Kakiku Luka

nawangSERING tampil membaca puisi baik untuk acara di sekolah, dan di pentas-pentas RT membuat aku jadi lebih dikenal orang. Karenanya RT lainpun suka memintaku untuk ikut menyumbang baca puisi untuk pentas tujuhbelasan. Aku ingat begitu bulan agustus tiba, bapak akan kedatangan tamu dari panitia tujuhbelasan dari beberapa RT. Tanpa persetujuanku, bapak akan bilang kalau aku bisa. Aku mau. (lagi…)

Add comment Juli 6, 2009

Berawal dari Puisi

nawangAku tidak tahu persis sejak kapan menyukai puisi. Seingatku waktu kelas tiga atau kelas empat sekolah dasar, di buku pelajaran bahasa Indonesia terdapat puisi berjudul Menyesal. Penulisnya Ali Hasjmy. Mudah-mudahan aku nggak salah menulis namanya. Oleh guruku semua siswa disuruh maju ke depan kelas untuk membacakan puisi itu.
Tiba giliranku, aku membacanya dengan sangat senang. Beberapa hari kemudian, aku menjadi salah satu siswi yang dipilih untuk mengisi acara perpisahan kelas enam. Aku dapat tugas membaca puisi. Sejak itu kalau ada lomba baca puisi antar SD, aku selalu diikutkan. Lama-lama aku jadi kenal beberapa nama penyair. Seperti WS. Rendra dengan karyanya “Gugur”, Sapardi Joko Damono, Sutardji Calzoum Bachri juga nama-nama lainnya. Aku juga mulai suka mengumpulkan karya-karya mereka. Membacanya dengan suara keras saat menjaga warung. Sering pembeli warung ikut teriak memanggilku.
“Wid, mau beli.” Sejenak aku taruh lembar puisi. Sekarang aku sering baca puisi keras-keras sambil menjaga warung. Tak jarang para pembeli, nyeletuk ”bengak-bengok koyo wong edan.” Teriak-teriak seperti orang gila. Aku tak peduli, yang penting aku senang. (lagi…)

Add comment Juli 5, 2009

Warung dan Koran Bekas

nawang Dulu ketika kanak-kanak hingga remaja aku tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dengan teman-teman di kampung. Aku kurang suka bergaul dengan teman-teman, tetapi bukan berarti aku sombong. Ini mungkin dikarenakan letak rumahku yang di tepi jalan raya, bukan di dalam gang. Kalau di dalam gang kan enak, kita keluar pintu rumah saja sudah ketemu tetangga kita. Kita duduk di teras saja, ada orang lewat lalu saling bertegur sapa. (lagi…)

Add comment Juli 4, 2009

Pororo

LIBURAN telah tiba. Libur panjang, teramat panjang menurutku. Tiga minggu. Biasanya anak-anak akan jenuh bila terlalu lama di rumah. Biasanya pagi hari mereka sudah disibukkan dengan persiapan berangkat sekolah, dari mandi pagi sampai makan pagi. Libur artinya, mereka punya banyak waktu tanpa kegiatan belajar di sekolah.
Praktis pagi hari mereka sudah dihadapkan pada layar televisi. Salah satu hiburan yang mudah diakses, selain jaringan internet. Untuk menu tontonan di televisi, aku sudah tak khawatir. Rizki lebih suka melihat acara starkids di ANTV yang banyak memutar film anak. Salah satunya film kartun Pororo, yang diputar setiap pagi pukul tujuh. Sibungsu Edgin pun ikut-ikutan gandrung dengan little penguin produksi Korea itu. (lagi…)

2 comments Juni 29, 2009

Bangkit

WAKTU liburan sekolah di ambang pintu. Libur kenaikan sekolah ini selama tiga minggu. Artinya anak-anak di rumah dalam waktu lama. Seringkali membuat aku pening, Maghfira sama Rizki seringkali bikin gaduh kalau sedang bermain bersama. Sebentar akur, sebentar kemudian ramai. Kadang masalahnya berebut mainan atau salah satu diantara keduanya ada yang kurang sportif. Biasanya Rizki yang suka curang. Misal dia kalah ketika suit bersama, tetapi tidak mau mengakui, lalu meminta suit diulang lagi. Soal makan, jika liburan tiba aku mesti lebih cerewet. Bila mereka masuk sekolah, jam enam pagi sudah makan, bila libur bisa sampai jam delapan baru mau makan. (lagi…)

