novel weton

Add comment November 16, 2009

Saat Sakit Mendera

ANAK adalah harapaa n bagi setiap orangtua, apa yang dirasakan anak akan dirasakan juga oleh setiap orangtua. Saat anak sehat kita tenang melihatnya, sebaliknya ketika anak sakit kita sering dibuat panik. Dan bertanyalah makna sehat pada sisakit, kira-kira sisakit akan menjawab bahwasannya sehat itu menyenangkan, sementara sakit bikin kita menderita.
Sakit yang didera Bagus dalam novel Weton, Bukan Salah Hari memang sakit yang biasa diderita anak-anak kecil, yakni demam. Demam ini menjadi tak wajar ketika Bagus sering sakit. Sosok Bagus sebenarnya saya angkat dari serpihan keseharian saya ketika menghadapi Rizki, anak kedua saya yang laki-laki. (lagi…)

Add comment Desember 29, 2009

Khilaf Tak Mungkin Datang Berkali-kali

ADA yang agak aneh dengan Mama Dipo dan Bu Neneng. Mereka tampak tak harmonis seperti biasanya. Biasanya hubungan mereka ibarat kopi dan gula. Tak ada Bu Neneng terasa tak lengkap tanpa Mama Dipo. Keduanya teramat dekat, suka tuker-tukeran makanan atau lauk pauk. Tak jarang Bu Neneng suka meminta sayur kalau kehabisan sayur, demikian juga dengan Dipo. Dipo sering ditraktir jajan sama Bu Neneng.
Akhir-akhir ini Mama Dipo tampak sekali menghindar jika ada Bu Neneng. Demikian juga dengan Bu Neneng, ia suka mengumpat Mama Dipo ketika tak ada orangnya dan ketika ada orang lain berdekatan dengan Bu Neneng. (lagi…)

Add comment Desember 22, 2009

Anak Sumber Inspirasi

ANAK bagi saya merupakan sumber inspirasi dalam berkarya. Saya yakin anak juga penyemangat bagi setiap orangtua untuk lebih giat bekerja. Tak jarang dari kita sangat mendambakan kehadiran anak dalam pernikahannya. Sebuah pernikahan akan hambar tanpa adanya anak. Orantua tak pernah berpikir dua kali untuk mendapatkan anak, tak pernah mengeluh karena repot atau akan kehilangan waktu bermain dengan rekan kerja. Pendek kata anak anugrah terindah.
ADA pameo Jawa yang sampai sekarang masih suka bikin saya menebak-nebak, yakni ungkapan banyak anak banyak rezeki. Adakah ungkapan ini benar atau sebaliknya, saya pikir tergantung dari pendapat setiap individu. (lagi…)

Add comment Desember 21, 2009

Pembantu Juga Manusia

RIMA seperti biasa datang ketika Fira dan Rizki baru saja berangkat sekolah. Asisten saya yang sudah hampir satu tahun membantu saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini termasuk orang yang disiplin. Ia datang selalu di jam-jam seperti ini, begitu datang langsung mencuci baju yang sebelumnya sudah saya rendam dengan deterjen. Saya yang di dapur karena memasak sambil mencuci piring, sering tak mendengar ucapan salamnya saat datang. Maklum tempat mencuci baju kami bikin di samping rumah sebelah kiri, sedang dapur ada di bagian rumah paling belakang.

Rima ini asisten saya yang entah keberapa kali. Saya memang sering gonta-ganti asisten sejak Asih, asisten pertama saya keluar dari saya karena ibunya yang sakit-sakitan. Ketika itu Asih memegang dua rumah di saya dan tetangga saya. Semula ia ingin berhenti di tetangga saya saja, dan ingin bekerja di satu rumah saja. Alasannya karena dia pertama kali bekerja di rumah saya. (lagi…)

2 comments Desember 17, 2009

Weton, Bidan dan Dokter

BIDAN selalu menjadi andalan utama bagi masyarakat untuk meminta pertolongan saat seorang ibu hendak melahirkan anak. Tak jarang masyarakat di kampung-kampung jika anaknya demam atau sakit apa saja juga mengunjungi bidan untuk berobat, padahal mestinya ke dokter. Sugesti yang tumbuh di hati masyarakat membuat si anak sehat kembali.

