Memperbarui Persepsi Tentang Ganja
Judul buku: Hikayat Pohon Ganja
Penulis : Tim LGN(Lingkar Ganja Nusantara)
Tebal : 352 halaman + xiii
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : November 2011
Ketika mendengar kata “ganja” orang langsung terlempar pada stigma: pohon haram yang bisa membuat penggunanya mabuk dan lupa daratan. Ganja lalu dilarang dan digolongkan dalam jenis narkotika. Undang-undang Republik Indonesia No. 35 tahun 2009 tentang narkotika memasukkan ganja dalam salah satu narkotika golongan 1, bersama kokain, dan berbagai turunan opium seperti heroin dan morfin.
(lagi…)
Asisten Rumah Tangga
LIBURAN tiba. Bukan anak-anak sekolah saja yang gembira, ibu-ibu seperti saya juga gembira. Setiap pagi bisa lebih santai sedikit. Bangun siang sedikit boleh, masak siang sedikit boleh, nggak masak juga boleh. Di warung makan sudah tersedia berbagai masakan, kita tinggal memilih yang kita suka. (lagi…)
Sembilu
MATAHARI runtuh di kepala laki-laki berwajah tirus itu. Toko bahan bangunan yang bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan ludes. Api tanpa belas kasih menghanguskan semua harapan. Semua yang ada di depannya tinggal asap dengan ekor putihnya yang muncul dari sela-sela reruntuhan.
Dari sela-sela benda yang hangus itu tampak benda putih kecil kehitaman bopeng di sana-sini. Pelan-pelan laki-laki itu membungkukkan badannya. Mengambil benda itu dan menidurkannya di telapak tangannya. Menggenggamnya. Ia merasakan kehangatan di telapak tangan itu menghunjam ulu hatinya.
(lagi…)
Uban dan Keriput
MINGGU pagi lalu saya gamang untuk ikut senam bersama dengan tetangga di lapangan bulu tangkis di blok sebelah. Sehari sebelumnya saya sudah bersemangat untuk mengikutinya, tetapi kondisi tubuh nggak memungkinkan. Badan satu ini terasa dipukuli orang se RT. Ups. Nggak gitu kali yaa.
(lagi…)
Ranah Pribadi di FB
SEJAK kenal facebook atau FB, tiada hari tanpa nulis status. Tak terkecuali saya. Tak jarang saya suka melihat-lihat status teman saya. Ada banyak tema dijadikan status, dari tema pendidikan, geliat politik terkini sampai seluk beluk dapur.
(lagi…)
Seni dan Olahraga
AKHIR-akhir ini perhatian kita tertuju pada pesta Sea Games yang dibuka dengan perayaan sangat megah, saking megahnya mampu memunggungi realitas sosial kita. Saya menautkan kening. Tak perlu jauh untuk menemukan kaum dhuafa. Tak jauh dari tempat saya tinggal kegetiran begitu nyata. Anak-anak terhenti langkahnya untuk sekolah, karena ketiadaan biaya.
(lagi…)
Qurban dengan uang, mengapa tidak?
PAGI. Aku ke ruang depan begitu terdengar salam. Mbak In dengan kantung kresek hitam berdiri di depanku, begitu pintu terbuka.
“Jeng mau daging yaa…” Aku menautkan kening. Kemarin sore kurang lebih sekilo daging yang diberi pak RT saja belum dimasak. Aku persilahkan mbak In duduk. Ia menuju ke kursi sambil mengeluh bingung. Daging 4 kg yang ia dapat dari masjid, sekolah anaknya, dan kantor suami itu mau diapakan.
Pasalnya ia merasa tak berhak mendapatkan daging qurban.
“Saya sudah masak Jeng. Untuk apa daging ini.” Aku diam lalu duduk di samping mbak In dengan meja perantaranya. Suasana hening sejenak.
(lagi…)
Engkau adalah Rumah
MATAHARI pecah di kepalaku. Kebahagiaan di depan mata itu, engkau hancurkan Layla. Tanggal pernikahan yang kita sepakati bagai mainan bagimu. Ponselmu tak pernah aktif. Apartementmu kosong. Teman-teman kantormu hanya bilang kamu pindah tanpa meninggalkan alamat kerja baru. Kedua orangtuamu, saudaramu hanya mengangkat bahu ketika aku tanya keberadaanmu.
