novel weton

Add comment November 16, 2009

Ke Bangkok

MENULIS itu asyik, contohnya seperti saya. Biar pun hanya ibu rumah tangga yang tinggal di rumah saya bisa menumpahkan perasaan-perasaan saya lewat tulisan, berbentuk novel misal. Saya tetap bisa berkarya sambil menemani anak-anak di rumah. Hobi yang saya tekuni ini ternyata mendapat apresiasi dari penggiat teater. Novel saya Nawang diangkat ke pentas teater. Alhamdulillah. (lagi…)

Add comment Februari 9, 2010

Weton dan Jodoh

Weton dan Jodoh

Novel WETON, Bukan Salah Hari saya angkat dari kebiasaan masyarakat Jawa dalam menyikapi weton. Karenanya tak jarang ada pembaca yang merasa jalinan cerita dalam Weton memiliki kesamaan dengan nasibnya. Salah satunya gagal menikah meski sudah lama menjalin kasih, hanya karena weton tak cocok.
Weton memang akan menghadang bagi setiap pasangan yang ingin menikah, terutama dalam keluarga Jawa yang masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap weton. (lagi…)

Add comment Februari 5, 2010

Mendengar

MENDENGARKAN pembicaraan orang lain merupakan perbuatan yang kurang menyenangkan bagi orang lain, tetapi ada kalanya kegiatan nguping atau sembunyi-sembunyi mendengarkan pembicaraan orang sering dilakukan oleh Mukti. Tokoh utama dalam novel WETON yang suka sekali nguping pembicaraan orangtuanya. Nguping yang ia lakukan masih nguping yang sehat, dalam arti ingin tahu masalah apa tengah mendera orangtua dan keluarganya. (lagi…)

2 comments Februari 1, 2010

Keunikkan Diantara Kita

SEORANG teman lama datang berkunjung ke rumah. Sebelumnya memang sudah berjanji ingin bertemu. Cukup lama kami tak berjumpa meski sama-sama tinggal di Jakarta. Saya sendiri tak yakin teman saya itu akan memenuhi janjinya untuk datang ke rumah mengingat kesibukkannya sebagai wartawan sepertinya tak mungkin. Beberapa kali kami berjanji untuk bertemu beberapakali juga kami membatalkan janji bertemu karena ada sesuatu hal. (lagi…)

2 comments Januari 21, 2010

Hidup Untuk Bekerja

JIKA ingin kaya jadilah pedagang, begitu nasehat yang saya dengar saat remaja dulu. Saudara saya, baik bulek dan adik-adik memilih berdagang daripada bekerja di perkantoran. Keluarga saya memang keluarga pedagang, hanya saya yang keluar dari kebiasaan mereka malah jauh, yakni jadi penulis puisi. Tentu awal-awal kepenulisan saya penuh ritangan. Tak satu pun keluarga mendukung termasuk bapak saya. Hanya ibu yang memberi saya lampu hijau untuk menekuni dunia kepenulisan, hingga akhirnya saya berani menuliskan profesi novelis di belakang nama saya. (lagi…)

Add comment Januari 19, 2010

Menyajikan Kota Batang

INI merupakan pengalamanyang membuat saya bertanya, apakah Batang itu betul-betul kota yang tak dikenal di peta Indonesia. Ceritanya saya baru pindah rumah, untuk memangkas rambut sebenarnya saya tak terbiasa gonta-ganti salon tetapi kondisi membuat saya mengunjungi salon terdekat yang notabene adalah tetangga saya.
Kami ngobrol panjang lebar mengenai pengalaman kami masing-masing dari masa-masa mengontrak rumah sampai ke masalah anak-anak. Hingga lawan bicara saya bertanya dari mana asal saya. Saya menyebut Batang, dia sendiri berasal dari Surabaya.
“Masak sih Mbak dari Batam kok dialek mbak Jawa banget,” celetuknya mendengar jawaban saya yang berasal dari kota Batang.
“Batang mbak, Pekalongan ya jelas to medok Jawa.”
“Ooh.” (lagi…)

Add comment Januari 14, 2010

Sembunyikan Pemberian Kita

TAHUN baru segalanya serba baru termasuk pengurus RT juga kartu iuran RT, kartu SPP TPA, dan ada satu lagi yang bikin saya menautkan kening. Kartu warna biru laut yang diedarkan pengurus masjid. Kartu yang ditandatangani banyak pengurus serta mengutip ayat Alqur’an untuk mengajak seseorang untuk beramal.
“Kalau ada uang Fir sumbangin ke masjid, kalau nggak ada ya nggak usah” ujar bu Nadine yang juga guru ngaji di TPA dekat rumah. Kadang orang setengah kaya ini kalau bicara suka menyakiti perasaan. Sudah memanggil saya dengan nama anak doang, memberi kartu amal dengan kalimat rada-rada meremehkan saya. Bujubune tenan dia. (lagi…)