Masih ingat dengan rumah kuno yang saya jadikan sebagai rumah Sayuti di novel Weton kan? Rumah yang berada persis di mulut gang belimbing. Nah jika kita masuk ke dalam akan ada sebuah rumah yang rindang berpagar tinggi bagian belakang rumah. Maklum rumah ini bersebelahan dengan sungai yang mengalir menuju ke laut. Rumah ini berada di urutan kedua dari mulut gang. Inilah rumah milik Bidan Tin. (lagi…)

Add comment Desember 16, 2009

Bersimpatilah Dengan Tulus

SEMALAM ketika hendak mengunci pintu pagar, iseng-iseng saya melongok ke ujung gang. Lorong atau gang di tempat saya tinggal malam itu sudah senyap. Pukul sebelas lewat, saya yang terbiasa menulis sambil menunggu suami pulang akan terbiasa tidur di atas jam sebelas. Kalau pun saya mematikan komputer pukul sembilan dan masuk kamar pukul itu juga, saya susah sekali terpejam.

Saya kembali ke pagar rumah dan menarik pagar untuk bisa dikaitkan pada gembok, tetapi suara mobil yang dari rumah Bu Rina mengusik keinginan saya untuk melihatnya. Saya urungkan niat mengunci pagar.
“Ngapain Wid jam segini mau dikunci pagarnya, masih sore.” Saya hanya mendengarkan saja ucapan suami saya itu dan memperhatikan suami Bu Rini yang tengah mengeluarkan mobil dari garasi. Tak lama kemudian Bu Rini keluar rumah sambil memegangi perutnya, disusul Tania yang duduk di kursi belakang. Saya menautkan kening. Malam-malam begini keluar rumah? Astaga. Portal sudah saya kunci ketika suami pulang barusan. Kunci portalnya pun masih berada dalam saku saya. (lagi…)

Add comment Desember 15, 2009

Parkir Mobil

SEJAK memiliki mobil tabiat Bu Neneng tambah oke. Dari cara berjalan saja orang sudah cukup untuk geleng-geleng kepala. Begitu angkuh dan tambah tak mengenakkan saja tingkah lakunya. Setiap kali Rina keluar rumah ada komentar keluar dari mulutnya. Dari soal dandanan Bu Rina yang sangat sederhana sampai belanjaan yang dibawanya. Sepertinya apa saja yang dilakukan Bu Rina selalu Bu Neneng kritik. Tragisnya saya tetangga yang hampir persis berhadapan rumah dengannya, sering mendengar kalimat-kalimat Bu Neneng yang menyakitkan itu.

Bu Neneng juga seperti tak punya hati. Dia mengumpat habis Bu Rina ketika Cantika, anak keduanya jarinya kecepit pintu pagar Bu Rina. Ceritanya Bu Rina sedang asik mempersiapkan pesanan beberapa taplak meja besar dari sebuah salon. Suaminya yang hendak mengantar Bu Rina sempat membuka pintu pagar beberapa senti saja, karena keburu ada telepon masuk. (lagi…)

1 comment Desember 13, 2009

Tuhan Hanya Memberikan yang Terbaik

LAGU Jangan Menyerah milik D’ Masiv senantiasa membuat hati saya lebih tenang tatkala mendengarnya. Lirik dan nada lagu yang lembut tetapi sarat nasehat itu mampu membuat saya untuk merenung. Bahwasannya hidup tak semudah membalikkan telapak tangan, bahwasannya manusia hanyak makhluk yang fana. Tak lepas dari rasa kecewa.

Nawang saya gambarkan sebagai perempuan yang tegar dalam hidupnya, tetapi ia tetap manusia biasa. Memiliki sifat peragu, mudah menangis saat impiannya meleset dari kenyataan. Nawang adalah sebuah pribadi yang komplit. Kadang lembut tetapi suatu saat bisa meledak karena amarah. Saya pikir sifat-sifat yang manusiawi. (lagi…)

Add comment Desember 12, 2009

Hijauya Rumput Tetangga

AKHIRNYA setelah tiga tahun terbengkalai, Bu Neneng melanjutkan renovasi kamar dan garasinya, dengan tukang-tukang yang baru lagi. Kali ini memakai dua tukang. Yang satu berusia setengah baya, Kamil begitu namanya dan yang satunya masih remaja. Hm untuk yang masih remaja ini memiliki tampang setampan Tommy Page, yang bikin hati Angie tertarik dan akrab dengannya.
Bu Neneng tampak sangat senang dengan renovasi rumah kali ini. Ia begitu akrab dengan kedua tukangnya dan keluargana. Istri dan anak Kamil sering main ke rumah Bu Neneng, mereka disambut dan diperlakukan seperti keluarga sendiri. Angie pun akrab dengan Puput anak Kamil yang masih lima tahun. Angie sendiri punya adik perempuan masih berusia satu tahun. (lagi…)