(lagi…)
Sayangi Anak Kita
SAYA menghela napas ketika mbak In datang ke rumah dengan wajah menyimpan masalah. Ada apa gerangan yang tengah membelit pikiran mbak In hingga ucapan salam yang ia sampaikan terucap lirih. Aku membalas salamnya dengan lirih pula seolah larut dengan wajahnya yang muram.
Aku enggan bertanya sama mbak In. Lebih baik aku bikinkan dia segelas kopi Ulee Kareng dicampur dengan susu kental putih. Mantabs. Tapi baru hendak melangkah ke dalam, mbak In mencegahku dan duduk di ruang tamu.
“Aku hanya sebentar Jeng, sebentar lagi mengantar Najwa ke sekolah.”
“Paud Melati?” Mbak In mengangguk.
“Biasanya Lila yang mengantar Najwa.”
“Itu dia Jeng saya ini sedang bingung.”
“Kenapa?” Saya kemudian duduk.
(lagi…)
Menikah
Dianing Widya Yudhistira
AKU menggeleng tegas di depan Indra. Dari air mukanya aku tahu jelas langit telah runtuh dalam tubuhnya. Lamarannya aku tolak. Aku menolaknya bukan karena wajahnya yang pas-pasan, bukan juga karena dia pemuda tanpa penghasilan. Postur tubuhnya tinggi atletis, dengan hidung mancung serta bola mata yang mampu menggetarkan rasaku. Aku sering dibuatnya cemburu jika ia tengah berbincang-bincang dengan teman perempuan di kantorku.
Ia laki-laki yang hampir tanpa cela. Jenjang pendidikannya lebih tinggi dari aku yang sarjana. Aku memang lebih menyukai laki-laki yang tingkat kecerdasannya di atasku, bukan di bawahku. Laki-laki atau suami bagiku bukan sekedar teman hidup di rumah, melainkan pendukung karir istri.
Indra sosok paling ideal. Ia sangat peduli dengan isu-isu perempuan. Ia sangat mendukung perempuan dalam berkarya.
“Aku ingin istriku kelak bukan istri yang pekerjaannya di dapur melulu, tetapi istri yang mau tampil ke depan.” Ucapnya suatu ketika. Saat itu aku membayangkan betapa senangnya jika punya suami seperti Indra.
Lalu apa alasanku menolak Indra? Ini masalahnya. Aku seringkali melihat sosok bapak ada pada setiap laki-laki. Entah berapa laki-laki yang datang dan pergi dalam hidupku. Aku selalu menjaga jarak jika aku mulai membaca bahasa tubuh laki-laki telah tertarik padaku. Lalu dengan tegas aku menolak jika diajak menikah. Aku takut nasib buruk ibuku diwariskan kepadaku.
* * *
(lagi…)
Rawat Anak Kita dengan Cinta
MINGGU pagi itu, kami keluar rumah di kawasan Depok menuju Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Kami ingin menikmati hari tanpa kendaraan yang jatuh pada Minggu terakhir tiap bulan di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Nah di jalan, beberapa ratus meter sebelum Sudirman, kami singgah di sebuah kedai kecil yang menjual mie ayam.
Sambil menunggu pesanan mie ayam, kami menikmati makanan kecil yang tersedia. Tak jauh dari tempat itu, terdapat satu rumah yang tampaknya merupakan gudang menyimpan barang-barang dagangan. Tempat itu dihuni oleh satu keluarga muda dengan empat anak yang masih kecil.
(lagi…)
Jejaring Sosial
PONSEL saya berdering pendek di awal hari. Isinya memberitahukan tentang undangan menjadi pembicara di sebuah forum diskusi dengan kepenulisan. Sepintas saya berpikir masih lama, dua minggu ke depan lagi. Masih banyak waktu, jadi makalah bisa saya tulis minggu depan saja. Sejenak saya melihat ke kalender, saya menautkan kening. Ternyata sudah Desember. Artinya lagi waktu bukan dua minggu lagi tetapi kurang dari itu.