2 comments Januari 13, 2010

Khitan

KHITAN sangat dianjurkan dalam Islam, ternyata untuk menghindarkan kaum laki-laki dari penyakit yang membahayakan seperti gangguan ginjal atau kanker kulit. Khitan seringkali diikuti dengan membuat pesta yakni mengundang tetangga untuk datang ke rumah dengan jamuan makan siang juga makanan kecil lainnya. Tak jarang pula yang hanya dilakukan dengan biasa-biasa saja, tanpa menyelenggarakan pesta.
Masih ingan dengan Bagus dalam novel WETON, Bukan Salah Hari? Ia harus dikhitan meski masih sangat muda untuk ukuran kebiasaan Batang. Bagus masih berusia balita ketika dikhitan. Di novel Weton itu saya gambarkan bagaimana tegangnya Sri saat harus menemani Bagus saat dikhitan. (lagi…)

Add comment Januari 8, 2010

Janganlah Mengambil Hak Orang Lain

PAGI belum beranjak ke siang ketika salah satu tetangga saya berkunjung ke rumah. Saya juga baru saja selesai memasak. Tetangga saya itu setengah berkeluh kesah dengan saya, dia bilang ibunya tengah bermasalah dengan kakak kandung sendiri. Saya sejenak mengabaikan pekerjaan rumah. Memberi ruang serta waktu untuk tetangga saya sekedar berbagi cerita. Saya lihat wajahnya begitu muram.
“Bermasalah dengan saudara kandung kan biasa mbak, lumrah dalam keluarga.” Tetangga saya duduk bersebelahan dengan saya meski beda kursi. Ia mengambil bantal yang saya taruh di kursi dan menaruhnya di atas pahanya sambil setengah memeluk bantal. (lagi…)

Add comment Januari 7, 2010

Pentingnya Khitan

ISLAM mengajarkan kepada pemeluknya untuk mengkhitankan setiap anak laki-laki. Dulu semasa saya masih remaja hanya mengetahuinya saja secara sepintas, tetapi setelah berkeluarga dan memiliki anak laki-laki baru saya memahami pentingnya khitan. Khitan dimaksudkan untuk membuang atau memotong ujung maaf alat kelamin laki-laki agar tidak ada kesempatan bagi kuman-kuman tumbuh dan berkembangbiak. Kuman-kuman itulah yang memungkinkah seseorang bisa mengalami kerusakan pada ginjal bahkan bisa sampai kanker kulit. (lagi…)

Add comment Januari 5, 2010

Saat Sakit Mendera

ANAK adalah harapaa n bagi setiap orangtua, apa yang dirasakan anak akan dirasakan juga oleh setiap orangtua. Saat anak sehat kita tenang melihatnya, sebaliknya ketika anak sakit kita sering dibuat panik. Dan bertanyalah makna sehat pada sisakit, kira-kira sisakit akan menjawab bahwasannya sehat itu menyenangkan, sementara sakit bikin kita menderita.
Sakit yang didera Bagus dalam novel Weton, Bukan Salah Hari memang sakit yang biasa diderita anak-anak kecil, yakni demam. Demam ini menjadi tak wajar ketika Bagus sering sakit. Sosok Bagus sebenarnya saya angkat dari serpihan keseharian saya ketika menghadapi Rizki, anak kedua saya yang laki-laki. (lagi…)

Add comment Desember 29, 2009

Khilaf Tak Mungkin Datang Berkali-kali

ADA yang agak aneh dengan Mama Dipo dan Bu Neneng. Mereka tampak tak harmonis seperti biasanya. Biasanya hubungan mereka ibarat kopi dan gula. Tak ada Bu Neneng terasa tak lengkap tanpa Mama Dipo. Keduanya teramat dekat, suka tuker-tukeran makanan atau lauk pauk. Tak jarang Bu Neneng suka meminta sayur kalau kehabisan sayur, demikian juga dengan Dipo. Dipo sering ditraktir jajan sama Bu Neneng.
Akhir-akhir ini Mama Dipo tampak sekali menghindar jika ada Bu Neneng. Demikian juga dengan Bu Neneng, ia suka mengumpat Mama Dipo ketika tak ada orangnya dan ketika ada orang lain berdekatan dengan Bu Neneng. (lagi…)

Add comment Desember 22, 2009

Anak Sumber Inspirasi

ANAK bagi saya merupakan sumber inspirasi dalam berkarya. Saya yakin anak juga penyemangat bagi setiap orangtua untuk lebih giat bekerja. Tak jarang dari kita sangat mendambakan kehadiran anak dalam pernikahannya. Sebuah pernikahan akan hambar tanpa adanya anak. Orantua tak pernah berpikir dua kali untuk mendapatkan anak, tak pernah mengeluh karena repot atau akan kehilangan waktu bermain dengan rekan kerja. Pendek kata anak anugrah terindah.
ADA pameo Jawa yang sampai sekarang masih suka bikin saya menebak-nebak, yakni ungkapan banyak anak banyak rezeki. Adakah ungkapan ini benar atau sebaliknya, saya pikir tergantung dari pendapat setiap individu. (lagi…)