Add comment Desember 8, 2009

Tetangga Paling Unik

TETANGGA saya yang paling unik adalah Bu Neneng. Ibu yang satu ini paling heboh dalam segala hal. Dia paling suka bikin pesta. Anak naik kelas dia undang tetangga untuk makan-makan, suami berhasil mendapatkan sesuatu dalam pekerjaannya mengundang tetangga makan-makan. Ulangtahun anaknya luar biasa sibuknya. Di depan rumah dipasang tenda, persis orang hajatan anak khitanan. Bedanya yang datang anak-anak kecil usia belasan tahun. Sulungnya Angie genap duabelas tahun.
Bu Neneng orang yang paling tua dibanding kami. Dia kelahiran tahun enampuluh lima, sementara kami rata-rata lahir di tahun tujuhpuluhan. Karena merasa tua itulah dia memanggil dirinya dengan panggilan ibu. Otomatis kami memanggilnya dengan embel-embel ibu, padahal diantara tetangga kami saling memanggil mbak, atau nama anak dengan embel-embel mama di depannya. (lagi…)

Add comment Desember 7, 2009

Novel Nawang ke Panggung Teater

BELUM lama ini saya dipertemukan kembali dengan teman-teman saya semasa di Semarang dulu. Kami berteater dan menghidupi diri dari menulis ke media masa sebagai penulis lepas. Kami sama-sama di teater Aktor Studio pimpinan Djawahir Muhammad. Sudah belasan tahun saya tak bertemu dengan beliau. Baru ketemu teman-teman saja. Bertemu kembali lewat facebook emang surprais. Saya sering nggak mengenali teman, baru sadar ketika teman itu menulis di wall saya. Saya jadi kangen ingin berteater lagi.
Terlebih sehari sebelumnya, satu permintaan masuk dalam layar facebook saya, isinya meminta izin mengangkat novel Nawang ke panggung teater. “Mbak Dian aku minta izin nih…aku akan menteatrikalkan novel Nawang, boleh gak mbak. Kebetulan aku bergelut di dunia seni teater dan sangat tertarik mbak hal itu,” begitu kurang lebih kalimatnya. (lagi…)

Add comment Desember 3, 2009

Tuhan Tidak Butuh Sapi

SATU pekan ini tak jumpa dengan Mbak In kok rasanya seperti satu tahun nggak ketemu. Maklum Mbak In tetangga sekaligus teman ngobrol yang asik buat saya. Selalu nyambung ngobrol dengan dia dan selalu seru plus selalu dapat mengambil hikmah. Satu lagi dan ini yang paling penting, jauh dari menggunjing.

Saya sejenak menengok ke rumah Mbak In sambil membeli sayuran dan ikan segar yang berhenti tak jauh dari rumah Mbak In. Sepertinya belum tampak kalau Mbak In sudah pulang, ia memang sedang pulang kampung. Orangtua Mbak In hendak menunaikan ibadah haji, Mbak In ditelepon langsung untuk pulang. Praktis suami yang super sibuk hanya menemani sampai bandara saja. Nggak mungkin lah usaha ditinggal lama. Saya akhirnya pulang dengan kegiatan memasak di dapur. Kali ini bikin sayur jamur, ma wortel plus bakso. Ikannya ikan bawal. Semalam sibungsu pesan minta dibikinin agar-agar dikasih santan. Oke deh. Memasak jadi asik kalau saya sambil menghidupkan komputer untuk facebookan. Maklum biar pun ibu rumah tangga, dan hanya tinggal di rumah, saya kan pengen gaul. (lagi…)

3 comments Desember 1, 2009

Selendang Kado dari Budhe

SRI yang lembut tapi kuat dalam memegang keyakinannya, tak tunduk untuk menyerah pada weton merupakan tokoh perempuan yang mampu berdiri di depan mengambil keputusan. Termasuk menikah dengan kekasihnya tanpa persetujuan sekalipun rintangan menghalang.
Lalu apa hubungannya selendang pemberian budhe dalam novel Weton. Selendang dalam novel Weton, Bukan Salah Hari ini merupakan salah satu peranti Sri. Selendang ini sendiri mengingatkan saya pada salah satu kerabat dari mbah putri atau nenek saya. (lagi…)

