Ayam Jago

Mei 23, 2007 at 11:17 am 6 komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Lampung Post, Minggu 27 April 2003

SEORANG laki-laki muda menyeka keringatnya dengan sapu tangan. Lukman nama laki-laki itu. Ia baru saja tiba di kampung. Tujuh tahun, ia tidak pulang, menjadi santri di sebuah kota di Pulau Sumatera. Ia berharap kepulangannya dapat melunaskan rindunya pada tanah kelahiran.

Tidak banyak perubahan yang ditemuinya. Jalan kampung yang dilalui untuk sampai ke rumah masih tetap di lapisi tanah bukit, yang kalau hujan akan sangat licin, dan apabila tidak hati-hati orang akan mudah sekali terpeleset, terutama kalau berjalan di malam hari. Rumah-rumah penduduk masih tetap terbuat dari papan seadanya, bahkan dari tepas bambu dengan atap daun rumbia.

Di depan mushala Lukman termangu. Bangunan fisik mushala itu memprihatinkan. Dinding mushala di sana-sini mengelupas. Teras mushala tampak kotor dan berdebu, atapnya berlubang-lubang, beberapa pecahan genting berserakan di tanah. Pintunya tertutup.

Lukman melangkah. Membuka pintu mushala. Tercium bau tak sedap di dalamnya. Lantai kotor. Sebuah almari tua dan berayap teronggok di sudut mushala. Sejenak ia lirik arlojinya. Waktu Zuhur telah tiba. Ia ingin sekali mengumandangkan adzan. Sayang, ia tak menemukan pengeras suara di mushala itu. Lukman menghela nafas. Ia mulai merasakan ada beban dalam benaknya.

Lukman sedih. Masa kecilnya terbayang jelas. Ia pertama kali mengenal huruf-huruf Al-Quran di tempat itu. Tiap malam, sehabis shalat magrib, ia selalu mengaji bersama teman-temannya. Atau kalau sore, tiga kali seminggu, ia juga suka ikut ibunya ke pengajian ibu-ibu. Meskipun ia tidak paham isi pengajian mereka, karena yang mereka telaah, selain Al-Quran, adalah kitab-kitab.

Setelah ibu-ibu menyelesaikan satu-dua ayat Al-Quran dan beberapa halaman kitab, ustadz Hamid dengan suara yang lantang dan bagus menjelaskan inti-inti masalah yang telah dibacakan oleh ibu-ibu dalam Al-Quran dan kitab itu.

Ketika ia menanjak remaja, selain ada pengajian malam hari buat anak-anak, juga ada pengajian mingguan yang diikuti oleh para remaja, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki diajari oleh Ustadz Hamid. Sementara bagi remaja putri yang menjadi guru mengaji adalah ibunya Lukman sendiri.

Suatu kali, ia dimarahi oleh ibunya, karena sambil ngaji ia suka menggoda Murni dengan kedipan matanya. Entah bagaimana, tiba-tiba ibunya memergoki Lukman mengedipkan matanya pada Murni. Ia malu sekali. Pada saat itu, ibunya tetap diam dan meneruskan mengajar. Tetapi begitu sampai di rumah, sebuah jeweran mendarat di kupingnya.

“Kamu masih kecil. Umurmu baru empat belas tahun. Belum pantas suka sama perempuan.”

Lukman malu sekali pada saat itu. Sebenarnya, ia ingin mengatakan sejujurnya pada ibu, bahwa ia senang pada Murni. Murni cantik. Rambutnya panjang, kulitnya putih dan halus. Gadis itu memang tidak pernah ke sawah — ayahnya adalah seorang pemilik tanah, dan sawah-sawah ayahnya digarap oleh orang lain — karena itu kulitnya jarang dibakar matahari sebagaimana kebanyakan gadis-gadis lain di kampungnya. Ia membayangkan suatu saat Murni akan menjadi kekasihnya.

Bayangan itu kemudian memang menjadi kenyataan. Orang-orang menyebut hubungan mereka adalah cinta monyet, yang tidak perlu dipandang sebelah mata pun. Tetapi hubungan mereka yang manis itu terdengar oleh keluarga Murni. Ayahnya, Pak Samad, marah besar. Pak Samad pun mendatangi orangtua Lukman dan menegaskan sikapnya bahwa mereka tidak setuju hubungan Murni dengan Lukman. Kata Pak Samad, Murni masih kecil. Belum pantas pacaran.