Add comment Desember 21, 2009

Pembantu Juga Manusia

RIMA seperti biasa datang ketika Fira dan Rizki baru saja berangkat sekolah. Asisten saya yang sudah hampir satu tahun membantu saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini termasuk orang yang disiplin. Ia datang selalu di jam-jam seperti ini, begitu datang langsung mencuci baju yang sebelumnya sudah saya rendam dengan deterjen. Saya yang di dapur karena memasak sambil mencuci piring, sering tak mendengar ucapan salamnya saat datang. Maklum tempat mencuci baju kami bikin di samping rumah sebelah kiri, sedang dapur ada di bagian rumah paling belakang.

Rima ini asisten saya yang entah keberapa kali. Saya memang sering gonta-ganti asisten sejak Asih, asisten pertama saya keluar dari saya karena ibunya yang sakit-sakitan. Ketika itu Asih memegang dua rumah di saya dan tetangga saya. Semula ia ingin berhenti di tetangga saya saja, dan ingin bekerja di satu rumah saja. Alasannya karena dia pertama kali bekerja di rumah saya. (lagi…)

4 comments Desember 17, 2009

Weton, Bidan dan Dokter

BIDAN selalu menjadi andalan utama bagi masyarakat untuk meminta pertolongan saat seorang ibu hendak melahirkan anak. Tak jarang masyarakat di kampung-kampung jika anaknya demam atau sakit apa saja juga mengunjungi bidan untuk berobat, padahal mestinya ke dokter. Sugesti yang tumbuh di hati masyarakat membuat si anak sehat kembali.

Masih ingat dengan rumah kuno yang saya jadikan sebagai rumah Sayuti di novel Weton kan? Rumah yang berada persis di mulut gang belimbing. Nah jika kita masuk ke dalam akan ada sebuah rumah yang rindang berpagar tinggi bagian belakang rumah. Maklum rumah ini bersebelahan dengan sungai yang mengalir menuju ke laut. Rumah ini berada di urutan kedua dari mulut gang. Inilah rumah milik Bidan Tin. (lagi…)

Add comment Desember 16, 2009

Bersimpatilah Dengan Tulus

SEMALAM ketika hendak mengunci pintu pagar, iseng-iseng saya melongok ke ujung gang. Lorong atau gang di tempat saya tinggal malam itu sudah senyap. Pukul sebelas lewat, saya yang terbiasa menulis sambil menunggu suami pulang akan terbiasa tidur di atas jam sebelas. Kalau pun saya mematikan komputer pukul sembilan dan masuk kamar pukul itu juga, saya susah sekali terpejam.

Saya kembali ke pagar rumah dan menarik pagar untuk bisa dikaitkan pada gembok, tetapi suara mobil yang dari rumah Bu Rina mengusik keinginan saya untuk melihatnya. Saya urungkan niat mengunci pagar.
“Ngapain Wid jam segini mau dikunci pagarnya, masih sore.” Saya hanya mendengarkan saja ucapan suami saya itu dan memperhatikan suami Bu Rini yang tengah mengeluarkan mobil dari garasi. Tak lama kemudian Bu Rini keluar rumah sambil memegangi perutnya, disusul Tania yang duduk di kursi belakang. Saya menautkan kening. Malam-malam begini keluar rumah? Astaga. Portal sudah saya kunci ketika suami pulang barusan. Kunci portalnya pun masih berada dalam saku saya. (lagi…)

Add comment Desember 15, 2009

Parkir Mobil

SEJAK memiliki mobil tabiat Bu Neneng tambah oke. Dari cara berjalan saja orang sudah cukup untuk geleng-geleng kepala. Begitu angkuh dan tambah tak mengenakkan saja tingkah lakunya. Setiap kali Rina keluar rumah ada komentar keluar dari mulutnya. Dari soal dandanan Bu Rina yang sangat sederhana sampai belanjaan yang dibawanya. Sepertinya apa saja yang dilakukan Bu Rina selalu Bu Neneng kritik. Tragisnya saya tetangga yang hampir persis berhadapan rumah dengannya, sering mendengar kalimat-kalimat Bu Neneng yang menyakitkan itu.

Bu Neneng juga seperti tak punya hati. Dia mengumpat habis Bu Rina ketika Cantika, anak keduanya jarinya kecepit pintu pagar Bu Rina. Ceritanya Bu Rina sedang asik mempersiapkan pesanan beberapa taplak meja besar dari sebuah salon. Suaminya yang hendak mengantar Bu Rina sempat membuka pintu pagar beberapa senti saja, karena keburu ada telepon masuk. (lagi…)

2 comments Desember 13, 2009

Previous Posts


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

PALING BARU

PALING DIBACA

ARSIP

KALENDER

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

KOMENTAR

Blogroll

MEDIA CETAK

NOVEL

PENGELOLA

TELAH DIBACA

Halaman

Meta