Add comment November 30, 2009

Melati yang Ayu

KEARIFAN lokal, kemiskinan yang membelit, juga isue perempuan selalu menarik untuk saya angkat dalam novel. Novel-novel saya selalu membicarakan tiga hal ini, tak kecuali novel Nawang.
Novel Nawang berisi tentang kehidupan sosial masyarakat Batang dan di Jawa pada umumnya. Salah satu tokoh dalam Nawang adalah Melati, adik bapak yang jika dipandang dari status sosialnya termasuk keluarga miskin. (lagi…)

Add comment November 29, 2009

Daging Qurban

SETIAP tahun umat muslim sedunia akan merayakan hari besar Idul Adha. Bagi mereka yang mampu secara mental dan finansial akan berangkat ke tanah suci. Melakukan napak tilas kembali dari perjalanan para nabi. Dari seluruh ritual haji, puncaknya adalah shalat Idul Adha yang kemudian dilanjutkan dengan pemotongan daging qurban.
Ritual pemotongan daging qurban berupa hewan ternak seperti sapi dan daging berawal dari kisah nabi Ibrahim. Diriwayatkan bahwa nabi Ibrahim dikenal sosok yang suka berkorban, mensedekahkan harta kekayaannya untuk para fakir miskin. Suatu ketika ada yang mengagumi sikap kedermawanan sang nabi, hingga nabi Ibrahim berujar jangankan hanya harta benda, kalaupun dikaruniai anak ia rela mengorbankan anaknya.

Ucapan nabi Ibrahim itu rupanya dicatat oleh malaikat Allah atas perintah Allah. Lahirlah Ismail dari istri Ibrahim meski pun usia Ibrahim waktu itu sudah tua. Ibrahim sangat menyanyangi Ismail, hingga akhirnya datang perintah Tuhan agar Ibrahim menyembelih Ismail. Ibrahim sempat bimbang karena perintah itu datang melalui mimpi, hingga bertanya pada Ismail. Ismail dengan mantap mengiyakan perintah itu. Singkat kata Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan dengan menyembelih Ismail sebagai tanda ketakwaannya terhadap Tuhan. (lagi…)

Add comment November 28, 2009

Alue Vera

SOSOK Sri dalam novel Weton, Bukan Salah Hari saya gambarkan sosok perempuan yang ayu. Salah satu kelebihannya ada pada rambutnya. Terurai panjang, hitam dan bercahaya. Sri rajin merawat rambutnya dengan daging alue vera atau lidah buaya.
Dulu bulek suka menanam lidah buaya untuk merawat rambutnya yang selalu digerai. Bulek memang suka memanjangkan rambut sampai ke punggung. Bulek termasuk kembang desa di kampung, he he. Setidaknya ini menurut pengamatanku semasa kecil dulu. Setiapkali aku diajak bulek jalan-jalan ke Alun-alun Batang selalu saja ada pemuda yang menggoda bulek. Bulek hanya menanggapinya sambil tersenyum dan berlalu begitu saja.
Suatu ketika kami hendak kliwonan, tiba-tiba ada yang menyenggol lengan bulek. Tanpa aku duga bulek mengambil batu yang ada di rel kereta api dan dilempar dengan emosi penuh, ke pemuda yang menggodanya. Pemuda itu kena dan dihampirinya bulek, aku takut bukan main, tetapi bulek dengan percaya diri memarahi pemuda itu. Orang-orang tertuju ke kami. Waktu itu aku masih di bangku sekolah dasar. Bulek memang cantik, ayu tetapi paling tak suka diremehkan. (lagi…)

Add comment November 25, 2009

Arisan

SENJA sebentar lagi merambat ke malam ketika saya dan ibu-ibu yang lain beranjak dari rumah Bu Sarah. Kami baru saja melakukan ritual bulanan di lingkungan RT kami, arisan RT. Arisan yang diikuti lebih limapuluh orang itu selesai dalam kurun waktu dua tahun. Saya selalu kebagian di akhir-akhir arisan selesai, dan senja kali ini adalah arisan terakhir untuk periode tahun 2007-2009.
Arisan kali ini sekaligus acara halal bihalal, jadi hampir seluruh ibu-ibu peserta arisan hadir. Menunya pun menggoda, lontong lengkap dengan opor ayam. Minuman berupa es buah segar. Makanan kecil berbagai kue-kue kering dan basah. Terasa mewah menu konsumsi arisan kali ini. (lagi…)

Add comment November 24, 2009

Previous Posts


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

PALING BARU

PALING DIBACA

ARSIP

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

KOMENTAR

Blogroll

MEDIA CETAK

NOVEL

PENGELOLA

TELAH DIBACA

Halaman

Meta