Add comment Juni 25, 2009

Sakit

SENANG. Edgin sudah sehat kembali setelah tiga hari sakit. Aku bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Mengerjakan pekerjaan rumah juga menulis. Hanya saja waktu terasa lama bergerak karena tak sempat menulis juga tak sempat ngobrol dengan Mbak In. Sekarang ini Edgin tengah pulas. Senang banget melihat dia bisa tidur nyenyak, sebelumnya gelisah. Wajahnyapun tak cerah, layu. Aku ingin sekali ketemu Mbak In, tetapi itu tidak mungkin karena Edgin tengah pulas. Ya sudah deh, baca-baca aja, mo nulis siang begini gak konsen. (lagi…)

Add comment Juni 18, 2009

Usil

AKU sedang berada di rumah Mbak In, ketika Bu Tutik datang ke rumah Mbak In. Pagi itu masing-masing dari anak-anak kami sudah masuk sekolah, jadi ada waktu untuk berkunjung ke tetangga. Aku sendiri mengembalikan piring yang kemarin Mbak In bawa ke rumah untuk menaruh Gethuk.
Mbak In menyambut riang kedatangan tetangga lain gang itu, tetapi wajah bu Tutik kok sama sekali tak riang. Wajahnya malah masam, nggak enak dipandang mata. Setahuku bu Tutik sedang merenovasi rumahnya. Bu Tutik menambah lantai atas. Rumahnya dibikin berlantai dua. Seyogyanya bu Tutik bahagia, sedang berlimpah rezeki. Rumahnya jadi mentereng, ini kok malah manyun. (lagi…)

Add comment Juni 16, 2009

Menjadi Tua

MEMILIKI tiga anak dengan sibungsu berusia satu tahun tujuh bulan, terasa sulit menemukan waktu santai seusai subuh, apalagi ketika terlambat bangun. Alamat raga tak bisa menikmati hamparan langit biru juga udara pagi yang segar. Memang setelah berkeluarga dan memiliki anak-anak usia sekolah kondisinya beda jauh ketika masih lajang. Dulu bangun tidur aku tak perlu ke dapur, karena emang belum ada yang memerlukan perhatianku. Sekarang harus memikirkan anak-anak. Repot tetapi menyenangkan. Demikian juga dengan waktu menulis. (lagi…)

Add comment Juni 12, 2009

Novel Terbaru Saya

Novel Nawang

Ini novel terbaru saya. Sebetulnya lebih tepat disebut novel saya yang baru terbit. Sebab, ada sejumlah novel saya yang lain sudah selesai dan menunggu terbit. Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Menurut Nawang, perempuan tak sekedar pelengkap dalam rumah tangga. Ia adalah seseorang yang berhak menentukan hidup dan cita-citanya sendiri. Perempuan harus maju. Perempuan harus berjuangan untuk mewujudkan impian dan cita-citanya. (lagi…)

2 comments Juni 4, 2009

Cinta

TIGA hari tak bertemu dengan mbak In, terasa sangat lama. Tetangga sekaligus sahabatku yang akhlaknya mulia itu memang sudah seperti menjadi bagian dalam hidupku. Selama hampir sepuluh tahun tinggal di sini, hanya dia tetangga yang bisa memberi nilai-nilai kemanusiaan terhadapku. Dalam arti mbak In nggak pernah ikut-ikut cerewet mengatur aku agar pergi ke masjid, ikut volley ball untuk lomba agustusan atau ikut ini, ikut itu di RT. Orang aku paling nggak bisa diatur, kok disuruh ini disuruh itu. Piye jal? (lagi…)

5 comments Juni 3, 2009

Previous Posts


INI BUKU SAYA, BACA YA…

Novel ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Pernah dimuat bersambung di Republika. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.




Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel ini bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang, dibalut dengan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo dan di toko-toko buku online.

PALING BARU

PALING DIBACA

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

KOMENTAR

Blogroll

MEDIA CETAK

NOVEL

PENGELOLA

TELAH DIBACA

Halaman

Meta