Sejak itu, Murni tidak boleh lagi mengikuti pengajian pada hari Minggu pagi. Praktis, Lukman tidak pernah ketemu lagi dengan Murni. Lukman sendih, masa depannya seolah hancur. Seorang kerabat ibu yang tinggal di sebuah kota di Pulau Sumatera suatu kali datang, dan mengajak Lukman ikut bersamanya, sekaligus menjadi santri pada sebuah pesantren disana. Lukman setuju. Ayah dan ibunya pun gembira.

* * *

Kampung itu telah berubah. Lukman tidak habis pikir. Bagaimana mungkin orang-orang bisa hidup hanya dengan manyabung ayam. Tetapi itulah kenyataannya. Mereka tidak perduli lagi dengan kebun-kebun mereka. Menurut ibu, kebiasaan mereka itu mulai berlangsung dua tahun lalu. Tidak jelas siapa yang memulai.

Mulanya kegemaran menyabung ayam itu hanya sekedar iseng, dan hanya dilakoni oleh beberapa orang saja. Itu pun dilakukan oleh beberapa orang saja pada hari Minggu. Sementara beberapa yang lain menonton.

Lama kelamaan, orang-orang yang menonton jadi banyak. Lama-kelamaan pula, orang-orang yang menonton itu juga tertarik untuk ikut menyabung ayam. Jadi tiap hari Minggu, orang-orang khusus menyediakan waktu dari pagi sampai sore khusus untuk menyabung ayam. Mereka tinggalkan semua kegiatan mereka sebagai petani di sawah atau di kebun.

Kegilaan mereka makin hebat sejak setahun lalu. Mereka tidak lagi menggunakan hari Minggu untuk kegemaran itu, tetapi tiap hari. Tempatnya pun tidak lagi terpusat di tanah lapang, tetapi di hampir setiap gang, jalan, dan di halaman-halaman rumah penduduk.

Bentuk taruhan yang mereka pasang tidak lagi hanya berbentuk uang sepuluh-dua puluh ribu rupiah, tetapi hitungannya sudah sampai beberapa gram emas. Karena itu, mereka pun berlomba-lomba untuk mendapatkan ayam jago paling hebat. Dan untuk itu mereka tak segan-segan menjual sebidang tanah, sawah atau kebun untuk mendapatkan ayam jago itu.

Tidak seorang pun bisa mencegah, termasuk Lurah Samad, maupun isteri-isteri mereka. Setiap kali Lurah Samad mengingatkan, selalu dijawab dengan ketus oleh mereka: “Apakah perbuatan kami ini membuat Pak Lurah menderita. Pak Lurah tidak usah ikut campur. Yang memilih Pak Lurah adalah kami. Kalau Pak Lurah macam-macam, kami bisa menurunkan Pak Lurah dan memilih lurah baru.”

Lurah Samad memang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga ngeri kalau-kalau warganya itu nekat mendemonya ramai-ramai, dan menurunkannya dari jabatan itu. Kalau itu terjadi, tentu akan sangat memalukan sekali. “Turun sebelum masa jabatan habis adalah musibah paling besar. Salah satu cara untuk menyelamatkan jabatanku adalah dengan membiarkan mereka meluapkan kegemaran menyabung ayam. Jabatanku masih lebih penting dari sekedar hobi menyabung ayam,” pikir Lurah Samad.

Tidak tahan melihat pemandangan seperti itu tiap hari, Lukman mendatangi Lurah Samad dan mendesaknya untuk mencegah kebiasaan menyabung itu. Namun Lurah Samad justru marah-marah pada Lukman. “Saya tidak bodoh. Saya tahu bahwa perbuatan itu tidak baik. Tetapi saya mau bilang apa, mereka sendiri maunya begitu. Sebagai pemimpin yang diangkat oleh mereka, saya harus tunduk pada keinginan mereka. Lagi pula apa rugi kamu kalau mereka menyabung?”

