Perempuan Mencari Tuhan: Novel Sastra yang Berkisah Tentang Reinkarnasi
Mei 24, 2008 at 5:55 am 7 komentar
Oleh Fahmi Alathas
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 24 Mei 2008
Setelah beberapa waktu lalu menerbitkan novel teranyar berjudul “Sintren”. Penulis yang satu ini (Dianing Widya Yudhistira), kembali membukukan novel terbarunya yang berjudul “Perempuan Mencari Tuhan”. Novel yang pernah dimuat secara bersambung di Harian Umum Republika dalam rentang waktu (2006-2007), sebelum dipublikasikan dalam bentuk buku oleh penerbit media tersebut.
Dalam novel tersebut, dikisahkan tentang seorang bayi bernama Ganet. Adalah anak Zahra, adik Clara yang lain, yang diyakini Laksma sebagai reinkarnasi Clara, adiknya yang meninggal pada usia 13 tahun karena “leukemia”. Laksma pun menuliskan nama “Clara” didada mendiang. Tulisan nama itulah secara ajaib tertera didada bayi Ganet. Ganet yang memiliki keajaiban bisa bicara diusia 4 tahun. Dan memiliki kelebihan mampu membaca peristiwa atau musibah apa yang akan terjadi di masa depan.
Pada puncaknya adalah ketika Ganet membaca tanda-tanda akan datang musibah besar menimpa ibukota, tidak ada satupun pemimpin di Jakarta mempercayainya. Musibah itu benar-benar terjadi. Ganet pun terpuruk.
Apabila dilihat dari rangkaian peristiwa maupun struktur penceriteraan menggambarkan sebuah realitas keluarga kedalam mitos reinkarnasi. Pertama, rangkaian peristiwa maupun struktur penceriteraan dalam novel tersebut, memberikan gambaran unsur rasional dan irrasional yang mudah dicerna oleh pembaca selaku penikmat karya sastra. Kedua, unsur irrasional yang digambarkan menjadi pemicu pembaca memahami beragam rangkaian peristiwa. Ketiga, unsur rasional menjadi kunci utama penyebab dengan dilatar belakangi beragam sudut pandang dari rangkaian peristiwa yang digambarkan.
Keempat, menjadi kunci pertama kemampuan serta kepiawaian pengarangnya mampu memainkan para tokoh-tokohnya dan meramu dengan metafor-metafor cantik yang luar biasa. Kelima, kekuatan cerita yang digambarkan menimbulkan dua ruang dimensi antara dimensi yang diterima akal sehat dan dimensi yang diluar akal sehat.
Jika ditinjau dari kemampuan dan kepiawaian pengarangnya meramu rangkaian peristiwa yang disuguhkan mengalir dengan penuh trik dan intrik. Dialog antar tokoh-tokohnya pun menguak rahasia hubungan antara dunia irrasional dan rasional.
Akibatnya, pembaca dibuat bingung terlebih dahulu dalam mencari tingkat kebenaran keobjektifan dari jalan cerita yang irrasional. Sebenarnya, disini letak kemudahan pembaca mencerap makna dari jalan cerita yang disuguhkan. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa, dalam memasukan unsur irrasional dan rasional melalui proses kemampuan dan kepiawaian pengarang dalam meletakkan dunia imaji kepada keobjektifan dunia rasional, bukan dilatar belakangi keobjektifan tingkat kebenaran yang dihadirkan. Akan tetapi melalui proses kemampuan dan kepiawaian pengarang mencerap jalan cerita yang ingin disuguhkan kepada pembaca agar lebih mudah mencerap makna yang disampaikan. Merupakan proses kematangan ide cerita yang diciptakan seorang pengarang.
Dapat dikatakan, bahwa dalam menghasilkan karya sastra yang baik, karya sastra didalamnya mampu meramu ide cerita kedalam unsur irrasional. Merupakan dunia fragmen kehidupan “riil” merasuk kedalam “abstrak”. Pembaca dengan sendirinya memasuki ke dua unsur tersebut. Membentuk unsur baru kearah lebih nyata. Karena, dunia irrasional dan rasional dalam novel tersebut, merupakan pemikiran kritis seorang pengarang, dengan membangun rangkaian fisik dan metafisik. Melalui rangkaian peristiwa yang dituangkan kedalam struktur penceriteraan.
Seorang tokoh terkemuka berkebangsaan Rusia bernama Jurich Lotman mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda primer. Dimana karya sastra terlebih dahulu telah mempunyai makna sebelum disusun menjadi karya sastra sebagai sistem tanda sekunder.
Maka karya sastra adalah karya ide bukan hasil dari representasi kenyataan, sebagaimana yang diharapkan dari proses ide tersebut. Karya sastra yang tercipta baik dari proses subjektif penciptaan maupun dari subjektif pemahaman, sehingga kedua unsur tadi tidak secara utuh berhubungan dengan kenyataan yang terjadi ditengah masyarakat. Akan tetapi dari kebenaran nilai-nilai terkandung di dalam masyarakat. ***
Entry filed under: KLIPING. Tags: .
7 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1. hidayah | November 13, 2010 pada 6:31 am
Saya senang membaca buku itu karena saya terharu membaca perjuangan ganet dalam mencari tuhan
2. dianing | November 18, 2010 pada 12:46 pm
Terimakasih mba Hidayah, novel itu sudah habis masa kontrak dengan penerbit, padahal masih banyak yang menanyakan. Insya Allah akan saya revisi ulang untuk diterbitkan kembali. Tentu dengan penerbit baru. Makasih. Salam.
3. shandy | Februari 11, 2011 pada 6:45 am
saya sangat senang dng karya karya yg anda buat
saya mpun sangat senang jika membaca novel ini
4. dianing | Maret 3, 2011 pada 12:16 pm
Makasih mas Shandy.
5. giga rachman | April 1, 2011 pada 3:52 pm
kunjungan malam…numpang baca yaach,,,kebetulan sk baca novel sastra…sgt menarik novelx,,:)
6. dianing | April 12, 2011 pada 3:04 pm
Terimakasih mas Giga sudah berkunjung di sini. Salam.
7. hestu | Desember 30, 2011 pada 11:55 am
cerita dalam novel ini sangat menarikk sekali untuk dibaca..