Cerpen-cerpen Kematian Penulis Perempuan
Mei 27, 2007
Aris Kurniawan,
Cerpenis, pekerja sastra
Sumber: Republika, Minggu, 27 Mei 2007
Dalam khasanah tasawuf kita mengenal terminologi wahdatul wujud, yakni penyatuan antara mahkluk dan khaliknya. Inilah pengalaman spiritual tertinggi seorang sufi. Dalam kondisi demikian batas antara hidup dan mati sangat tipis, bahkan kabur sama sekali.
Dalam konteks itu, sebuah ayat dalam Alquran menyebutkan sesungguhnya seorang sufi ketika ia sahid, justru dia hidup. Engkau tidak mati, melainkan hidup. Sebuah keyakinan yang juga menghidupi kaum fundamentalis — kelompok yang tumbuh di semua agama. Bagi mereka, kematian adalah sesuatu yang harus diraih dengan jalan meledakkan diri sekalipun.
Dengan demikian, kematian tidak dipahami sebagai sesuatu yang mengerikan. Bukan pula sumber bencana dan kesedihan karena ia memisahkan seseorang dengan dunia. Sebaliknya, kematian adalah sesuatu yang dirindukan; ialah ruang lapang yang menghanyutkan jalan kerinduan yang sekian lama ditempuh.
Pikiran di atas itulah yang pertama menyerbu kepala saya ketika membaca judul kumpulan cerpen Kematian yang Indah karya Dianing Widya Yudhistira.
Namun, ternyata bayangan saya salah, meskipun tidak sepenuhnya meleset. Setidaknya, separuh lebih dari 16 cerpen yang termuat di buku tersebut mengangkat problem kematian. Sehingga, pemilihan judul Kematian yang Indah untuk buku ini kiranya cukup mewakili keseluruhan tema yang diapungkan.
Judul buku itu juga kemudian menggiring ingatan saya pada kematian yang ditempuh seseorang yang tak sanggup menanggung aib atau untuk mempertahankan kehormatan dalam tradisi masyarakat Jepang, yang dikenal dengan harakiri. Bagi Dianing, kematian menjadi sesuatu yang wajar ditempuh manakala hidup yang dihadapi tak lagi menyediakan ruang untuk mengungkapkan diri.
Kematian yang ditempuh para tokoh cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini mengisyaratkan kebahagiaan. Paling tidak, ruang lapang yang terhindar dari kesuntukan hidup. Menjadi semacam tempat tamasya. Farid, dalam cerpen Kematian yang Indah (yang dijadikan judul buku) adalah laki-laki yang mengalami kehampaan dan didera rasa salah berlarut-larut.
Hamparan usia yang dijalani Farid memberinya pengalaman melulu kehilangan. Kematian demi kematian senantiasa merenggut setiap orang yang dicintainya dengan cara yang tragis dan mengenaskan. Farid merasa dirinyalah yang menyebabkan kematian demi kematian yang merenggut mereka.
Kenyataan itu membuat Farid takut untuk kembali mencintai seseorang sehingga Farid memutuskan untuk tidak pernah lagi mencintai. Dari sinilah perasaan hampa dan percuma menyerangnya dengan hebat yang pada gilirannya mengantarkannya pada satu kesimpulan fatal: dirinya harus menyudahi pula hidupnya.
Farid kemudian memilih cara mati yang menurut dirinya indah: berlayar ke laut lepas tanpa bekal apa-apa. Tentu kematian serupa itu tidaklah indah, setidaknya jika kita melihat motifasi yang mendorongnya terjadi. Saya kira cara pandang Dianing yang seorang perempuan sangat kentara merasuki cara berpikir Farid: sentimental, sedikit melankolis. Inilah tipikal karakter tokoh-tokoh dalam cerpen Dianing.
Cara pandang serupa itu sering kali menghadirkan jalinan plot cerita yang tidak logis. Tengoklah misalnya perempuan tua bernama Jumilah, tokoh utama dalam cerpen 37 Tahun Lalu. Jumilah memilih mati nelangsa dalam gubuk di pinggir rel kereta. Padahal ia mewarisi rumah besar dari seorang suami yang digambarkannya sebagai pedagang sukses yang tewas di dalam tokonya yang terbakar. Perkawinan Jumilah dengan laki-laki ini memang dari perjodohan orang tua.
Awal-awal perkawinan diceritakan Jumilah menyia-nyiakan cinta laki-laki itu yang begitu besar terhadapnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Jumilah mulai memaafkan keadaan dan menerima cinta laki-laki penyabar dan berhati malaikat itu. Kehidupan rumah tangga mereka sempat katakanlah bahagia.