Lukman menelan ludah. Ia tidak menyangka Lurah Samad akan bersikap seperti itu. Ia pusing. Tidak ada lagi orang yang bisa diajak berpikir waras. Satu-satunya tempat ia menumpahkan segala uneg-unegnya adalah ayah dan ibunya. Tetapi mereka sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak mungkin berhadapan dengan orang ramai. Salah-salah mereka bisa mati konyol.

* * *

Usai shalat dzuhur, Lukman dikejutkan oleh suara perempuan berteriak-teriak.

“Jono sekarat. Jono sekarat ditikam Warno.”

Tanpa sempat berdoa, ia menghambur ke luar. Sejumlah orang, laki-laki, perempuan ikut berlari pula seolah mengejar perempuan itu.

Jono adalah teman Lukman semasa kecil dulu. Beberapa bulan lalu, Jono tunangan dengan Murni, gadis yang dulu pernah ditaksir oleh Lukman. Kabarnya, habis lebaran nanti mereka akan menikah. Tetapi apa yang terjadi sebenarnya? Tak lama terlihat ayah dan Ibu Murni berboncengan menderu cepat. Tampak mereka juga terburu-buru.

Kemudian tampak Marto dan Hanif berjalan tergesa-gesa pula, sambil memperbincangkan apa yang terjadi pada Jono.

“Jono ditikam karena tidak mau membayar taruhannya,” kata Marto.

“Bukan tidak mau membayar. Tetapi Jono tidak punya uang lagi, karena ayamnya sudah kalah terus-menerus,” jelas Hanif.

“Ayam si Jono memang membawa sial.”

“Katanya ia membeli ayam seharga dua ratus ribu di kecamatan seberang.”

“Meski dibeli dua ratus ribu, tetapi ayam itu tidak pandai bertarung. Belum-belum sudah lari.”

“Berarti Jono yang tidak tahu memilih ayam yang hebat.”

“Iya, Jono memang bodoh. Mestinya ia minta tolong Pak Tohir kalau memang mau membeli ayam jago. Supaya bisa tahu mana yang bisa berkelahi dan mana yang tidak. Sehingga tidak tertipu.”

“Kang Tohir memang jago memilih ayam. Tetapi ayamnya juga selalu kalah.”

* * *

Lukman tertunduk lesu begitu mendengar kabar dari ibunya yang baru pulang daru pasar. Jono tidak bisa diselamatkan. Lukanya terlalu parah, darahnya terus mengucur. Ia kehabisan darah. Warno kini sudah ditangkap polisi. Polisi juga melarang penyabungan ayam di kampung itu.

Lukman gembira dengan larangan itu. Ia membayangkan bagaimana indahnya melihat orang-orang beriringan pagi-pagi pergi bertani ke sawah dan kebun dan pulang ketika matahari rebah ke barat. Lukman juga membayangkan mushala di dekat rumahnya akan kembali ramai.

Tetapi ia sedih: Murni akan sangat kehilangan Jono. Tiba-tiba ia ingin mendampingi Murni, dan menghapus air matanya. ***

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Boneka Adik

6 Komentar Add your own

  • 1. nofri yanto  |  Oktober 1, 2009 pukul 3:14 am

    hai… ceritamu cukup bagus, apalagi ada ayam-ayamnya.kebetulan saya juga suka ayam,mulai dari telor sampe pada kakinya hahahahah….maksudnya dibikin sup kaki ayam.

    Balas
    • 2. dianing  |  November 22, 2009 pukul 2:24 pm

      He he …

      Balas
  • 3. arya  |  Agustus 7, 2010 pukul 2:27 pm

    judi dalam bentuk apapun memang selalu buat sengsara,makanya dilarang agama.

    Balas
    • 4. dianing  |  Agustus 13, 2010 pukul 1:35 am

      Iya mas Arya, terimakasih.

      Balas
  • 5. Junaidi Kotamobagu  |  Agustus 31, 2010 pukul 1:31 pm

    Asslm.MAs gimana cara rawat ayam jago?by junaidi kotamobagu

    Balas
    • 6. Anonymous  |  September 1, 2010 pukul 2:23 am

      yo kei sperma ben kuat

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 83,840 kali

Kategori

Halaman

TWITTER: @dianingwy


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: