Balas
    • 6. dianing  |  November 22, 2009 at 2:25 pm

      Gimana caranya ya mbak Ratih, wong ini cuma mitos je….

      Balas
  • 7. Taufan  |  Oktober 5, 2009 at 6:52 am

    Ass. Mengingatkan cerita ibuku waktu kecil, Mbak… Setting dalam semua cerita Mbak, mengingatkan saya akan Pekalongan dan Batang di masa kecil saya… termasuk, kisah Dewi Lanjar ini… salut, Mbak… sukses selalu.

    Balas
    • 8. dianing  |  November 22, 2009 at 2:24 pm

      Ya mas Taufan, saya bisa menuiskannya ketika jauh dari Batang. Makasih ya…

      Balas
  • 9. SIGIT  |  Oktober 26, 2009 at 7:15 pm

    saya asli jogja

    Balas
  • 10. Choirul nur huda  |  November 25, 2009 at 3:34 pm

    Ag percaya kalo dewi lanjar itu ada,mendengar ceritanya kayak gitu gimana ya raut wajahnya yang cantik jelita?…jadi kepengen ketemu ag?…

    Balas

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

PALING BARU

PALING DIBACA

ARSIP

KALENDER

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

KOMENTAR

Blogroll

MEDIA CETAK

NOVEL

PENGELOLA

TELAH DIBACA

Halaman

Meta