Saya menghela napas. Betapa waktu tak pernah berjalan, melainkan berlari kencang bagai kuda perang yang terluka.
Perputaran waktu itu pula yang membawa kita ke sebuah era bernama Globalisasi. Era yang jauh berubah dan abad-abad yang lampau. Jika kita tilik fenomena globalisasi dari dari terminologi, globalisasi merupakan hubungan sosial yang intensif dari lokalitas-lokalitas yang ada hingga seluas wilayah di seluruh dunia. Hubungan itu terjalin dengan sangat cepat, berjauhan sedemikian rupa sehingga peristiwa yang sangat jauh keberadaannya, bisa kita akses meski kita berada jauh dari pusat peristiwa.
(lagi…)
Tas Etnik, Yes …
GAYA hidup. Dua kata yang seringkali membawa kita pada kemewahan dan perempuan biasanya menjadi obyeknya. Iklan, televisi dan pergaulan ikut mendorong pola konsumerisme semacam ini. Benda tak lagi cuma dilihat fungsinya, tetapi menjadi pengantar pesan tertentu yang menempatkan seseorang pada level tertentu dalam masyarakat. Tak heran demi mengejar “derajat sosial” itu, orang rela menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk memiliki barang-barang tertentu.
Misalnya gaun atau tas. Siapa tak bangga jika bisa menenteng tas-tas berkelas dengan merk asing semisal Aigner atau Louis Vuitton. Bagi perempuan penggila tas bermerk semacam itu, harga bukan masalah. Seorang karyawan di sebuah perusahaan di Medan misalnya, mengaku harus berpenampilan luks demi menunjang pekerjaannya. Ia tak peduli harus membayar sebesar Rp. 14.000.000 untuk satu tas produk Jerman.
Istri salah satu pejabat di Aceh, seperti ditulis hariansumutpos.com, menenteng tas merk Louis Vuitton seharga Rp. 45.000.000. “Ya kan penampilan saya juga akan mendukung karier suami dengan jabatannya sekarang biar nggak malu-maluin,” ujar Erna. Tapi benarkah tas mahal ikut mempengaruhi citra seseorang atau mampu mengangkat derajat seseorang lebih tinggi daripada mereka yang tampil lebih sederhana? (lagi…)
Ayo Menulis
PAGI itu, setelah kesibukan di rumah sejenak reda, saya meraih sebuah koran yang tergeletak di meja – yang belum sempat saya sentuh sejak diantar loper sekitar pukul enam pagi tadi. Saya memang bangun agak siang. Masih tersisa kelelahan sehabis liburan ke Yogyakarta, saya istirahat sejenak sambil menunggu asisten rumah tangga datang. Bagi anak-anak, ini hari pertama masuk sekolah setelah liburan.
(lagi…)
Meneladani Sahabat Rasul
ISLAM, kristen dan Yahudi merupakan agama wahyu yang turun dari langit melalui nabi dan rasul yang diutus Tuhan, sebagai penerang umat manusia. Tuhan perlu mengutus seorang nabi dan rasul agar manusia bisa mengenal hakikat dirinya sendiri, dan mengenal Tuhan. Dengan memiliki keyakinan yang bermuara pada keesaan Allah, manusia bisa melangsungkan kehidupan yang berbudaya dan beradab.
Dari sekian agama wahyu di atas, hanya Islamlah agama yang diridhai Allah S.W.T, seperti yang termaktub dalam Q.S Al- Maidah 5:3). Jika saja manusia di muka bumi ini menghayati benar ajaran-ajaran Islam yang mulia, terutama para pemimpin niscaya keberkahan dan kemuliaan terwujud. Karena pada pemimpinlah nasib sebuah negeri ditentukan.
(lagi…)
Buku Terbaru Fira Meutia: Asma di Dunia Maya
Maghfira Meutia Dewi (Meutia) kembali meluncurkan buku. Judulnya “Asma di Dunia Maya”. Novel yang berangkat dari pengalamannya berinternet, khususnya conference school itu, diterbitkan oleh devisi KKPK (Kecil-kecil Punya Karya) Penerbit Mizan, Bandung. (lagi…)



KOMENTAR