Tidak masuk akal keputusan Jumilah meninggalkan rumah besar warisan suaminya dengan alasan untuk menebus rasa bersalah. Apalagi dengan ending cerita yang begitu tragis: Jumilah mati mengenaskan dalam gubuk butut di pinggir rel kereta api. Kematian serupa ini tentu jauh dari kesan indah. Justru memperlihatkan kenaifan cara berpikir.
Pada cerpen Pernikahan Angin yang bercorak surealis, tokoh aku narator yang telah mati, atas bantuan seekor burung hantu mengajukan permohonan kepada Tuhan untuk dikembalikan ke dunia. Diceritakan, Tuhan menunda pengadilan akbar bagi aku narator yang berkehendak kembai ke dunia untuk melihat laki-laki yang dicintainya, Lismatano.
Namun, ketika kehendak itu terwujud aku narator ingin segera kembali karena mendapati kekasihnya itu berzina dengan perempuan lain. Kematian aku narator terkesan ujug-ujug, dan hanya untuk membangun suasana mencekam namun sayangnya gagal direngkuh. Kesan ujug-ujug serupa ini menghinggapi hampir seluruh cerpen. Tokoh yang hadir terkesan tidak utuh, bahkan ada yang tidak jelas fungsinya.
Kelancaran membuat narasi tampaknya juga masih menjadi problem. Dianing kerap memakai kata sambung yang kurang efektif, misalnya, Sejak penolakan itu, Jumilah menjadi buah bibir orang-orang di kampungnya. Ia dianggap sombong sekaligus bodoh: dilamar sama anak orang kayak kok ditolak. (cerpen 37 Tahun Lalu). Atau, jual beli tanah itu sendiri disaksikan oleh Pak Lurah (cerpen Tanah).
Perhatikan kata sambung sama dan oleh pada kutipan di atas, kurang fungsional. Pada cerpen Ayam Jago, kita menemukan satu paragraph yang bertumpuk dan memperlihatkan kalimat yang tidak efisien seperti ini:
Mulanya kegemaran menyabung ayam itu hanya sekadar iseng dan hanya dilakoni oleh beberapa saja. Itu pun dilakukan oleh beberapa orang saja pada hari hari Minggu. Sementara warga yang lain menonton.
Kegagapan atau kekurang cermatan dalam membuat kalimat ini boleh jadi karena Dianing terlalu ingin mendesakkan pesan. Cerpen, dan teks sastra lainnya adalah medan pergulatan pemikiran pengarang dengan bahasa, imajinasi, logika.
Di dalam medan pergulatan ini anasir pesan kadang memang dapat mencelakakan teks menjadi segumpal risalah dakwah dan mengabaikan kompetensi literer. Namun, anasir pesan sebetulnya tetap mampu dihadirkan tanpa merusak teks jika pengarang terlebih dahulu meletakkan cerita pada substansinya: yakni bahasa yang dalam dirinya memiliki banyak kemungkinan.
Secara umum, cerpen-cerpen Dianing telah mampu menghadirkan cerita secara indah. Dunia lain yang memberi kekayaan lain pada pembacanya. Ia menawarkan tema yang agak berbeda meskipun terlampau klise. Dalam konteks tema-tema yang menjadi arus besar perempuan pengarang belakangan ini, Dianing cukup memberi warna lain.
Di tengah gemuruh perempuan pengarang yang meneriakkan seksualitas, Dianing, mencoba menyempal. Bagi Dianing menulis bukan sekadar menumpahkan ide, melakukan pemberontakan, ataupun sebagai lahan mencari penghasilan saja.
Tetapi, lebih dari itu, sebagaimana ditulisnya dalam pengantar buku ini, Dianing ingin menggugah pembaca pada satu kesadaran betapa sebagian besar masyarakat kita tengah menghadapi persoalan paling mendasar dalam kehidupannya, yakni sekadar bertahan untuk hidup. Sebagian besar masyarakat kita tidak membutuhkan diajari melakukan ekplorasi dan berfantasi seksual.
Demikianlah Dianing. Kehadirannya melengkapi deretan perempuan pengarang yang terus bertumbuhan dan secara perlahan makin jelas meletakkan dirinya dalam peta sastra Indonesia. ( )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=294557&kat_id=364
Entry Filed under: KLIPING. .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1. nurhidayah | Desember 18, 2008 at 6:13 am
hai
2. dianing | Desember 18, 2008 at 2:24 pm
hai juga… makasih…. salam.
3. nitha | Juni 17, 2009 at 9:51 am
Assalamu\’alaikum Kak..
Salam kenal dari aq…
Wassalam.
4. dianing | Juni 29, 2009 at 6:23 am
Salam kenal juga. Terimakasih ya, sudah berkunjung ke blog saya. Salam.